Profil Kepemimpinan Yohanes Pembaptis

7 05 2010

Seorang pemimpin bisa menimbulkan dua sisi yang kontradiktif. Ia bisa dikasihi atau, sebaliknya, dibenci oleh orang-orang yang dipimpinnya. Kedua sisi yang kontradiktif itu disebabkan oleh berbagai alasan atau motivasi, yang memengaruhi kepemimpinannya. Namun, pembahasan soal ini tidak dapat diuraikan di sini meskipun itu penting. Artikel ini lebih menekankan pada pribadi seorang pemimpin, alih-alih membahas respons terhadap dirinya.

Relasi benci-kasih kepada seorang pemimpin akan menimbulkan pertanyaan: “Apakah sebenarnya tugas dan fungsi seorang pemimpin?” Dari sekian banyak tokoh Alkitab, kepemimpinan Yohanes Pembaptis terkesan sangat menonjol dan dramatis. Dengan pendekatan naratif [1], saya berupaya menyusun suatu potret Yohanes Pembaptis.
Kompleksitas dan keluasan permasalahan menyebabkan data-data awal hanya bersumber pada Injil Yohanes sehingga hasilnya, tentu saja, tidak memberikan gambaran dirinya yang utuh. Namun, sketsa ini paling sedikit dapat mendorong penelitian lanjutan terhadap karakter Yohanes Pembaptis.

Telaah dimulai dari Yohanes 1:1-18, dilanjutkan dengan bagian-bagian lain dalam kitab ini. Kalangan pakar Injil Yohanes lazimnya melabeli bagian 1:1-18 sebagai prolog. Melalui artikel ini, saya ingin menguji apakah prolog itu benar-benar miniatur Injil Yohanes? Jika bagian ini merupakan pemadatan dan ringkasan Injil Yohanes, kitab ini tentu saja merupakan uraian lebih lanjut dari prolog itu. Kita akan menguji tesis ini dengan melihat ciri-ciri pribadi Yohanes Pembaptis di dalam bagian prolog dan Injil Yohanes. Dengan perkataan lain, pertanyaan yang ditelusuri ialah: Apakah prolog tersebut merupakan bagian integral dari Injil Yohanes?

SAKSI SEBAGAI PEMIMPIN

Sebelum dibahas lebih jauh perlu dicatat bahwa Injil Yohanes tidak pernah menggunakan istilah “pembaptis” di belakang nama Yohanes.
Jika demikian, istilah pembaptis itu bukanlah ciri utama pada diri Yohanes. Di dalam prolognya, narator menekankan dimensi yang lain.
Yohanes Pembaptis bukanlah pembaptis atau reformator agama Yahudi.  Ia dilukiskan secara konsisten sebagai saksi (1:6-8, 15, 19, 32, 34; 3:27-36; 5:32, 36; 10:40-42). Sebelum menguraikan ciri-ciri tokoh ini, perlu dijabarkan hubungan di antara saksi dan pemimpin.

Jika ciri utama Yohanes Pembaptis adalah sebagai saksi, bagaimana kita membenarkan gagasan bahwa ia adalah seorang pemimpin? Seperti telah dinyatakan sebelumnya, seorang pemimpin selalu menghasilkan dua sisi yang kontradiktif. Ia dicintai pengikutnya atau dibenci lawannya. Kedua sisi yang kontradiktif ini sangat menonjol pada diri Yohanes Pembaptis. Ia dikasihi dan juga dibenci. Bentuk kebencian terhadap dirinya diungkapkan dalam bentuk perlawanan yang progresif.
Pemimpin agama Yahudi pada awalnya mempertanyakan otoritas dan kewenangannya sebagai pemimpin (1:19-27). Namun, respons kritis itu tidak bersifat bermusuhan, alih-alih sebagai bentuk perlawanan. Ia kemudian dipenjara (3:24).

Murid-muridnya tentu saja mengasihi dirinya. Tetapi, mengapa mereka meninggalkan dia? Karena ia tidak memusatkan semua kegiatan itu pada dirinya atau pengajarannya. Ia tidak menciptakan dan membangun kultus individu. Ia tidak membuat dan melatih pengikut-pengikut yang militan serta setia kepadanya. Ia menyadari bahwa Allah tidak mengutus dia untuk mendirikan suatu sekte ataupun agama baru. Itu bukan tujuannya. Ia diutus Allah hanya sebagai saksi. Ia adalah seorang saksi Kristus, yang kehidupannya merujuk kepada Kristus.

Kemudian, jika murid-muridnya meninggalkan dia, bukan berarti mereka membenci atau memusuhi dirinya. Kasih kepada seorang pemimpin tidak berarti mengkultuskan atau mendewakannya. Kasih kepada seorang pemimpin bukan berarti pemusatan seluruh daya, upaya, dan kharisma di seputar diri pemimpin. Kasih kepada seorang pemimpin berarti melihat dan mematuhi arah yang ditunjukkan dia. Yohanes Pembaptis memimpin murid-muridnya kepada Kristus. Sebagai saksi, ia adalah seorang pemimpin, dan bukan sebaliknya, sebagai pemimpin ia adalah seorang saksi.

Apakah Sumber Otoritas Yohanes Pembaptis?

Sumber pelayanan Yohanes Pembaptis sebagai saksi berasal dari Allah. Ia diutus ke dunia untuk bersaksi bagi Mesias, yang akan datang dan yang sudah datang. Ia menjadi saksi bukan karena keinginan atau keputusan dirinya sendiri; juga bukan karena ia ditugaskan menjadi
saksi oleh sebuah institusi. Ia tidak pernah mengajukan diri untuk dijadikan saksi. Ia harus bersaksi karena Allah mengutus dia (1:6).
Ia dipanggil dan diutus untuk mengerjakan suatu tugas dengan otoritas ilahi, bukan untuk menjadi tokoh reformasi agama dalam masyarakat Yahudi.

Isi kesaksian seorang saksi, tentu saja, tidak berpusat pada dirinya sendiri. Dengan kata lain, ia harus menyampaikan sebuah berita yang bukan mengenai dirinya atau ide-ide teologisnya. Ia hanya menyampaikan sesuatu yang sudah ditugaskan Allah untuk disaksikan kepada orang lain. Jadi, isi kesaksian itu bersumber pada Allah. Ia tidak boleh mengarang, menambahi, atau mengurangi isi kesaksiannya.
Ia harus menyampaikan isi suatu kesaksian sebagaimana yang ditugaskan Allah kepadanya. Tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang.

Apakah itu berarti Yohanes Pembaptis tidak perlu menyiapkan dirinya untuk tugas yang mulia ini? Pemahamannya tentang Kitab Suci sudah cukup mendalam. Dalam suatu diskusi dengan pemimpin-pemimpin agama Yahudi ia mengutip kitab Yesaya (1:23) [2]. Bahkan, ia menafsirkan kitab itu secara kristologis. Tafsiran seperti ini tentu saja agak asing bagi telinga para pemimpin agama Yahudi saat itu. Tetapi, setidaknya terlihat pemahamannya yang mendalam akan Kitab Suci. Bukti lain mengenai pemahamannya akan Kitab Suci terlihat ketika ia memaklumatkan Yesus sebagai Anak Domba Allah, sang Penebus dosa dunia. Latar belakang frasa ini tidak mudah dikenali meskipun para pakar kitab sudah berusaha keras untuk menjelaskannya — hasilnya masih belum memuaskan.

Yohanes Pembaptis pasti memahami fungsi domba dalam sistem ritual agama Yahudi. Ia menambahkan tiga dimensi baru pada fungsi domba ini, yakni bahwa domba itu berasal dari Allah, domba itu untuk menghapus dosa, dan [peran] domba itu tidak sebatas di Bait Suci
orang Yahudi saja melainkan juga untuk dunia. Ia dapat melakukan hal ini karena pemahamannya yang mendalam akan Kitab Suci. Ia membahas sistem kurban dengan tidak ragu-ragu merujuk pada pribadi Yesus. Tampaknya kemudian, inilah alasan mengapa murid-murid meninggalkan Dia karena mereka ingin memahami makna frase ini lebih dalam (1:37).
Tidak diragukan lagi bahwa firman Allah dan tafsiran kristologis terjalin erat dalam pemikiran dan pelayanan Yohanes Pembaptis.

Dalam Yohanes 3:27-36 [3], ia kembali menegaskan bahwa dirinya adalah seorang saksi utusan Allah. Otoritas pelayanan kesaksian yang
dilakukannya bersumber pada Allah. Namun, ia memperluas bagian ini dengan mengatakan bahwa segala sesuatu bersumber pada Allah.
Sebaliknya, manusia tidak memiliki apa pun di dunia ini kecuali yang telah diberikan kepadanya. Manusia datang ke dunia tidak membawa dan memiliki apa pun. Jika ia memiliki sesuatu, itupun sebenarnya bersumber pada Allah. Apa pun yang ada pada diri Yohanes Pembaptis
adalah pemberian Allah. Dengan demikian, ia mengakui bahwa Allah adalah sang Pemilik dan sang Pemberi segala sesuatu. Ia tidak perlu
mengakui dirinya adalah Mesias, nabi, atau jabatan lain, yang tidak ditugaskan Allah kepadanya. Ia tidak merasa perlu untuk mempertahankan “kepemilikan” murid-muridnya. Allah hanya memberi dia tugas sebagai saksi dan apa pun yang diterimanya berkaitan dengan tugasnya sebagai seorang saksi. Semuanya bersumber pada Allah.

Fungsi Yohanes Pembaptis sebagai saksi ditegaskan oleh Yesus (5:33). Jadi, fungsi seorang saksi bukan hanya ditegaskan oleh narator ataupun Yohanes Pembaptis. Yesus menegaskan dia (Yohanes) adalah seorang saksi dalam perbincangan-Nya dengan pemimpin-pemimpin agama. Ia mengingatkan mereka akan Yohanes Pembaptis, yang kesaksiannya telah mereka dengarkan. Yesus bukan hanya mengakui peran Yohanes Pembaptis sebagai saksi, Ia juga bahkan menegaskannya. Orang banyak juga memiliki persepsi bahwa Yohanes Pembaptis adalah seorang saksi (10:41). Mereka melihat kehidupan dan perkataan Yohanes Pembaptis merujuk kepada Yesus, yang membuat banyak orang percaya kepada Yesus (10:42).

Yohanes Pembaptis adalah saksi yang diutus Allah. Ia menyadari dirinya sendiri adalah saksi. Narator, Yesus, dan orang banyak memiliki persepsi bahwa Yohanes adalah seorang saksi. Otoritas kesaksiannya bersumber pada Allah. Tidaklah salah jika Yohanes Pembaptis juga bisa disebut Yohanes sang Saksi.

Catatan kaki:

[1] Mengenai metode naratif, lih. Armand Barus, “Analisis Naratif: Apa dan Bagaimana?,” Forum Biblika 9 (1999) 48-60.

[2] Diskusi mengenai hal ini lihat, misalnya, M.J.J. Menken, Old Testament Quotations in the Fourth Gospel: Studies in Textual Form (Kampen: Kok Pharos, 1996) 21-35.

[3] Pakar Injil Yohanes berbeda pendapat mengenai hal ini.Sebagian (C.H. Dodd, C.K. Barrett) berpendapat bahwa perkataanYohanes Pembaptis berakhir di ayat 36. Sedangkan yang lain (R.Bultmann, R.E. Brown) berpandangan bahwa perkataannya berhenti di ayat 30. Dalam terminologi naratif fenomena ini merupakan bukti “meleburnya” (reflectorization) perspektif narator dengan titik pandang Yesus dan Yohanes.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul buku: VERITAS, volume 3, nomor 1 (April 2002)
Penulis: Armand Barus
Penerjemah: -Penerbit: SAAT — Malang
Halaman: 73 — 78


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: