Yosef, Panutanku

19 03 2010

Jumat, 19 Maret 2010, Pekan Prapaskah IV – Hari Raya Santo Yusuf, Suami Santa Perawan Maria.

Saya harus jujur mengatakan bahwa saya telah mengabaikan Santo Yusuf.  Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya datang ke misa untuk merayakan pesta Santo Yusuf. Hari ini mestinya waktu yang tepat untuk menebus kelalaian itu, sambil mengikuti devosi jalan salib.
Karena setelah saya mencoba untuk mengenal lebih dalam akan sosok seorang Yosef ini, saya memutuskan untuk menjadikan Yosef sebagai panutan saya.

Yosef, panggilan yang lebih akrab bagi saya, adalah sosok yang tidak banyak dikenang. Ia dikenang sebagai tukang kayu yang menjadi ‘ayah asuh’ atau ‘ayah piara’ dari Yesus. Belakangan, setelah berabad-abad kemudian, barulah ia mendapat penghormatan sebagai pelindung gereja universal. Baru pada tahun 1955 yang lalu Yosef diakui secara resmi sebagai pelindung para pekerja, yang diperingati setiap tanggal 1 Mei. Tidak diketahui secara pasti kapan ia meninggal.

Yang diyakini banyak orang bahwa ia tidak sempat menyaksikan Yesus tampil di depan umum untuk melaksanakan karya-Nya. Ia tidak pernah disebut-sebut selama tiga tahun karya Yesus di dunia ini.

Bagi saya, Yosef adalah panutan. Seyogyanya ia menjadi panutan para suami dan para ayah.
Ketika ia mengetahui pacarnya hamil, tentu saja ia marah, sedih, dan merasa dikhianati oleh tunangannya, Maria. Karena kerendah-hatiannya, ia tidak mau mempermalukan Maria di depan umum. Ia memutuskan untuk meninggalkan Maria secara diam-diam.

Tetapi saya yakin, saat itu Yosef tentu diselimuti kebimbangan. Cintanya yang tulus kepada Maria telah membuatnya bimbang, tak percaya Maria telah melakukan pengkhianatan itu. Dan Yosef memutuskan untuk tetap mendampingi Maria, menikahinya.
Seandainya para suami, termasuk saya, bisa seperti Yosef ketika menghadapi kesalahan yang dilakukan pasangannya, tentu banyak pernikahan bisa diselamatkan, apalagi kalau yang dianggap kesalahan pasangan itu ternyata hanya prasangka semata.
Mampukah kita, para suami, bertindak seperti yang dicontohkan oleh Yosef?

Yang sering terjadi, kita begitu mudah menghakimi pasangan sendiri hanya berdasarkan apa yang terjadi, serta merta melupakan ikrar pernikahan di depan Tuhan melalui sakramen pernikahan. Maunya, pasangan kita memaafkan ketika kita melakukan kesalahan, sementara kita sendiri tidak mau memaafkan.

Yosef hidup dalam kemiskinan.
Bagaimana mungkin Tuhan membiarkan ia hidup miskin sepanjang hidupnya? Seandainya Tuhan melimpahi Yosef dengan kekayaan, bisa jadi Yesus akan dibesarkan dengan “gaya hidup orang kaya”, seperti yang saya alami ketika masa kanak-kanak, hidup serba dilayani, bisa mendapatkan apa saja yang saya mau, orang-orang menghormati karena kekayaan yang dimiliki, orang-orang mata duitan datang berduyun-duyun ingin menjadi kerabat, dan seterusnya.

Akan mampukah Yesus, yang juga anak manusia itu, menghadapi sengsara-Nya, menyerahkan nyawa untuk orang lain?
Pada saatnya kita merasa Tuhan tidak mengabulkan permohonan dalam doa-doa kita, “Berilah kami rejeki pada hari ini…”, tengoklah ke dalam diri kita, apa betul Tuhan tidak mengabulkan? Apakah rejeki yang kita maksudkan hanyalah kekayaan duniawi semata?
Bukankah kekayaan non-duniawi lebih berharga?
Seandainya Tuhan memberikan dua pilihan sebagai anugerah kepada kita, kekayaan duniawi atau kesehatan jasmani dan rohani, manakah yang Anda pilih?

Saya pernah mendengar kisah seseorang yang kaya raya tetapi menghabiskan sisa hidup bertahun-tahun di atas ranjang karena sakit yang dideritanya. Saya juga pernah mendengar kisah seorang pemulung sampah yang hidup serba kekurangan, tetapi ia dan keluarganya tetap hidup bertahun-tahun sampai anak-anaknya besar karena setiap harinya ada saja uluran tangan Tuhan yang menyebabkan mereka tetap bisa makan untuk mempertahankan hidup mereka. Di dalam keluarga mereka, tidak ada ambisi yang neko-neko, tidak banyak interaksi dengan orang lain yang seringkali malah menyusahkan.  Mereka berbahagia sesuai ukuran dan takaran yang mereka buat sendiri.

“Sebab itu insaflah dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu, bahwa satu pun dari segala yang baik yang telah dijanjikan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, tidak ada yang tidak dipenuhi. Semuanya telah digenapi bagimu. Tidak ada satu pun yang tidak dipenuhi.” (Yos 23:14)

Kembali kepada Yosef, panutan saya, (dan juga panutan para suami?).
Apa yang disampaikan dalam Yosua 23:14 ini juga terjadi pada Yosef.
Ia hidup dalam kemiskinan, tetapi Tuhan memberinya anugerah istimewa yang luar biasa dan satu-satunya, yaitu mendapat kesempatan membesarkan anak Allah, serta menjadi suami dari Santa Perawan Maria.

Sudahkah Anda temukan, apa anugerah yang telah Tuhan berikan, yang mungkin saja bukan yang Anda inginkan, tetapi pasti yang Anda butuhkan sekarang atau di masa depan, karena Tuhan telah mempersiapkannya untuk Anda. Ber-terimakasih- lah kepada-Nya atas anugerah itu!

Hari ini 2Sam 7:4-5a.12-14a. 16  “Tuhan Allah akan memberikan kepada Dia takhta Daud bapa-Nya.”
Rm 4:13.16-18.22 “Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, Abraham toh berharap dan percaya.”
Mat 1:16.18-21.24a “Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan.”
Hari Raya Santo Yusuf, Suami Santa Perawan Maria

“Semua pengetahuan kita tentang Santo Yusuf, suami Santa Perawan Maria dan ‘Ayah piara’ Yesus, Putra Allah, bersumber pada dua bab pembukaan dari Injil Mateus dan Lukas. Secara hukum, Yusuf dianggap sebagai ayah Yesus. Karena Yusuf adalah turunan Raja Daud, maka Yesus dianggap juga sebagai turunan Raja Daud. Yesus lalu disebut Putra Daud. ”

“Hubungan Yusuf dan Maria lebih daripada suatu hubungan pertunanganan. Hubungan mereka merupakan suatu hubungan perkawinan yang sah, walaupun pada mulanya mereka tidak pernah hidup sebagai suami-istri. Kira-kira selama satu tahun, mereka tidak pernah hidup bersama di bawah satu atap. Ketika Maria mengandung secara ajaib oleh kuasa Roh Kudus, Yusuf bingung dan bermaksud meninggalkan Maria secara diam-diam. Namun Yusuf yang saleh itu tidak percaya akan godaan kebingungan dan kecurigaan terhadap Maria yang sedang hamil itu. Mateus dalam Injilnya mengatakan bahwa Yusuf memutuskan untuk “”meninggalkan Maria secara diam-diam’. (Mat 1:19). ”

“Sehubungan dengan itu, selanjutnya Mateus mengatakan bahwa Allah mengutus seorang malaekat untuk menerangkan kepada Yusuf bahwa anak yang ada di dalam rahim Maria sesungguhnya berasal dari Roh Kudus. Oleh kunjungan malaekat Allah itu dan setelah merenungkan pesan yang disampaikan, Yusuf tanpa ragu-ragu mengambil Maria sebagai istrinya dan mulai tinggal se rumah (Mat 1:24).

Untuk menghindari salah pengertian, Mateus selanjutnya mengatakan bahwa Yusuf bukanlah ayah kandung Yesus. Mateus berkata: ‘la tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki’ (Mat 1:25). ”

“Kata ‘sampai’ yang digunakan Mateus menunjukkan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sebelum Maria melahirkan anaknya. Kata itu pun tidak berarti bahwa setelah Maria melahirkan Yesus, Yusuf bersetubuh dengan Maria. Kata-kata ‘anaknya laki-laki’, bahkan dikatakan ‘anaknya yang sulung’ (Luk 2:7) juga tidak berarti bahwa Maria mempunyai beberapa orang anak. Istilah itu adalah suatu istilah yang lazim dan sah untuk menamai setiap anak laki-laki pertama yang lahir dari suatu perkawinan, meskipun anak itu tidak mempunyai saudara dan saudari. Lukas dalam bab kedua Injilnya menyebut Yusuf dan Maria sebagai orang-tua Yesus (Luk 2:27). ”

“Menurut Mateus, Yusuf adalah seorang tukang kayu (Mat 13:55). Tentang riwayat hidupnya tidak banyak dikisahkan, tetapi diperkirakan Yusuf meninggal dunia sebelum Yesus tampil di depan umum untuk memulai karyaNya. Karena, ia tidak pernah disebut-sebut lagi selama kurun waktu penampilan Yesus itu. Salah satu bukti biblis untuk menunjukkan hal ini dapat ditemukan di dalam lukisan Penginjil Yohanes tentang peristiwa penyerahan Maria kepada Yohanes, murid kesayangan Yesus: ‘Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah la kepada IbuNya: ‘Ibu, inilah anakmu!’ Kemudian kataNya kepada muridNya: ‘Inilah ibumu!’ Dan sejak itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya’ (Yoh 19:26-27).

Teks ini menunjukkan bahwa pada waktu itu Maria sudah menjanda. ”

Cerita-cerita apokrif purba menggambarkan Yusuf sebagai seorang lelaki yang sudah tua, bahkan tua sekali. Cerita ini mau melukiskan bahwa pada waktu itu tak seorang pun menganggap Yusuf sebagai ayah kandung Yesus. Sebaliknya, kehamilan Maria dianggap sebagai suatu peristiwa yang memalukan bahkan merupakan skandal karena Yusuf suaminya dikatakan sudah tua sekali.

“Cerita purba itu pun melukiskan Yusuf sebagai seorang duda yang mempunyai enam orang anak dari perkawinannya yang pertama. Kisah ini dimaksudkan untuk menerangkan bagian Injil yang melukiskan tentang ‘saudara-saudara Yesus’? (Mat 12:46; Yoh 2:12; 7:10). Keterangan yang sebenarnya ditemukan dalam makna kata bahasa Aram yang digunakan Yesus dan murid-murid- Nya. Bahasa Aram menggunakan kata yang sama untuk melukiskan saudara-saudara dan sepupu-sepupu, dan para pengarang Injil mengetahui bahwa hal ini akan berarti dan dipahami oleh umat yang menjadi tujuan penulisan Injil bila mereka menunjuk kepada ‘saudara-saudara Yesus’.

“Yusuf dan Maria benar-benar menikah. Mereka memiliki hak-hak perkawinan secara penuh satu terhadap yang lain seperti lazimnya suami-istri, walaupun mereka sendiri tidak menggunakan hak-hak itu. Alasan pokok teologis mengapa Yesus dilahirkan dari seorang perawan adalah bahwa Pribadi Kedua dalam Tri Tunggal Mahakudus itu telah ada sejak kekal. Kelahiran-Nya sebagai manusia melalui rahim Maria menunjukkan kehendak Allah untuk menjadi seorang anggota umat manusia dalam sebuah keluarga manusia. Yusuf -meskipun bukan ayah Yesus dalam arti fisik -dihubungkan dengan Yesus oleh persatuan rohaniah seorang ayah, kewibawaan dan pelayanan. Yesus termasuk anggota keluarga Yusuf dan hubungan itu diungkapkan dengan menggambarkan Yusuf sebagai ayah piara bahkan ayah Yesus yang sah.

Devosi kepada Santo Yusuf tidak dikenal di dalam Gereja selama berabad-abad. Hal ini dilatarbelakangi oleh suatu kekuatiran bahwa tekanan yang berlebihan pada kedudukan Yusuf dapat menimbulkan anggapan umum bahwa Yusuf adalah ayah kandung Yesus. Dalam praktek sekarang, Gereja menghormati Yusuf karena kekudusan dan martabat Maria sebagai Bunda Yesus, Putra Allah.

Sri Paus Pius IX (1846-1878) pada tanggal 8 Desember 1870 menetapkan Yusuf sebagai pelindung Gereja Universal. Dalam litani Santo Yusuf, Yusuf dilukiskan sebagai pelindung bagi para buruh/karyawan, keluarga, para perawan, orang-orang sakit dan orang-orang yang telah meninggal. la juga dihormati sebagai tokoh doa dan kehidupan rohani, pelindung para fakir miskin, para penguasa, bapa-bapa keluarga, imam- imam dan kaum religius serta pelindung para peziarah.

Pada tahun 1937, Sri Paus Pius XI (1922-1939) mengangkat Santo Yusuf sebagai pelindung perjuangan Gereja melawan komunisme ateistik. Dan pada tahun 1961, Sri Paus Yohanes XXIII (1958-1963) memilih Yusuf sebagai pelindung surgawi Konsili Vatikan II. Nama Yusuf sendiri mulai dimasukkan dalam Kanon Misa pada tahun 1962. Pada abad ke delapan dan ke sembilan, tanggal19 Maret ditentukan sebagai Hari Raya utama Santo Yusuf. Pada tahun 1955, Sri Paus Pius XII (1939-1958) memaklumkan pesta Santo Yusuf Pekerja yang dirayakan pada tanggal 1 Mei. Pesta ini menekankan martabat pekerjaan dan keteladanan Santo Yusuf sebagai seorang pekerja dan untuk menyatakan kembali keikut-sertaan Gereja dalam karya penyelamatan Allah.

Sandy Kusuma – http://www.sandykusuma. info

Advertisements

Actions

Information

One response

23 03 2010
Ali Syarief

haleluya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: