Kesempatan dalam Kesempitan

7 03 2010

Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!

Hidup setiap manusia adalah kesempatan – kesempatan yang amat langka. Coba saja dibayangkan bahwa ada satu dari jutaan sel bisa menembus dan berhasil menjadi embrio. Dalam waktu sembilan bulan sel tersebut berkembang berevolusi menjadi seorang bayi. Dari  1,000 kelahiran di Indonesia 28 bayi tidak bertahan hidup sampai berumur sebulan, bahkan setiap hari 430 bayi mati atau tiap 2,5 menit terjadi kematian bayi [kompas]. Belum lagi banyaknya anak-anak yang mengalami gizi buruk dan mengalami gangguan pertumbuhan karenanya.

Maka kalau kita bisa berada pada titik usia sekian tahun dengan kualitas kehidupan yang relatif baik, semuanya ini patutlah harus disyukuri. Tetapi semuanya ini tidak membuat kita dengan serta merta menerimanya begitu saja – we just take it for granted- Hidup itu anugerah dan hidup itu harus dipertanggungjawabkan untuk setiap kesempatan yang telah kita dinikmati dan dimanfaatkan semaksimal mungkin. Pertanyaannya apakah untuk memuaskan keinginan diri atau untuk membahagiakan orang lain?

Wajar-wajar saja kalau Sang Empunya hidup akan bertanya tentang apa saja yang telah kita lakukan selama ini. Sama halnya seperti seorang pemilik lahan yang mengusahakan kavling-kavlingnya pasti akan menuntut hasil yang maksimal atas jerih payahnya selama ini merawat lahan yang ada. Apalagi kita ini bukan tanaman dan pohon yang berbuah hanya di musimnya. Kita adalah manusia yang diharapkan senantiasa berbuah bila memang sudah tumbuh besar dan mulai bisa menghasilkan segala sesuatu yang baik….. tanpa mengenal musim, tanpa mengenal mood, tanpa beralasan ada hari baik atau hari sial.

Seberapa besar kesempatan yang ada itu tersisa, hanyalah sebuah misteri. Walaupun dalam Maz 90:10 dikatakan usia manusia bisa 70 bahkan 80 tahun, kenyataannya cukup besar jumlah mereka  yang pernah ekarat menjelang 40 tahun karena gaya hidup yang boros tidak seimbang sehingga menumpuk penyakit ditubuhnya. Apalagi kalau menjadi pemakai barang laknat, belum tentu bisa survive sampai usia 40 tahun karena organnya sudah rusak dan aus sebelum waktunya.  Sehingga kesempatan yang ada semakin sempit – sampai kita tidak tahu lagi berapa banyak kesempatan tersedia bagi kita untuk mempersiapkan pertanggungan jawab kepada Sang Pemilik Kebun Anggur.

Masa pertobatan ini mengajak kita mengambil waktu untuk permenungan kembali atas apa saja yang telah kita nikmati dan apa saja yang telah kita perbuat, terutama kepada kepada mereka yang lebih miskin dari kita, yang lapar, menderita dan lebih berkekurangan. Inilah kesempatan kita (dari kesempatan yang tersisa) untuk memperbaiki apa yang harus ditinggalkan dan diubahkan. Waktu yang tinggal sedikit ini harus digunakan dengan penuh rasa tanggungjawab. Puluhan tahun yang telah lewat serasa tinggal sesaat saja, dan kita tidak tahu kapan kita diminta laporan pertanggungan jawab…. Kapanpun itu, waktu itu pasti datang. Bedanya adalah sejauh mana kita mempersiapkan diri karena belum tentu kita punya banyak kesempatan lagi. Only God knows….

===============================================================================================

Bacaan Injil Luk 13: 1-9

Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Yesus menjawab mereka: “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.”
Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!”

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: