Jurang Si Kaya dan Si Miskin

4 03 2010

“Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita”

Apakah menjadi kaya itu berdosa sehingga si orang kaya itu masuk neraka sedangkan si Lazarus yang miskin bisa masuk surga?  Apa yang dilakukan berbeda sehingga kedua orang ini mendapat tempat berbeda di akhirat? Kisah humor tentang surga pernah dilontarkan GusDur saat bertemu dengan Bapak Kardinal.

Saat itu Gus Dur berkata “Bapak Kardinal itu enak kalau nanti naik ke sorga, lebih enak daripada saya”. “Gimana itu Gus’, pertanyaan Kardinal untuk minta penjelasan lebih lanjut. “Di sorga itu yang ada ialah yang tidak ada di dunia ini. Bapak Kardinal tidak nikah alias tidak boleh menikmati perempuan cantik, maka di sorga nanti disediakan perempuan-perempuan cantik dan dengan bebas memilih dan menikmati semaunya, sedangkan saya di dunia ini tidak boleh makan sate babi, maka di sorga nanti paling hanya disediakan sate babi”, demikian penjelasan Gus Dur.

Guyonan ini hanya ingin mengatakan adanya perbedaan ukuran antara bumi dan akhirat membuat jurang yang besar antara keduanya.  Bukan masalah uangnya karena dimana-mana uang itu netral. Uang 6,7 T tentu berbeda artinya bila digunakan untuk membangun infrastruktur di wilayah pedalaman dibandingkan ditangan para koruptor. Yang membuatnya berbeda adalah cara  atau tujuan untuk menggunakannya; apakah untuk meningkatkan kesejahteraan orang banyak atau meningkatkan kesejahteraan pribadi.

Menjadi kaya dalam pandangan orang Yahudi adalah bukti dari rahmat Tuhan – baca Perjanjian Lama pada kitab Ulangan 28- kalau kita dengan sungguh memahami isi Taurat dan melakukannya maka apapun yang dilakukan berhasil. Tetapi sebaliknya kalau tidak dilakukan maka yang terjadi adalah kutuk, termasuk kutuk keturunan alias tidak punya anak. Maka dengan paham ini orang miskin dan mandul sering dianggap dikutuk Tuhan. Disisi lain, para penganut teologi kemakmuran juga beranggapan serupa – menjadi anak-anak Tuhan pasti berkelimpahan materi. Padahal dalam Perjanjian Baru dinyatakan bahwa untuk menjadi pengikut Kristus, kita harus siap memanggul salib. Yesus Kristus datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat tetapi untuk menyempurnakannya. Kita harus siap memanggul salib keinginan menggunakan kekayaan kita untuk kepentingan pribadi. Its ok to be rich, as long as we have the wisdom to use it.

Yang membuat perbedaan adalah kekayaan itu dapat membuat kita buta seperti orang kaya dalam perumpamaan ini, Ia tidak melihat kesulitan orang seperti Lazarus yang tinggal di depan pintu rumahnya yang setiap hari dilewatinya. Ia beranggapan bahkan mungkin juga menghakimi Lazarus sebagai orang miskin yang dikutuk Tuhan. Ia berpendapat si orang miskin kurang bekerja keras dan tidak taat perintah Tuhan. Iapun merasa layak menggunakan kekayaan sebagai hasil usaha dan kerja kerasnya – itulah milik kepunyaannya untuk memanjakan dirinya.

Tuhan juga tidak ingin melihat kita bermalas-malasan dan berpendapat hidup biasa-biasa sajalah – tidak perlu menjadi kaya, semua juga pasti Tuhan pelihara seperti rumput diladang dan burung diudara. Kita lupa bahwa rumput diladang harus tumbuh akarnya menembus tanah bebatuan untuk mendapatkan air. Burungpun harus terus terbang mencari makanannya hari itu. Pada akhirnya waktu dan kesempatan yang ada perlu digunakan dengan bertanggungjawab, demikian juga kekayaan yang diterima sebagai konsekwensi hasil kerja usaha kita. Biarpun hanya sekian ribu ditangan, kita perlu mempertanyakan pada diri kita apakah akan digunakan untuk beli pulsa  gaya-gayaan atau untuk nyicil hutang di warung. HP ditangan tukang ojek tentu berbeda dengan HP ditangan anak-anak SD – dengan membelikan HP tukang ojek ia bisa mendapat kesempatan melayani lebih banyak orang karena mudah dihubungi. Sedangkan anak SD  yang membawa HP disekolah menggunakannya untuk main games ditengah pelajaran, bahkan bisa  mengundang orang lain ingin mencurinya.

Semoga kita menjadi semakin arif dalam menerima segala rahmat pekerjaan dan usaha yang Tuhan berikan sebagai kesempatan untuk memuliakan Tuhan. Kita juga semakin bijaksana menggunakan setiap waktu, talenta serta kekayaan yang diberikan sebagai ‘titipan’ Tuhan yang perlu dipertanggungjawabkan penggunaannya suatu hari nanti. Semoga kita memiliki kepekaan dan kepedulian mengenali Lazarus-lazarus yang tidak berdaya didepan pintu rumah kita. Marilah kita terlibat untuk menumbuhkan harapan bagi mereka yang tidak berdaya melawan kemiskinan; yang berjuang menghadapi hari demi hari. Kita tingkatkan tindakan karitatif menjadi pemberdayaan yang memampukan orang-orang miskin memiliki harkat hidup selayaknya manusia. Kristus yang hidup dalam diri kita memampukan kita membangun jembatan menyeberangi jurang perbedaan menuju surga.

===============================================================================================
Bacaan Injil Luk 16:19-31

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: