Menjauhkan Yang Dekat, Mendekatkan Yang Jauh

19 02 2010

“Waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa”

Kita begitu terbiasa dengan penggunaan HP, IPod bahkan BB, sehingga tanpa disadari sebagian besar dari kita begitu panik setiap saat melihat indikator batere gadget itu sudah merah atau tinggal satu strip. Kepanikan yang membuat kita dengan reflek mencari batere charger, mencari stop kontak terdekat, kalau gak nemu pinjem punya orang lain… termasuk yang gak kenal sekalipun akan ditanya. apakah kita bisa ikut pinjam charger .  Tapi sebaliknya kalau HP, IPod atau BB kita ON, hampir setiap 5 menit kita mengambil HP, mengintip disela-sela rapat bahkan saat berbicara dengan orang lain. Lebih peduli dengan message yang masuk daripada orang dihadapan kita. Demikian juga saat mengikuti Misapun, saat dimana Tuhan dinyatakan hadir dalam kebersamaan melalui Sakramen Ekaristi, masih juga kita memilih membuka HP hanya untuk mengecek dan membalas pesan-pesan yang masuk. Kok pesan Tuhan sendiri yang kita dengar didalam Ibadat Sabda, tidak kita balas ya?

Kita sudah terlalu jauh melenceng dalam penggunaan teknologi. Teknologi yang awalnya dirancang untuk memudahkan kehidupan manusia, justru membuat kita semakin jauh satu sama lain.  Menjauh dari orang-orang terkasih, menjauh pula dari Tuhan yang tidak terlihat. Teknologi sudah berhasil membuat kita menjauhkan yang dekat dan akhirnya mendekatkan yang jauh. Padahal sebelum ada alat-alat mungil ini, hidup toh berjalan seperti biasa – semakin sering bertemu orang lain maka kitapun semakin erat membangun relasi.  Kualitas komunikasi bisa diperbaiki dengan kuantitas pertemuan yang semakin sering. Sekarang tidak lagi, setiap kali bertemu  orang-orang terkasihpun belum tentu membuat kita menjadi lebih akrab.

Maka tidak heran kalau beberapa uskup senior di Liverpool, Inggris menantang kita untuk melakukan puasa teknologi. Dengan mengurangi pemakaian televisi, komputer sampai HP, IPod bahkan BB selama masa puasa 40 hari, kita mengurangi penggunaan karbon yang mencemari alam, tapi juga sekaligus memperbaiki cara kita berelasi satu sama lain. Puasa teknologi ini mengajak kita menyadari pentingnya menjaga dan memperbaiki cara kita membangun relasi. Termasuk juga memperbaiki relasi kita dengan Tuhan sendiri.

Kalau dengan orang-orang disekitar kita saja kita kurang peduli, lebih peduli dengan getaran HP atau BB yang disilent, apalagi dengan Tuhan kita yang tidak terlihat. Wajar kalau saat kita menghadapi masalah dan kesulitan, kita sering bertanya ” Tuhan dimanakah Engkau?” Tuhan memang tidak kemana-mana, Ia ada selalu bersama kita sejak kita dibaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Tapi kitalah yang sering menjauh dari Tuhan.

Maka renungan hari ini mengajak kita kembali untuk memaknai arti puasa.  Kita perlu melatih diri lagi  selama 40 hari ini untuk semakin peka dan peduli dengan orang-orang disekitar kita,  diperlukan ketajaman rasa dan kejelian hati untuk memahami apa yang menjadi kebutuhan orang lain yang lebih menderita disekitar kita. Ini tidak bisa dicapai bila kita sibuk dengan diri sendiri, memikirkan keinginan pribadi apalagi disibukkan dengan alat-alat mungil yang mengganggu relasi kita dengan orang-orang lain bahkan dengan Tuhan sekalipun.

Mari kita melatih diri kita di masa puasa ini dengan puasa teknologi, kalau tadinya panik bila melihat indikator batere HP/BB yang merah, kita juga panik bila hari ini kita belum berdoa. Kita kurangi menyalakan dan menonton televisi serta menggunakan internet dan menggunakan waktu yang lebih banyak dengan orang-orang terkasih disekitar kita.  Kita juga  melatih diri agar bisa menjadi resah bila hari ini belum merenungkan Kitab Suci untuk lebih mendengarkan pesan cinta Tuhan.  Kita tidak tenang kalau tidak berhubungan dengan Tuhan senantiasa, tidak bisa berpikir bila belum bertanya : Tuhan apa yang Engkau ingin aku lakukan dalam kesempatan seperti ini? Menjadi resah dan bertanya pada Tuhan, apa maksud Tuhan mempertemukan saya dengan orang ini dan kira-kira apa yang harus saya lakukan menghadapi situasi  ini.

Dengan demikian kita tidak lagi perlu berduka dan merasa Tuhan jauh dari kita, seperti layaknya kita berada dipesta perkawinan. Selalu suka cita karena ikut merasakan kebahagiaan sang mempelai dan keluarga besar yang sedang merayakan sukacita mereka. Kita tidak pernah kehilangan sukacita bila selalu dekat dan selalu bersama dengan Tuhan. Orang yang dekat dengan Tuhan pastinya juga semakin peduli dengan orang-orang disekitarnya karena ia bisa mengenali Tuhan dalam diri orang lain. Ia bisa memahami apa yang Tuhan ingin ia lakukan bagi orang itu. Ia bertemu Tuhan setiap saat dalam setiap kesempatan dalam setiap pribadi yang ditemui. Tidak pernah lagi kita merasa jauh dengan Tuhan karena Ia memang begitu dekat dengan kita, Immanuel.

==============================================================================================

Bacaan Injil Mat 9:14-15

“Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: