Bukan Sembarang Biji

29 01 2010

“Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah”

Dalam arti positip, memang iman kita harus berkembang seperti biji sesawi itu, tetapi dalam sisi negatif, jangan membiarkan amarah dan menyimpannya sehingga berkembang laksana biji sesawi itu, hal ini yang ingin saya refleksikan pada renungan atas firman ini. Saya sungguh merasakan sekali kekuatan doa yang menyadarkan untuk tidak meneruskan kemarahan, tentunya baik jika diikuti oleh teman-teman.

Tadi pagi ketika persiapan untuk kerja, saya teringat sesuatu yang harus dibawa hari ini, dan hal tersebut sudah saya katakan sejak 2 minggu lalu, tetapi mungkin karena sibuk atau banyak yang harus dipikirkan, akibatnya pesanan saya menjadi dilupakan. Ketika hal tersebut dikatakan belum siap, saya langsung emosi, kaget bercampur marah karena emosi langsung meledak, namun hal ini tidak berlangsung lama karena saya harus kelantai atas untuk berdoa.

Sejak 3 tahun belakangan ini saya tiba-tiba menjadi rajin berdoa, kalau dulu menjelang tidur, sekarang pagi menjelang berangkat kerja, dan dalam hati yang masih dongkol itu saya bersiap diri untuk berkomunikasi dengan Tuhan, ternyata yang terjadi bukanlah doa seperti biasa, saya seperti terdiam dan tercenung cukup lama, seperti mendengar suara Tuhan menegur, bahwa hal tersebut bukanlah ciri orang baik, coba diam dan pikirkan kembali, bukankah diri saya juga ada salah, dan apakah marah itu menyelesaikan masalah, bahkan bisa menambah masalah. Tuhan kembali mengingatkan, bahwa saya harus buat resolusi di Tahun ini untuk tidak mudah marah, terutama terhadap keluarga. Selesai berdoa, hari saya lega dan damai sekali, saya minta maaf pada Aryani, tersenyum dan menciumnya, semoga tidak terulang lagi.

Saya sungguh bersyukur sekali, bahwa kebiasaan doa pagi tersebut sungguh nyata, karena telah menyelamatkan untuk menyakiti istri saya sendiri, apalagi keteledoran tersebut tidak semata-mata kesalahan dia. Kebiasaan doa ini juga membasmi parasit kemarahan atau mengalahkan kehendak setan untuk berkembang seperti biji sesawi didalam diri kita, maka doa yang terlihat sederhana tersebut ternyata mempunyai kekuatan yang sungguh dahsyat, selain itu juga, setiap pagi dan setiap hari saya selalu berbagi tersenyum dengan banyak sahabat, mengapa tidak mengembangkan energi senyum ini kepada keluarga seperti biji sesawi.

Saya ingin berbagi cerita lucu mengenai sebuah kemarahan, semoga menyadarkan kita untuk berhenti marah kepada pasangan, karena sungguh tiada faedah sama sekali. (mohon maaf bagi yang sudah pernah menerimanya, semoga tidak bosan).

Pada suatu sore seorang suami, yang terkenal sangat temperamental, sambil minum teh berbincang-bincang santai dengan isterinya mengenai manajemen emosi yang dijalani isterinya.

SUAMI: Pada saat aku marah-marah, kamu tidak pernah sekalipun melawan aku. Caranya bagaimanakah melakukan kontrol atas kemarahan itu?  Dan kamu bisa ?

ISTRI: Bisa.. setiap kali kamu marah, aku memang tidak melawan kamu, karena percuma. Namun sebagai pelariannya aku langsung pergi membersihkan toilet.

SUAMI: Wah.. kok begitu? hebat sekali? Tetapi apa hubungannya membersihkan toilet dan mengendalikan emosimu? Apa ada hubungannya dengan manajemen emosi ?

ISTRI: Ada donk, karena aku membersihkan toilet pakai sikat gigimu…… …..!!!

[Samsi Darmawan]

===============================================================================================

Bacaan Injil Mrk 4:26-34

“Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.” Kata-Nya lagi: “Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.” Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri”

Advertisements

Actions

Information

One response

3 05 2010
Br. A. Mungsi. O. Carm

Betul. Kita memang tidak boleh membiarkan amarah tinggal lama dalam diri kita. Selain merugikan orang lain, juga merugikan diri sendiri. Pernah melihat patung dwarakala? Seperti itulah penampilan orang yang sedang marah. Menakutkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: