Ada Saat Bicara, Ada Saat Diam

21 01 2010

Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia

Sebagai saksi didalam suatu persidangan, tidak mungkin seseorang tidak berkata-kata atau berdiam diri. Ia harus bersuara mengatakan dan menjelaskan kesaksiannya. Bahkan harus dinyatakan kebenarannya karena diperkatakan dibawah sumpah. Kalau sepanjang persidangan si saksi berdiam diri, atau menjawab tidak tahu dan bahkan ‘lupa’ maka kualitasnya sebagai saksi malah bisa memperlemah persidangan.Bahkan bisa dianggap mempersulit persidangan karena tidak memberikan titik terang atas informasi yang dimilikinya.

Maka aneh juga kalau dalam perikop ini, para murid yang di kemudian hari harus berkeliling kemana-mana mewartakan Kabar Baik, justru dilarang untuk memberitahukan siapa Yesus sebenarnya. Lha…. setan aja saat itu juga tahu siapa itu Yesus sehingga mereka tunduk tersungkur karenaNya.  Mereka lah yang lebih dulu menyatakan Dia adalah Anak Allah, bukan murid-murid dan pengikutNya dimana mereka masih mengganggap Yesus sebagai Guru mereka.

Saat itu Yesus dicari banyak orang, sampai terhimpit dan harus menyingkir menjauh dari kerumunan orang. Mereka yang sakit dan menderita ingin mencari kesembuhan dari Yesus. Yang terikat iblis pun juga dibawa kesana, dengan harapan sembuh juga. Bukannya sekarang juga banyak orang yang mencari Yesus agar mendapatkan kesembuhan? atau agar mendapat kesuksesan?

Padahal tujuan utama Yesus datang kebumi bukan untuk menyembuhkan orang, bukan juga untuk melepaskan dan mengusir setan. Tugas utamaNya datang  ke dunia adalah untuk mendamaikan manusia dengan Tuhan, agar hubungan kembali harmonis dan agar manusia bisa kembali kepada Tuhan dan bersatu selamanya. Maka yang harus dinyatakan adalah agar manusia mau bertobat dan kembali menerima uluran tangan Allah. “Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat”

Maka yang dirindukan Yesus adalah keinginan manusia untuk bertobat dan mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya. Ia tidak mencari popularitas, tapi ia mencari jiwa manusia yang sakit yang perlu dipulihkan dari kedosaannya. Sering terjadi orang sembuh dari penyakitnya, tetapi ia tidak menyesali dosanya dan tidak mencari Tuhan. Karenanya kesembuhan seperti ini tidaklah berarti apa-apa karena jiwanya sebenarnya masih ‘sakit’.

Kita seyogyanya juga melihat kapan saatnya kita harus berbicara dan berani menyatakan kebenaran agar orang lain menyadari bahwa kebenaran harus ditegakkan. Bisa jadi kita dianggap nyeleneh, melawan arus, tapi bilamana praktek yang ada tidak sejalan dengan iman kristiani, kita harus berani bersuara. Itulah suara kenabian yang mengingatkan manusia untuk kembali kepada kebenaran, kembali kepada jalan Allah. Suara yang keras yang diperdengarkan untuk membela mereka yang miskin, tersisih dan terhina. Tapi manakala semua orang mengagungkan popularitas, mencari sosok yang dapat diandalkan, inilah saat terbaik kita untuk berdiam diri. Menahan diri untuk tidak menyatakan siapakah kita, karena yang layak diagungkan hanyalah Allah Tri Tunggal yang Maha Kudus. Kalau tidak, maka kita akan terjerat godaan untuk mencuri kemuliaan Tuhan demi kemuliaan diri sendiri agar kita ‘dikenal’ banyak orang. Lupa bahwa yang harus diperkenalkan adalah Sang Juru Selamat.

Yang sering terjadi memang demikian, kita ingin diakui dan dikenal orang banyak. Sering menjadi buah bibir dimana-mana karena prestasi atau karyanya. Tapi manakala dituntut suara kenabian ditengah praktek yang korup seperti yang ada disekitar kita, malah memilih diam. Gak berani bersuara, terkadang kita gak berani berbeda dan melawan arus.                                                                                                    ==============================================================================================

Bacaan Injil Mrk 3:7-12

“Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya. Juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon datang banyak orang kepada-Nya, sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya.Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menjamah-Nya. Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: “Engkaulah Anak Allah.”Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia.”

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: