Yang Kusta Yang Tersingkir

8 01 2010

“Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta.”

Menjadi orang tersisihkan itu sungguh tidak enak. Tidak ada yang menyapa, tidak ada yang bisa dipercaya.  Merasa kesepian ditengah keramaian – itulah tanda-tanda orang ‘kusta’ yang sebenarnya. Trend bunuh diri di mall dan apartemen akhir-akhir ini hanyalah akumulasi dari rasa tersisihkan dan rasa kesepian ditengah orang banyak. Mengapa bisa begitu? Hal ini bisa saja terjadi karena orang-orang  yang berada disekelilingnya sudah tidak peduli satu sama lain. Mereka yang tinggal di apartemen mungkin memiliki cerita serupa. Bisa dihitung berapa kali dalam sebulan mereka bertemu muka dengan tetangga kiri dan kananya.   Masing-masing hanya fokus pada dirinya sendiri; tanda semakin tingginya egoisme masyarakat  bisa berujung pada berbagai kasus bunuh diri.

Orang kusta dikatakan orang terkutuk di dalam Perjanjian Lama , akhirnya menjadi  tradisi masyarakat Yahudi.  Keberadaan orang kusta akan membuat orang orang lain disekitarnya menjadi najis dan tidak layak berdoa karenanya. Sampai sekarang masih ada yang beranggapan bahwa sakit kusta adalah kutukan Tuhan karena dosanya. Karena luka-luka akibat virus kusta yang menimbulkan bau yang luar biasa, orangpun menyingkirkan para penderita kusta. Mereka tidak boleh pergi kepasar, tidak bisa jalan-jalan kemana-mana karena pasti dilempari batu oleh orang banyak agar mereka pergi menjauh. Kelompok orang kusta kalau akan melewati kerumunan orang harus membawa bunyi-bunyian sebagai tanda “awas ada orang kusta mau lewat” sehingga orang lain akan menyingkir. Bila orang-orang tidak ingin menyingkir mereka bisa saja  melempari mereka dengan batu agar cepat pergi. Persis seperti yang dikisahkan penderitaan ibu dan adik Benhur yang terkena kusta dalam film jadul “Benhur” – saya masih ingat kisahnya karena alm ibu suka sekali menontonnya sehingga diputar berkali-kali.  Tiap kali diputar ya tetap saja ibu menangis terharu… duuuh…

Yesus tahu sekali bagaimana menderitanya orang kusta, tidak bisa belanja bahan makanan sehingga tidak mudah mendapatkan makanan.  Lha ke pasar dilarang, bertani apa yang ditanam lha gak punya apa-apa. Mengemispun tidak ada yang memberi sedekah. Apalagi bekerja untuk mendapatkan uang pembeli makanan. Mereka hanya menunggu kiriman makanan kerabat (kalau masih ingat) atau kemurahan hati orang-orang yang melemparkan sisa makanannya dari jauh. Maka umumnya keinginan para penderita kusta ini cuma satu: ingin mati ! Sendirian ditengah keramaian karena memang keberadaan mereka  tidak diinginkan.

Mother Theresa mengatakan “Orang yang paling miskin didunia adalah orang yang tidak dikasihi”. Inilah orang kusta sebenarnya. Tanpa kita sadari kita bisa menciptakan orang-orang “kusta” disekitar kita, orang-orang yang tersisihkan karena kita  idak menghargai kehadirannya, tidak dibutuhkan dan direken tidak ada. Tidak ada yang menyapa “selamat pagi, apa kabar?”. Tidak ada yang bertanya “bagaimana keluargamu?”. Tidak ada yang perduli dan  bersedia mendengarkan kisah pengalamannya, apalagi memperhatikan kebutuhannya.

Orang-orang yang tersisihkan ini cuma butuh satu hal: kasih dan Yesus memberikannya.Yesus  memiliki kuasa menyembuhkan, padahal sebagai orang Yahudi bisa saja Ia menolak untuk menyembuhkan para penderita kusta karena masuk kelompok ‘tidak layak’ dilayani. Tapi Yesus memilih memperhatikan mereka dan mau menyembuhkan mereka yang dijauhi oleh umumnya orang-orang Yahudi. Dan karena mereka mendapat kasih Tuhan, penderita kusta itu  kembali sembuh dan dapat kembali ketengah keluarga dan komunitasnya.

Inilah saatnya kita memeriksa diri, apakah tanpa disadari karena kesibukan kita menyisihkan orang-orang disekitar kita. Hubungan personal sudah tidak penting, karena yang ada hanyalah hubungan bisnis, hubungan politis dan pragmatis – hanya kalau ada maunya saja. Nothing more Nothing less. Padahal setiap perjumpaan dengan tiap pribadi pasti ada maksud Tuhan bagi kita. Bisakah kita bertanya setiap bertemu seseorang: apa yang Tuhan mau aku lakukan baginya? Belum tentu lho kita akan bertemu dia lagi. Gunakan kesempatan ‘emas’ ini untuk mencari tahu  dengan menangkap ‘sinyal’ dari suatu perjumpaan.

Disisi lain, kita sendiri juga sebenarnya najis dan tidak layak bagi Tuhan; dosa kita telah membuat kita berbau busuk dan menular ke orang-orang lain. Tapi karena kasih Tuhan, kita ditahirkanNya sehingga kita dapat seterusnya kembali kepada komunitas orang-orang beriman.  Rasanya gak fair, kalau kita sebagai orang ‘kusta berdosa’ telah disembuhkan Tuhan, tetapi ternyata meng’kusta’kan orang lain dengan tidak perduli orang-orang disekitar kita.

Maka  kita yang sudah ‘ditahirkan’ sudah selayaknya mengikuti dan mentaati perintahNya sehingga nama Tuhan dimuliakan.  Setelah sembuh, kembali menghadap imam, kembali beribadah – baru setelah dapat lampu ‘hijau’ dipersilahkan bersaksi ke komunitasnya.  Disinilah kita belajar rendah hati dan senantiasa bersyukur atas kesembuhan yang diterima. Tetapi k alau kita sudah ‘ditahirkan’  – sudah disembuhkan tetapi keburu sesumbar mengaku diberkati dan ‘dipilih’ Tuhan, kita justru jmenjauh dari karya Tuhan karena kita akan lebih menonjolkan diri kita daripada memuliakan Tuhan. Kita akan sesumbar berkata “Tuhan mengasihi saya, nih buktinya saya sembuh kan?Karena saya sudah lakukan ini dan itu dsb.” waaah… kalau jadinya begitu ya mungkin lebih baik tidak disembuhkan saja ya?

===============================================================================================

Bacaan Injil Lukas (5:12-16)

Sekali peristiwa Yesus berada di sebuah kota. Ada di situ seorang yang penuh kusta. Ketika melihat Yesus, tersungkurlah si kusta dan memohon, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Maka Yesus mengulurkan tangan-Nya menjamah orang itu dan berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir!” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukan hal ini kepada siapa pun juga dan Ia berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam, dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar, dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi Yesus mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: