Kisah Damai Untuk Indonesia (Rm A. Budi Purnomo, Pr)

7 01 2010

Berikut saya lampirkan artikel yang saya tulis dan dimuat di kolom opini Harian Wawasan Sore (6/1/2010). Di dalamnya saya menyebut dan merefleksikan peristiwa langka ketika pada tanggal 25 Desember 2009 lalu (dari pukul 20.00 hingga 03.00) saya “Natalan” di Masjid Baiturrahman Semarang bersama Ikatan Remaja Pemuda Masjid Baiturrahman (IKAMABA) dan para santri dari Ponpes Al Ishlah Tembalang. Silahkan dicermati sebagai “obat duka” setelah Gus Dur wafat. – A. Budi Purnomo, Pr

MENJELANG berakhirnya tahun 2009, kita kehilangan seorang guru bangsa, tokoh besar dunia, pejuang demokrasi, bapak pluralisme, dan multikulturalisme Indonesia, pelindung kaum minoritastertindas, yakni KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Wafat Gus Dur membuat Indonesia dan dunia berduka. Secara spiritual-kultural, Gus Dur adalah tokoh penting dan sentral bagi komunitas Nahdlatul Ulama.

Namun, sebelum Gus Dur wafat, ada kabar gembira dari Semarang, yang dipelopori oleh ’’anak-cucu spiritual” Gus Dur yang mempraksiskan secuil kisah indah untuk anak bangsa. Kisah indah tentang perdamaian dan harmoni hidup bersama lintasagama terjadi di Masjid Baiturahman Semarang. Dan kisah ini memuat pesan damai untuk Indonesia dan dunia.

Tanggal 25 Desember 2009, bersama Emha Ainun Nadjib (budayawan dengan Kiai Kanjeng-nya), KH Budi Hardjono (Pengasuh Ponpes Al Ishlah Tembalang-Semarang), M Tafsir (Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Tengah), Giok Lan (Pengurus Makin Jateng) dan Ronny Chandra (Rohaniwan GIA Pringgading Semarang), Mustofa W Hasyim (PW Muhammadiyah DIY), saya diundang menghadiri silaturahmi damai dengan mediasi seni dan budaya di halaman Masjid Raya Baiturrahman Semarang.
Penyelenggara silaturhami damai lintasagama itu adalah Pengurus IKAMABA (Ikatan Pemuda Remaja Masjid Raya Baiturrahman) dalam rangka mensyukuri ulang tahun ke- 10 Komunitas ’’Gambang Syafa’at”. Gambang Syafa’at merupakan pusat silaturahmi dan komunikasi bagi semua kelompok masyarakat di Jawa Tengah.

Narasi damai
Melalui jalur seni dan budaya, malam itu kami mementaskan narasi damai. Terjadi kolaborasi harmonis ketika Kiai Kanjeng melantunkan tembang bernuansa etnik Mandarin sesaat setelah perwakilan dari agama Konghucu menyampaikan sambutannya. Saya pun langsung diminta KH Budi dan Cak Nun untuk masuk dengan alunan baby-saxophone berpadu dalam harmoni.

Sekalipun sejak acara dimulai hujan deras mengguyur, tidak membuat ratusan hadirin yang sebagian besar terdiri dari orang muda, bergeming meninggalkan tempat. Bahkan spontanitas kreatif terjadi. Panggung diubah seratus delapan puluh derajat. Hadirin dipersilahkan berpindah dari halaman masjid dan masuk ke dalam ruangan yang sebelumnya berada dalam posisi di belakang panggung.

Memaknai spontanitas kreatif ini, Cak Nun pun bernarasi: Alangkah indahnya kalau para pemimpin republik ini mau berbalik arah seratus delapan puluh derajat menanggalkan syahwat kekuasaan dan menggantikannya dengan kepekaan untuk mewujudkan keadilan, perdamaian, dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Sangat mengharukan, ketika pada malam itu, yang kebetulan merupakan Hari Raya Natal, narasi damai kami lantunkan melalui puji-pujian lagu Natal di halaman Masjid Bai-turrahman. Bahkan, lagu ’’Malam Kudus” tak hanya dinyanyikan dalam bahasa Indonesia, namun dilantunkan dalam bahasa Arab oleh seluruh hadirin sehingga menjadi paduan suara termegah yang pernah saya dengar seumur hidup saya.

Ini sungguh kisah damai, bukan hanya untuk Indonesia, melainkan untuk seluruh dunia. Alih-alih menggunakan kekerasan dan melukai pihak lain yang berbeda imanagama, para remaja pemuda Masjid Baiturrahman Semarang, justru menggemakan kidung damai untuk Indonesia dan dunia.

Kalau di gereja-gereja, pohon cemara dengan kerlap-kerlip lampu menjadi hiasan, malam itu, di Masjid Baiturrahman Semarang, pohon sawo kecik yang tumbuh di halaman masjid dihiasi dengan kerlap-kerlip lampu. Saat saya menegaskan fakta itu dalam narasi damai bahwa bagi saya hal itu adalah sebuah fakta inkulturasi yang inspiratif, para hadirin pun bertepuk tangan gembira tanpa lemparan batu ke arah saya.

Hal serupa terjadi saat saya mengatakan, ’’Saudari-saudara, seumurumur hidup saya, baru kali ini saya sebagai orang Katolik dan seorang pastor boleh merayakan Natal di masjid!” Tak seorang pun tersinggung, apalagi menjadi beringas lantas merajam saya.

Pesan damai
Pesan damai untuk Indonesia dan dunia, itulah rangkuman yang tepat dari peristiwa itu. Secara puitis, Mustofa W Hasyim menyampaikan pesan damai malam itu dengan berkisah tentang Dewatacengkar.

Ia pun berkata: Ketika racun politik dan racun ekonomi dioplos dengan racun nafsu dimasukkan ke dalam tubuh agama-agama, ketika keagamaan telah mengering, cengkar dan tandus dari nilai-nilai kemanusiaan dan cinta, Dewatacengkar yang sedang berkuasa justru memangsa manusia dan kemanusiannya.

Ia tak peduli kepada jutaan manusia yang setiap hari menangis karena diperkosa keadaan terpuruk, dipaksa masuk ke dalam mesin giling kebiadaban dan dicetak menjadi konsumen abadi.

Untuk masyarakat kita, peristiwa yang terjadi di kompleks Masjid Baiturrahman Semarang itu termasuk peristiwa langka. Namun, itulah sebuah upaya, meminjam penuturan Cak Nun, untuk menyeimbangkan antara akal, kalbu, dan syahwat. Jangan sampai bangsa ini menjadi cacat yang hanya berakal saja, tanpa kalbu atau berhati saja tanpa akal. Lebih parah lagi, kalau segala sesuatu diukur hanya oleh syahwat kekuasaan.

’’Inilah upaya mengusung agama cinta,” tegas KH Budi Harjono.

Tak bisa dimungkiri, bangsa ini masih diliputi kegelapan karena berbagai persoalan yang tak kunjung terselesaikan. Namun, daripada mengutuki kegelapan, marilah kita nyalakan lilin sekecil apa pun, agar kita dimampukan membaca pesan damai yang berserakan di seluas Nusantara ini untuk masa depan Indonesia.

Bagi saya, kisah damai itu menjadi penghiburan di tengah dukacita atas meninggalnya Gus Dur. Kisah damai itu memberi harapan masa depan akan lahirnya generasi pewaris spiritualitas Gus Dur yang mengedepankan perdamaian, menghargai pluralitas dan merayakan keindahan dalam keberbedaan.

Semoga pesan damai ini memberi inspirasi bagi seluruh warga bangsa ini untuk menatap masa depan Indonesia yang lebih adil, rukun, dan sejahtera!

Aloys Budi Purnomo Pr Rohaniwan, Pemred Majalah INSPIRASI, Lentera yang Membebaskan, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang

Advertisements

Actions

Information

2 responses

7 01 2010
Johanes Budi Prasetyo

Usia pemerintahannya pendek namun kesan untuk hidup kesehariannya sederhana, akrab, humornya adalah hiburan untuk semua orang yang mendengar. Betapa hidup ini membahagiakan andai selalu ada orang seperti Beliau. Cinta kasih kalau diterjemahkan dalam budaya Jawa adalah : ORA ONO KEPENAK KAJOBO NYENENGKE LIAN/ tidak ada hidup enak dan damai, selain membuat orang lain bahagia. Gus Dur sudah membuktikan. Atas nama pribadi yang kecil dan masih bodoh ini saya Terima kasih pada Gus Dur, Selamat Jalan. Rahayu/ salam sejahtera.

30 07 2010
jess

it’s really nice!
kalau saya mau tau lebih banyak tentang acara ini, bagaimana caranya yah?

Saya ingin menulis artikel untuk dipublikasikan ke website PBB..

Terima kasih sebelumnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: