Suka Memberi Malah Diberi

18 11 2009

“Setiap orang yang mempunyai kepadanya akan diberi”

Sejak almarhum ibu mengenal Kitab Suci, beliau senang sekali mengadakan persekutuan doa di rumah. Hatinya yang tadinya memang baik dan suka memberi, suka menolong, menjadi semakin murah hati. Selalu ada makanan tersedia di meja makan bagi siapa saja yang datang berkunjung ke rumah, dari mulai teman anak-anak pulang sekolah sampai tamu yang datang malam hari. Selalu ada kamar kosong tersedia bagi siapa saja yang memerlukan tumpangan. Di tasnya pun selalu tersedia uang yang rasanya cepat sekali berpindah tangan kepada mereka yang membutuhkan. Padahal saya tahu pasti, ibu tidak punya uang cukup untuk bayar gaji pegawai bulan itu.

Tapi imannya yang kuat tidak membuatnya berhenti menahan atau menunda pemberian tersebut. Ucapnya selalu “saya tidak mengkhawatirkan yang kemudian, mereka lebih membutuhkan (uang)nya saat ini”. Perhiasannya termasuk benda-benda yang paling sering ‘sekolah’ di toko emas untuk mendapatkan tunai sambil menunggu pembayaran dari para penyewa rumah. Memang imannya terbukti melahirkan kebetulan-kebetulan yang terkadang tidak bisa diterima akal.

Sebagai seorang wiraswasta, ada saja rejeki datang tak terduga. Perusahaan yang sudah berkali-kali nego untuk menyewa rumah, tiba-tiba batal dan datang penyewa lain yang mau harga sewa lebih tinggi. Sekali waktu ibu lupa mengasuransikan rumah-rumah, dan saat itu juga langsung diperpanjang. Tidak sampai dua minggu, terjadilah kebakaran dan rumah tersebut ikut terbakar karena korsluiting rumah tetangga. Uang penggantiannya lebih dari cukup bahkan bisa digunakan modal untuk merenovasi rumah lainnya. Read the rest of this entry »