Musik Mengabdi Liturgi

17 11 2009

Diketik ulang dari Majalah Hidup no. 46, tanggal 15 November 2009 -Penulis : Markus Ivan

JANGAN MEMAKSAKAN LAGU-LAGU YANG BUKAN NYANYIAN LITURGI PERKAWINAN DIBAWAKAN DALAM MISA PERKAWINAN.

Demikian penegasan Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang (Komlit KAS), Pastor E. Martasudjita Pr dalam launching buku nyanyian liturgi perkawinan “Berkatilah Kami Tuhan” di Taman Komunikasi Penerbit Percetakan Kanisius Deresan, Yogyakarta, Minggu,  1 November 2009.

Acara diikuti ratusan peserta, terdiri dari aktivis bidang liturgi paroki se Kevikepan DIY, kelompok kategorial koor manten paroki maupun koor professional, perwakilan Komsos, Komlit  bidang liturgi, Marriage Encounter dan calon mempelai. Dalam kesempatan itu, ditampilkan enam lagu perkawinan oleh kelompok kooor Mlenuk Voice dari Paroki Kotabaru.

Menurut Pastor Marta, Komlit tingkat nasional kini tengah berupaya menata kembali liturgi perkawinan yang amburadul  dan sudah pada tingkat mengkhawatirkan. Karena, lagu-lagu pop pesanan para mempelai  biasanya masuk dalam Misa manten tak terbendung lagi. “Itu sebuah usaha yang tidak terpuji, karena tidak memperhatikan konteks liturgi,” katanya.

Lagu-lagu pop , tutur  Pastor Marta, dikarang untuk lebih memberikan hiburan, tidak diciptakan untuk pertemuan umat dengan Tuhan.  Mengganti lagu-lagu pop dengan syair-syair gerejani, selain merupakan praktik tidak terpuji, secara yuridis juga menyalahi hak cipta. Read the rest of this entry »

Advertisements




Pertobatan = Bagi-bagi Berkat

17 11 2009

Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.

Memang beda sekali dampak yang dihasilkan bila seorang kaya bertobat, hati yang tadinya beku menjadi cair setelah disentuh Roh Kudus. Yang tadinya hanya memikirkan keluarga sendiri, sekarang mudah sekali diajak berbagi dengan orang lain yang sedang kesulitan. Maka dengan hati yang telah diperbarui seseorang bisa menjadi murah hati dengan kekayaannya. Beberapa kali saya menyaksikan sendiri teman-teman yang sukses dengan usaha dan pekerjaannya, yang awalnya tenggelam dalam kesibukan usaha, ternyata setelah mengalami pembaharuan dalam hidup rohaninya, mudah sekali diajak untuk berbagi dan memberikan bantuan kepada mereka yang kekurangan.

Saat terjadi gempa di Tasikmalaya, dalam waktu singkat terkumpul bahan bantuan yang dikirim langsung dengan 2 mobil box ke lokasi bencana. Demikian juga saat terjadi gempa di Padang, segera terkumpul bantuan seberat 10 ton, yang langsung dikirim ke lokasi. Mereka bergerak tanpa birokrasi dengan menggunakan jaringan pertemanan mereka mencari barang-barang yang dibutuhkan, juga dengan kendaraan yang dimiliki tinggal diangkut dan langsung jalan menuju lokasi bencana. Demikian juga saat membantu sebuah sekolah menengah di pedalaman papua, tanpa kesulitan berarti dikirimkanlah mesin foto kopi dan mesin cetak agar pihak sekolah memiliki unit usaha sekaligus mampu menggandakan bahan pembelajaran dengan lebih efisien. Read the rest of this entry »