Memberi Dari Kekurangan

8 11 2009

Mg Biasa XXXII: 1Raj 17:10-16; Ibr 9:24-28; Mrk 12:38-44
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.

Dua minggu sebelum ditahbiskan saya ditemui oleh pastor paroki saya dan menyampaikan usulan: “Setelah ditahbiskan nanti, mempersembahkan misa di gereja paroki (Wedi-Klaten) sambil syukuran ya”. “Kalau boleh saya misa perdana bersama umat di kapel stasi Gondang saja”, tanggapan dan permohonan saya. “Ya, tetapi renovasi kapel belum selesai”, jawaban pastor paroki. “Tidak apa-apa, seadanya saja” , jawaban saya. Dan memang akhirnya saya dimungkinkan untuk mempersembahkan misa kudus bersama umat pertama kali di kapel stasi. Umat wilayah dimana saya berasal, mendengar berita itu sangat gembira, dan saya dengan akhirnya umat wilayah kami selama satu minggu, dari pagi sampai sore bergotong royong untuk menyelesaikan renovasi kapel. Mayoritas umat wilayah asal kami adalah `buruh tukang batu’ dan selama seminggu mereka pamit tidak `kerja’ dulu untuk bergotong royong menyelesaikan renovasi kapel. Tidak `kerja’ seminggu berarti mereka tidak memperoleh imbalan jasa atau gaji selama seminggu; dan selama seminggu mereka mempersembahkan diri untuk renovasi kapel, dengan harapan pada hari “H”, misa perdana saya, siap atau layak pakai. Memperhatikan semuanya itu saya merasa bahwa umat wilayah tersebut bagaikan “janda yang memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:43-44) Read the rest of this entry »