Percaya atau tidak, Api Penyucian itu ada

4 11 2009

Sewaktu saya tinggal di Filipina, saya pernah menonton sebuah talk-show dari saluran EWTN (Eternal Word Television Network), yang topiknya adalah Api Penyucian. Saya masih ingat, waktu itu pembicaranya yang bernama Mother Angelica, menerima pertanyaan dari pemirsa, yang rupanya tidak percaya akan adanya Api Penyucian, karena tidak ada kata “Api Penyucian” disebut di dalam Alkitab. Mother Angelica menjawab bahwa, memang kata “Api Penyucian” tidak secara eksplisit tercantum di dalam Alkitab, seperti juga kata `Trinitas’, atau `Inkarnasi’, namun kita percaya akan maksud dari kata-kata tersebut. Yang terpenting adalah ajarannya, bukan istilahnya. Dengan senyumnya yang khas Mother Angelica berkata dengan bijak, “Although you do not believe it, dear, it does not mean that it does not exist.” (Meskipun kamu tidak percaya, itu tidak berarti Api Penyucian tidak ada). Apa itu Api Penyucian Api Penyucian atau `purgatorium’ adalah `tempat’/ proses kita disucikan.

Catatan: `Disucikan’ bukan `dicuci’, oleh sebab itu disebut Api Penyucian (bukan Api Pencucian). Gereja Katolik mengajarkan hal ini di dalam Katekismus Gereja Katolik # 1030-1032, yang dapat disarikan sebagai berikut:

1. Api Penyucian adalah suatu kondisi yang dialami oleh orang-orang yang meninggal dalam keadaan belum suci sepenuhnya, sehingga memerlukan proses pemurnian selanjutnya setelah kematian.

2. Pemurnian di dalam Api Penyucian adalah sangat berlainan dengan siksa neraka.

3. Kita dapat membantu jiwa-jiwa yang ada di Api Penyucian dengan doa-doa kita, terutama dengan mempersembahkan ujud Misa Kudus bagi mereka. Api Penyucian ada karena keadilan Allah: Dosa selalu membawa konsekuensi Ada orang-orang yang berpikir bahwa jika Allah mengampuni, maka tidak ada lagi yang harus dipikirkan mengenai `akibat dosa’ sebagai konsekuensinya. Read the rest of this entry »





Ada Harga untuk Setiap Keputusan

4 11 2009

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku ia tidak dapat menjadi muridKu”

Pertarungan antara cicak dan buaya belum selesai. Gerakan yang masih sporadis bisa dikatakan embrio dari ketidakpercayaan dan ketidakpuasan atas segala upaya pemberantasan korupsi negri ini. Hasil sementara dengan adanya penangguhan penahanan Bibit – Chandra belum berarti ‘case closed’. Dalam skandal ini ternyata fungsi para wakil rakyat dan para penegak hukum dikalahkan dengan suara rakyat lewat FB dan media, gerakan yang dibangun dalam waktu seminggu cukup membuat ‘jengah’ para pemimpin. Gerakan ini hanyalah gerakan riak kecil, gerakan orang-orang yang berani mengambil sikap. Mereka tidak perduli berapa banyak dan berapa besar kekuatan yang ada dihadapannya selama mereka yakin apa yang menjadi prinsip setiap keputusan. Lalu dimana suara mayoritas? Dimana suara mereka yang memilih diam? Atau tepatnya bukan saluran suaranya yang mampet, tapi apakah mereka berani menyatakan pendapatnya?

Memikul salib adalah satu idiom yang paling mudah untuk dipahami oleh setiap pengikut Kristus karena salib adalah lambang penderitaan, salib adalah jalan berat menuju kebangkitan dan keselamatan. Tetapi kita sering lupa bahwa salib itu bisa diberikan sebagai konsekwensi sebagai pengikut Kristus, atau juga salib yang dibuat sendiri akibat perbuatan sendiri. Kita selalu memiliki pilihan untuk menerima atau menolak ‘salib’ yang diberikan, tetapi kita tidak bisa menolak salib yang kita buat sendiri. Kita selalu punya pilihan untuk mengambil keputusan tapi juga bisa memilih untuk berdiam diri dan tidak mengambil keputusan. Dan karenanya kita akan merasa ‘aman’ karena tidak akan dituntut apa-apa. Read the rest of this entry »