Menikah 1 X Seumur Hidup

4 10 2009

“Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?”

“Jumlah perceraian di Indonesia dalam 4 tahun terakhir ini meningkat tajam. Pada 2004 rata-rata 20 ribu hingga 30 ribu per tahun, namun pada 2008 telah terjadi 200 ribu kasus perceraian dari 2 juta pernikahan yang ada. “Itu artinya 10% dari pasangan yang nikah melakukan perceraian,” ujar Dirjen Bimas Islam Depag RI Prof Dr Nasarudin Umar, MA pada peluncuran buku Fikih Keluarga dan seminar sehari Urgensi Pembangunan Bangsa berbasis Keluarga. Penyebab perceraian ini menurut Nasarudin ada 13 jenis masalah. Namun terbesar akibat adanya perselingkuhan dan kasus poligami. Pasangan yang bercerai umumnya adalah pasangan muda dengan jumlah anak rata-rata satu orang atau istri sedang hamil yang pertama. Sedang gugatan cerai 65% dilakukan oleh pihak perempuan (istri)” (www.poskota. co.id, 3 Juli 2009).

Jika data di atas ini benar, memang sungguh memprihatinkan, lebih-lebih mayoritas perceraian terjadi pada pasangan muda dengan jumlah anak rata-rata satu orang atau isteri sedang hamil yang pertama. Maka kiranya boleh diambil kesimpulan bahwa kurang lebih 100.000 (seratus ribu) anak pertama di Indonesia lahir dan dibesarkan dalam `broken home’. Dengan kata lain jumlah anak-anak yang menjadi korban perceraian cukup fantastis, dan ada kemungkinan anak-anak tersebut akan tumbuh berkembang kurang kasih sayang, sehingga menjadi pribadi yang `kurang ajar’ alias tak bermoral, tak berbudi pekerti luhur. Pada gilirannya ketika mereka menjadi dewasa dan kemudian menikah ada kemungkinan mudah bercerai juga, dan dengan demikian melahirkan korban-korban baru. Dari data di atas dapat dilihat setiap tahun jumlah perceraian naik kurang lebih 50% : dari 20.000 menjadi 30.000 dan tiga tahun kemudian menjadi 200.000. Kita harus prihatian dengan data atau situasi sebagaimana digambarkan di atas, maka marilah kita renungkan dengan sungguh-sungguh Warta Gembira hari ini. Read the rest of this entry »

Advertisements