Hikayat Haloween

31 10 2009

Halloween selalu dirayakan setiap tahun tanggal 31 Oktober malam oleh umat Kristiani, terutama di luar negeri. Di Indonesia juga dirayakan, walaupun masih terbatas pada acara-acara yang diselenggarakan kaum selebritis. Sebenarnya apa sih Halloween itu? Kenapa mereka memakai kostum serba menakutkan? Benarkah itu dulunya berkaitan dengan pemujaan terhadap setan, atau hanya sekedar ritual kuno?

Kata ‘Halloween’ barasal dari All Hallows Eve (malam mensucikan), karena keesokan harinya adalah hari peringatan untuk menghormati orang suci bagi umat Kristiani (All Saints Day). Salah satu cerita mengatakan bahwa Halloween diperkenalkan oleh bangsa Celtik di Irlandia yang percaya bahwa pada tanggal 31 Oktober malam roh-roh orang yang sudah meninggal gentayangan untuk merasuki tubuh mereka yang masih hidup.

Tentu saja mereka tak mau dirasuki oleh roh-roh gentayangan tersebut. Karena itu ketika malam sudah mulai mengintip tanggal 31  Oktober, para penduduk desa mematikan api yang menyala dalam dalam rumah sehingga tubuh mereka dingin dan roh tidak mau memasukinya. Mereka kemudian berpakaian yang menakutkan dan berkeliling desa dengan suara gaduh untuk menakut-nakuti roh gentayangan yang ingin merasuki tubuh mereka. Read the rest of this entry »





Pidato Anak Usia 12 Tahun Bikin forum PBB Terdiam

30 10 2009

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children’s Organization ( ECO ).

ECO sendiri adalah Sebuah kelompok kecil anak” yg mendedikasikan diri Untuk belajar dan mengajarkan pada anak” lain mengenai masalah” lingkungan. Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana pada saat itu Seveern yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka.

Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang” terkemuka yg berdiri dan memberikan Tepuk Tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: (sumber The Collage Foundation)

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O – Enviromental Children Organization Kami Adalah Kelompok dari kanada yg terdiri dari anak” berusia 12 dan 13 tahun. Yang mencoba membuat Perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil. Untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, Hari ini Disini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang. Saya berada disini mewakili anak” yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar. Read the rest of this entry »





Iman Katolik: Pilih Pemakaman atau Kremasi (FX Didik Bagiyowinadi Pr)

29 10 2009

Sebagai orang Katolik manakah yang boleh kita pilih: pemakaman atau kremasi? Keduanya diperbolehkan. Tetapi manakah yang sebaiknya dipilih, kita simak pernyataan Gereja ini, “Gereja menganjurkan dengan sangat, agar kebiasaan saleh untuk mengebumikan jenazah dipertahankan; namun Gereja tidak melarang kremasi, kecuali cara itu dipilih demi alasan-alasan yang bertentangan dengan ajaran kristiani” (Kan. 1176$3).

Prioritas pada Pemakaman Gereja memprioritaskan jenazah untuk dimakamkan daripada dikremasi dengan alasan:

1. Hal itu sesuai dengan praktek dalam Perjanjian Lama (Abraham, Ishak, Musa, dsb) dan Perjanjian Baru (Yesus, Stefanus). Bahkan Perjanjian Lama melihat jenazah yang tidak dikuburkan tetapi hangus dalam api sebagai hukuman Tuhan, mis. Sodom-Gomora (Kej 19:1-29), Jezebel (2 Raj 9:30-37),dan keturunan Ahab (1 Raj 21:17-24).
2. Dengan dimakamkan simbolisasi untuk dibangkitkan oleh Kristus pada akhir zaman menjadi lebih jelas. Demikian pula sesuai dengan ilustrasi St. Paulus seperti benih yang ditaburkan ke tanah (1 Kor 15). Read the rest of this entry »





Berdoa untuk Berbuah

28 10 2009

Dan orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena dari pada-Nya keluar suatu kuasa, dan semua orang itu disembuhkan-Nya.

Dengan kompetisi yang semakin tajam, perusahaan besar yang bisa bertahan adalah dimana komunikasi dua arah, atas bawah serta kiri kanan saling terjalin. Di beberapa sesi bersama klien sering terungkap betapa frustasinya karyawan pelaksana bila harus berhubungan lintas fungsi. Prioritas yang berbeda membuat banyak friksi terjadi di tingkat operasional akibat proses pengambilan keputusan yang salah atau justru menjadi lamban. Tetapi begitu terjadi komunikasi antar pimpinan antar bagian, maka segala hal menjadi mudah. Gak ada ewuh pakewuh akhirnya subyektivitas pun tersingkir. Memang harus ada waktu yang disediakan untuk menyamakan visi, saling memahami keterbatasan dan ketergantungan satu sama lain dan akhirnya membentuk kesepakatan bersama untuk menggapai visi bersama.

Kita sering lupa bahwa apa yang terjadi dalam keadaan sehari-hari juga terjadi dalam kehidupan spiritual kita. Kesibukan yang mendera dari pagi hingga malam, dari senin hingga minggu, hanya membuat kita berpikiran ‘silo’ – cuma memikirkan diri sendiri, tidak perduli kiri kanan apalagi atas bawah. Harus ada waktu untuk ‘berdiam’ – untuk merefleksikan diri –  untuk menajamkan visi dan menyelaraskan kembali arah hidup kita, sebelum kita sendiri sadar bahwa sebenarnya kita sudah melesat menjauhi tujuan hidup Ilahi yang diberikan pada kita. Read the rest of this entry »





Kuantitas atau Kualitas

27 10 2009

“Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah Aku akan mengumpamakannya?”

Salah satu kelemahan kelompok mayoritas adalah merasa diri kuat, hebat dan baik, tetapi sering kurang berkembang sebagaimana dituntut oleh perkembangan zaman, sebaliknya kelompok minoritas memang ada kecenderungan minder, tetapi juga karena merasa terjepit mereka terus mengembangkan diri dan dengan demikian berkualitas. Memang ada dilemma: berpihak pada mayoritas atau minoritas, apa saja atau yang terpilih saja.

Berpihak pada mayoritas ada kecenderungan kurang mendalam dan dengan demikian kurang bermutu tetapi merata, sedangkan berpihak pada minoritas ada kemungkinan cukup mendalam dan dengan demikian cukup berkualitas.

Jika Yesus mengumpamakan Kerajaan Allah bagaikan biji sesawi atau ragi, hal itu mengingatkan dan mengajak kita semua, bahwa yang lebih diutamakan adalah kuwalitas bukan kuantitas, mutu bukan jumlah. Maka marilah prinsip ini kita hayati lebih-lebih dalam bidang pembinaan/pendidikan atau produksi. Read the rest of this entry »





Menjalin Relasi Dengan Tuhan

26 10 2009

Menjalin relasi dengan Tuhan itu penting; bukan hanya dalam konteks kehidupan kita sebagai pribadi, melainkan juga dalam konteks kehidupan kita sebagai Gereja. Dalam hidup pribadi, seumpama hidup kita ini sebuah film, maka Tuhan adalah Sutradaranya. Sebagai Sang Sutradara, Dia tentunya mempunyai tujuan dengan memberi kita “peran” seperti yang ada sekarang; lahir sebagai si anu; dari keluarga anu; di negara anu; dengan sifat dan talenta anu. Supaya hidup kita ini selaras dengan tujuan dan rencana-Nya, kita harus “keep contact” dengan-Nya. Tanpa jalinan relasi yang erat dengan Sang Sutradara Agung, hidup kita akan seperti layang-layang putus, terombang-ambing rupa-rupa angin kehidupan.

Dalam hidup bergereja, Gereja yang sehat adalah Gereja yang memiliki relasi yang baik dengan Tuhan: ia tidak akan surut menghadapi hambatan zaman, tidak luruh dengan tantangan dari dalam. BUkan berarti di sana tidak akan ada masalah — selama di dunia, masalah itu selalu ada, tak terhindarkan — tetapi apa pun masalahnya, akan mampu ditangani dengan baik dan dewasa. Tidak akan sampai merusak fondasi persekutuan yang ada.

Maka, andai sekarang kita tengah mengalami kekosongan jiwa; merasa hidup ini hampa, susah bersyukur dan menikmati apa yang ada, jangan-jangan akar masalahnya karena kita tidak memiliki relasi yang baik dengan Tuhan. Begitu juga kalau Gereja kita ribut terus, hal-hal kecil pun bisa jadi besar, rasanya tidak ada damai sejahtera atau sukacita dalam hidup bergereja. Jangan-jangan Gereja kita kurang memberi tempat pada relasi dengan Tuhan. Hanya sibuk dan terus saja sibuk. Jika demikian adanya, tidak ada cara lain, raih kembali keteduhan bersama Tuhan, Sang Sumber Hidup.

Renungan Harian “Gloria”





Mata Hati, Mata Iman

25 10 2009

“Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!”

Indera `mata’ atau penglihatan merupakan salah satu dari lima indera yang cukup penting. Orang buta berarti mengalami kekurangan atau kelemahan untuk menerima aneka informasi yang dapat dilihat dan dinikmati melalui mata; yang bersangkutan juga dapat dengan mudah ditipu atau dikelabui orang lain. Dengan mata atau penglihatan yang baik kita dapat menikmati panorama atau pemandangan yang indah serta menyegarkan, entah itu tanaman, binatang maupun manusia atau alam pegunungan, dst. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan orang buta, yang berteriak-teriak mohon penyembuhan dari Yesus. Yesus pun tergerak hatiNya oleh belas kasihan dan akhirnya menyembuhkan orang buta tersebut sehingga dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!’, demikian sabda Yesus kepada orang buta tersebut, dan ia pun sembuh, dapat melihat, kemudian “ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya”

“Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Mrk 10:52)

Mungkin di antara kita tidak ada yang buta matanya, namun kiranya ada yang kabur atau buta mata hatinya. “It be better to follow the blind man than to follow the blind heart”, demikian rumor yang berkembang ketika Gus Dur, yang buta matanya, terpilih menjadi presiden RI. Ungkapan tersebut apakah merupakan bentuk kekecewaan atau kebanggaan, nampaknya tidak jelas. Saya pribadi terkesan dengan rumor tersebut, dan setelah saya refleksikan hemat saya memang benar bahwa buta mata hati lebih merugikan daripada buta mata phisik. Buta mata hati berarti tidak/kurang beriman, sehingga orang yang buta hatinya akan hidup seenaknya sendiri, mengikuti selera pribadi, tidak mengikuti kehendak Tuhan atau menghayati janji-janji yang pernah diikrarkan. Read the rest of this entry »