In Memoriam: YB Mangunwijaya, Pr

13 02 2009

Oleh Vincentius Samudera

Tak terasa 10 th. telah berlalu sejak Romo Mangunwijaya, Pr meninggalkan kita pada tanggal 10 Februari 1999, dan dimakamkan di Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta. Sebagai pengagum dan penggemar karya-karya tulis almarhum, saya mengajak Anda untuk ikut mengenang sejenak jasa dan karya beliau.

Romo Mangun adalah satu di antara segelintir tokoh nasional dan imam Katolik yang kepribadiannya dan perjuangangannya untuk memanusiakan manusia yang tertindas dan tersingkir perlu digugu lan ditiru, terlebih oleh generasi muda kita yang sedang membutuhkan tokoh panutan yang berkepribadian kuat, religius, cerdas, kreatif, mandiri, berani berkorban, berani mempertahankan kebenaran, berani menentang kekuasaan/penguasa yang korup dan menjajah wong cilik .

“Pemujaan kepada Tuhan Yang Mahabesar diungkapkan lewat pengangkatan manusia hina ke taraf kemanusiaan yang layak, sebagaimana dirancang Tuhan pada awal penciptaan, tetapi dirusak oleh kelahiran hukum rimba buatan manusia.”
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya dilahirkan di Ambarawa, Jateng, pada tanggal 6 Mei 1929. Dari tahun 1945 – 1946 beliau menjadi prajurit BKR, TKR Div.III, Bat.X, Kompi Zeni, dan dari th. 1947 – 1948 menjadi Komandan Seksi TP Brigade XVII, Kompi Kedu. Th. 1951 masuk Seminari dan ditahbiskan menjadi imam pada th. 1959. Belajar arsitektur di ITB pada th. 1959 – 1960, dan di Sekolah Teknik Tinggi Rhein, Aachen, Jerman, pada th. 1960 – 1966. Menjadi Fellow of Aspen Institute for Humanistic Studies, Aspen, USA pada th. 1978. Menjadi dosen luar biasa jurusan Arsitektur di UGM dari th. 1967 – 1980. Sebagai arsitek indipenden sejak 1967 telah membangun a.l. : Kompleks Peziarahan Sendangsono; Gedung Keuskupan Agung Semarang; Gedung Bentara Budaya Kompas-Gramedia Jakarta; Rumah Arief Budiman; Gereja Katolik di Klaten (Maria Asumpta), di Jetis Yogya, di Cilincing, Jakarta; Markas Kowilhan II; Pertapaan Bunda Pemersatu, Boyolali; dan Rumah sendiri di Gg. Kuwera, Mrican.

Dalam melaksanakan tugas pokoknya sebagai imam praja, Romo Mangun memilih tradisi nabi yang bekerja dengan gugatan-gugatan untuk pertobatan individu, spontanitas religius rakyat jelata, dan partisipasi publik. Ia minta ijin dari pimpinan keuskupan untuk tinggal di luar tembok gereja, berdampingan dengan masyarakat kelas bawah dan berkarya langsung bersama dan untuk mereka. Cara kerja dan keyakinan ini dapat kita rasakan di hampir semua tulisannya. Perjuangannya untuk membela hak-hak wong cilik dilaksanakannya sebagai pekerja sosial di antara penghuni di tepi kali Code, Yogyakarta antara th 1980 – 1986; dan sebagai pembela dan pendamping warga korban pembangunan waduk Kedung Ombo di th. 1986 – 1994.

Sebagai seorang penulis, Romo Mangun sangat rajin dan produktif hingga pada saat menjelang akhir hayatnya, ketika sedang mengikuti seminar “Meningkatkan Peran Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Indonesia Baru” di Hotel Le Meridien, Jakarta. Almarhum telah menulis sekitar 400 artikel/esai di Kompas, termasuk 2 cerpen dan 3 cerbung, 12-san surat Redaksi Yth. dan selama lebih dari 5 tahun menulis renungan Natal dan Paskah. Beliau juga menjadi kolumnis di berbagai majalah dan koran dari th. 1968 – 1999. Sekitar 10 novel telah ditulisnya, antara lain: Burung-burung Manyar (1980), Balada Becak(1985), dan Balada Dara-dara Mendut (1993). Karya tulis non-fiksinya berjumlah 26, di antaranya: Ragawidya (1975), Mencari Bentuk Ekonomi Indonesia (1982), Sastra dan Religiositas (1982), Menuju Republik Indonesia Serikat (1998), Gereja Diaspora (1999). Selanjutnya Romo Mangun banyak menulis Kata Pengantar/Pengantar , dan Epilog untuk buku-buku yang ditulis oleh orang lain. Disamping itu ada sekitar 16 buku yang ditulis oleh teman-teman almarhum yang berisi tanggapan-tanggapan dan tulsan-tulisan yang dipersembahkan kepada beliau misalnya Tinjauan Kritis atas Gereja Diaspora Romo Mangun (1999), Y.B Mangunwijaya, Pejuang Kemanusiaan (1999) dll.

Sebagai budayawan, sastrawan, arsitek dan pejuang kemanusiaan, beliau memperoleh 10 tanda jasa/penghargaan nasional dan 4 penghargaan internasional. Salah satu buku yang dipersembahkan untuk mengenang beliau yang menurut saya menarik untuk dibaca saat ini adalah Memuliakan Allah, Mengangkat Manusia, yang diterbitkan oleh Kanisius, Yogyakarta, 30 Maret 1999, dan berisi 14 tulisan Romo Mangun yang pernah diterbitkan diberbagai majalah. Di antara isinya banyak yang bisa dibaca sebagai bekal dalam Pendalaman Iman APP 2009. Berikut dua cuplikan dari buku tsb.:

“Semua agama berdedikasi untuk memuja, memuliakan Yang Mahaagung yang disembah sebagai Yang Tertinggi, Yang Mahakuasa. Hanya tradisi para murid Yesuslah yang untuk pertama kali dalam sejarah keagamaan secara serius memulai suatu arus baru: berpaling kepada manusia, berichtiar mengangkat nasibnya, menyembuhkannya dari berbagai derita, sakit, kesewenang-wenangan dan eksploatasi, agar terbebaskan dari keterbelakangannya dalam banyak dimensi. Semangat Kristiani disamakan dengan semangat perikemanusiaan, khususnya dan terutama terhadap mereka yang sekama ini tidak dianggap, bahkan dipaksa hidup tanpa martabat dan kemanusiaan. ” (Hal.15)

“Manusia pun harus belajar dari masa kekanak-kanakannya melalui trial-and-error dan krisis-krisisnya agar menjadi dewasa. Kedewasaan itu mendorong dunia Kristen/Katolik untuk menyadarkan umatnya, agar sukalah di planet bumi yang hanya satu ini, di mana nasib kita saling kait-mengait dengan semua orang dari semua agama, keyakinan serta kepercayaan, untuk bersama menata hidup serta struktur-strukturny a; karena Tuhan memberi matahari maupun hujan kepada semua orang. Pengumpulan dana dan hadiah-hadiah kepada kaum miskin adakah baik sekali. Akan tetapi, lebih mendasar, lebih penting, dan vital menentukan ialah bagaimana menyusun struktur-struktur kehidupan, baik struktur cara berfikir dan cita rasa kita maupun struktur-struktur ekonomi, politik, dsb. Universitas dapat berperan dalam perkembangan pendewasaan cara berfikir dan berperasaan kita, maupun dalam daerah-daerah perkembangan materiil. Semoga.” (Hal.109).

Romo Mangun juga berusaha meningkatkan martabat manusia melalui pendidikan yang dapat dinikmati oleh rakyat jelata, oleh anak-anak jalanan. Ia bukan saja berusaha membangun sekolah yang gratis yang tidak hanyut dalam arus neokapitalisme global dan komersialisasi/ komoditisasi pendidikan, namun ia juga bereksperimen dengan metode-metode dan kurikulum yang manusiawi melalui SD Eksperimental Mangunan yang kini dikelola oleh Yayasan Dinamika Edukasi Dasar di Yogya.

Vincentius. Lingk.XI, Paroki Katedral, Pwt. < samudrav@yahoo. com>

Advertisements

Actions

Information

2 responses

13 03 2009
ignatius

10 tahun perginya sang punakawan adakah penerus perjuangannya.

16 05 2009
andreas

sisi lain mangunwijaya

Dari banyak segi dan aneka warna manusia Mangunwijaya, kerjanya dan panggilan hidupnya, barangkali agak kurang tajam disoroti Mangunwijaya dalam ‘Kebermainannya’, Sang Homo Ludens ini. Padahal sejatinya dari ‘kebermainan’ inilah kualitas dan citra kemanusiaan, kemerdekaan dan kesejatian dapat ditelusuri jejaknya.

Romo Mangun menulis di Kedung Ombo 6 Mei 1990 sebagai berikut :
“…. kebermainan manusia sangat erat hubungannya dengan spontanitas, autentisitas, aktualisasi dirinya secara asli menjadi manusia yang seutuh mungkin. Oleh karena itu ia menyangkut dunia dan iklim kemerdekaan manusia, pendewasaan dan penemuan sesuatu yang dihayati sebagai sejati. Bermain mengandung aspek kegembiraan, kelegaan, penikmatan yang intensif, bebas dari kekangan atau kedukaan, berporses emansipatorik; dan itu hanya tercapai dalam alam dan suasana kemerdekaan.
Manusia yang tidak merdeka tidak dapat bermain spontan, lepas, gembira, puas”.

(dari pengantar Mangunwijaya untuk buku Johan Huizinga Homo Ludens : Fungsi dan Hakekat Permainan Dalam Budaya, LP3ES 1990)

Mangun melalui Atik dalam novel Burung-burung Manyar mengungkapkan lebih jauh tentang penghayatan jati diri dan dimensi kualitas kemanusiaan ini yang menurut saya berangkat dari kebermainan sang homo ludens ini…

Silah kunjung
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/03/burung-burung-manyar-mangunwijaya-dalam.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: