Penjala Manusia

30 11 2009

“Kamu akan Kujadikan penjala manusia.”

Kalau saja Yesus hidup di jaman sekarang, membayangkan apa yang akan dikatakanNya saat menghampiri saya sedang bekerja mungkin akan menjadi “Ayo ikut Aku, kamu akan saya jadikan konsultan manusia”. Maklumlah profesi saya konsultan yang pekerjaannya berkeliling membantu perusahaan yang ingin lebih maju lagi. Membantu perusahaan yang sekarang no 1 di pasar Indonesia, tapi tetap ingin menjadi yang terkemuka ditingkat regional bahkan tingkat dunia. Membantu perusahaan yang pusing menghadapi ribuan karyawannya dan mengajak mereka semua ‘lari’ menuju tujuan yang sama. Kalau pengusaha dengan 40-50 orang karyawan mungkin gak perlu konsultan, semua bisa ditangani sendiri. Tapi kalau sudah ribuan dan tersebar dimana-mana dengan berbagai tingkatan… wah wah.. superman lah namanya kalau mau one man show.

Maka saya bisa memahami bahwa konteks panggilan Yesus pada setiap orang, setiap pribadi adalah sesuai dengan pemahaman mereka ’saat’ itu. Read the rest of this entry »





Ajakan untuk Mawas Diri

29 11 2009

“Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”

Memasuki Masa Adven Tahun Baru dalam Liturgi C-1 bacaan menyuguhkan peristiwa akhir zaman. Kita juga sedang disuguhkan film akhir zaman (kiamat) 2012 yang menghebohkan karena sensasi isi film sampai berpengaruh terhadap perkembangan anak zaman. Bagaimana sikap kita menghadapi semuanya itu? Ada dua pilihan yang ditampilkan Lukas sehubungan dengan akhir zaman. Orang yang mengalami bencana dikatakan akan melihat Anak manusia datang dalam kemuliaannya. Kekuatan jahat sudah dimusnahkan oleh Tuhan dan kini Anak manusia yakni Yesus menerima kuasa atas seluruh alam semesta. Yerusalem telah punah hancur karena dihuni oleh kekuatan-kekuatan jahat yang menolak kehadiran Yesus. Pilihan kedua adalah Yerusalem menjadi kota suci yang menerima Yesus. Kota Yerusalem bukanlah menjadi realitas fisik melainkan sudah menjadi realitas iman.

Apakah realitas iman kita menolak atau menerima Yesus, secara khusus dalam masa penantian masa Advent ini? Lukas mengajak kita umat beriman kristiani untuk berjaga-jaga agar hati kita tidak dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekawatiran hidup sehari-hari. Read the rest of this entry »





Dialog Cara Dewasa Menjadi Indonesia (Mgr Pujasumarta)

29 11 2009

SURAT GEMBALA ADVEN 2009

Saudari-saudara terkasih, seluruh umat Keuskupan Bandung,

Masa Adven 2009 kita mulai pada hari ini Minggu, 29 November. Pada waktu ini saya sedang dalam perjalanan mendampingi Cardinal Jean Louis Tauran, Presiden Dewan Kepausan untuk Hubungan Antaragama (Pontifical Council for Interreligious Dialogue) dalam perjalanannya di Indonesia.  Di dalam perjalanan ini terpikir, betapa saya telah meninggalkan Keuskupan Bandung cukup lama. Dengan surat ini saya ingin menyapa umat Keuskupan Bandung yang terkasih.

Sejak hari Selasa,  24 November 2009, Bandung  saya tinggalkan untuk mengadakan perjalanan cukup lama, karena saya baru akan sampai di Bandung lagi 1 Desember 2009. Tugas ini  berkaitan dengan penunjukan saya sebagai anggota dari Dewan Kepausan untuk Hubungan Antaragama (Pontifical Council for Interreligious Dialogue), dan perutusan dari Konferensi Waligereja Indonesia. Selama waktu tersebut Cardinal Tauran mengadakan kunjungan pastoral sekaligus official di Indonesia. Cardinal Tauran singgah di beberapa kota: Jakarta, Denpasar, Makasar dan Yogyakarta. Maksud kunjungan itu tentu berkaitan dengan tugas pokoknya memajukan dialog antaragama di Indonesia. Saat ini saya sedang berada di Makasar.

Selama saya di Bandung saya menyaksikan sudahlah banyak usaha-usaha dialog antar agama dilakukan dalam berbagai macam kesempatan, agar persaudaraan sejati benar-benar terwujud di antara warga masyarakat kita. Read the rest of this entry »





Kardinal Tauran, Bangun Dialog Antaragama

28 11 2009

Sabtu, 28 November 2009 | 03:56 WIB Oleh H. Witdarmono Silakan

Sumber http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/28/03565647/kardinal.tauran.bangun.dialog.antaragama

Peristiwa menara kembar World Trade Center di New York, Amerika Serikat, 11 September 2001, telah mengubah wajah agama. Agama bisa dijadikan legitimasi untuk menebar teror. ”Tak ada gunanya kita beragama. Agama telah meracuni semuanya,” kata Christopher Hitchens, penulis buku God is Not Great: How Religion Poisons Everything, 2007.

Kardinal Jean-Louis Tauran, Presiden Pontifical Council for Interreligious Dialogue (PCID), menilai peristiwa ”9/11” dan buku Hitchens membuat orang muda di berbagai belahan dunia meninggalkan agama. Mereka tak ingin tahu agama. Bahkan, bagi mereka, mengolok-olok agama, mencemarkan para tokohnya dengan karikatur bukan lagi hal tabu.

”Pencemaran agama bukanlah sebuah kemajuan peradaban,” ungkap Kardinal Tauran dalam pertemuan dengan para tokoh Nahdlatul Ulama di Jakarta, Kamis (26/11). ”Paus Benediktus XVI mengecam keras pencemaran agama,” katanya.

Urusan eksistensi agama, khususnya bagaimana membangun dialog antaragama, merupakan alasan Kardinal Tauran berkunjung ke Indonesia. Sebagai Presiden PCID atau Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (jabatan setingkat menteri), Kardinal Tauran mengajak para pemimpin agama di berbagai negara untuk menempatkan kembali agama sebagai jiwa kemanusiaan.

”Indonesia menjadi istimewa dalam kaitan dengan eksistensi agama, dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia. Yang dilakukan umat Islam di sini berpengaruh bagi wajah Islam di dunia,” ungkapnya saat bertemu para tokoh Muslim di Wahid Institute, PBNU, dan PP Muhammadiyah. Read the rest of this entry »





Firman Tuhan: Hidup Sepanjang Masa

27 11 2009

“Langit dan bumi akan berlalu tetapi perkataanKu tidak akan berlalu.”

Kitab Suci ditulis dan mulai digunakan ratusan atau ribuan tahun yang lalu, namun sampai kini masih tetap fungsional dan up to date. Mungkin Kitab Suci terbakar atau hanyut kena air bah/banjir, tetapi isi tetap hidup dalam diri manusia dan mungkin juga diturunkan atau diteruskan pada anak cucu atau keturunannya. “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu”, demikian sabda Yesus. Di hari-hari terakhir tahun Liturgy ini kita memang diajak mawas diri: apakah aneka macam nasehat atau ajaran baik yang telah kita terima melalui orangtua, guru/pendidik, saudara atau sahabat, masih hidup serta menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita.

Secara organisatoris kita diharapkan mawas diri: apakah spiritualitas/charisma atau visi pendiri organisasi atau paguyuban masih menjiwai cara hidup dan cara bertindak anggota, apakah para anggota semakin menghayati spiritualitas/charisma atau visi? Sebagai suami-isteri, apakah kita semakin saling mengasihi dan memberikan diri, sebagai pekerja apakah semakin terampil bekerja, sebagai pelajar apakah semakin terampil belajar. Bercermin pada sabda hari ini kami juga mengingatkan pada orangtua: hendaknya mewariskan kepada anak-anak nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup, bukan harta benda atau uang, antara lain mengutamakan pendidikan anak-anak daripada kepentingan lainnya, mengutamakan `human investment daripada material investment’.

Demikian juga kepada para penentu kebijakan hidup bersama, lebih-lebih dalam hal tenaga dan dana, kami harapkan mengalokasikan tenaga dan dana yang memadai untuk pelayanan atau karya pendidikan. Selanjutnya karya pendidikan juga diperhatikan dengan baik agar tidak terjadi kemerosotan moral separti korupsi, manipulasi alias `menyontek’; utamakan pendidikan budi pekerti atau nilai dalam karya pendidikan atau di sekolah-sekolah.[Ign. Sumarya SJ] Read the rest of this entry »





Yang Tidak Bisa Diucapkan Papa

26 11 2009

Tulisan ini saya dapat dari milis tetangga yang sumbernya tidak diketahui, semoga kita bisa mensyukuri cinta seorang ayah pada anak perempuannya yang sering sulit terkatakan.

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya….. Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya. Lalu bagaimana dengan Papa? Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu? Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian? Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil…… Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu… Kemudian Mama bilang : “Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya” , Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka….Tapi sadarkah kamu? Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba. Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : “Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang” Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi? Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : “Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!” Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Read the rest of this entry »