“Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu.“
Saat ini negri kita sedang gonjang ganjing akan berita yang pencaplokan budaya oleh negara tetangga, bahkan persoalan makin merembet ke soal-soal lama yang sungguh berbeda urusannya. Saya akhirnya tergelitik untuk memperhatikan masalah ini, ternyata belum ada penjelasaan atau pengumuman resmi secara kenegaraan bahwa negara jiran yang merupakan tetangga kita tersebut berniat mengakui budaya Indonesia.
Memang ada di dalam iklan pariwisata mereka, sekelumit iklan Tari Pendet dari Bali ini rupanya menjadi sumber ketersinggungan kita, menganggap itu sebuah pengambilan budaya. Ketika mendengar penjelasan Mentri Budaya dan Pariwisata, Jero Wacik di Metro TV semalam, jelaslah tampak kita mudah marah tanpa jelas dulu duduk perkaranya. Diceritakan oleh beliau, ketika terjadi masalah Reog Ponorogo 2 tahun yang lalu, itu adalah kesalahan biro iklan swasta disana, pemerintah Malaysia tidak ikut campur, tetapi setelah diajak bicara baik-baik, mereka paham dan langsung mengoreksinya serta minta maaf. Bagaimana jika terjadi sebaliknya? Read the rest of this entry »
Persoalan najis dan tidak najis, atau halal dan tidak halal, sering kali menjadi perdebatan yang mengundang kontoversi yang sengit dalam kehidupan beragama, terutama dalam aga-agama besar di dunia. Misalnya persoalan: manakah makanan yang dianggap najis dan mana yang tidak. Manakah orang-orang yang dianggap najis dan manakan orang-orang yang dianggap bersih. Manakah pikiran-pikiran yang dianggap najis dan manakah yang tidak. Persoalan tersebut di atas menjadi sangat hangat dan panas tatkala orang-orang menggunakan latarbelakang pemikiran agama menjadi sumber utama.
Hari ini Misa pagi retreat pewarta dan pengajar BPK PKK KAJ di cipanas, dipimpin romo Andang SJ, Vikep KAJ, kami diajak merayakan pesta Yohanes Pembaptis. Seorang kudus yang kelahirannya pun telah dipersiapkan untuk membuka jalan bagi Sang Juru Selamat. Dari semenjak dalam kandunganpun ia sudah merasakan kehadiran Tuhan, saat ibunya Elisabet bertemu Maria yang mengandung bayi Jesus ia melonjak kegirangan. Saat mulai pelayanannya, ia mempertobatkan banyak orang dan membaptis dengan cara yang berbeda dengan tata cara yang umum. Kehidupannya juga jauh dari kenyamanan, kaul kemiskinan sudah dianutnya terlebih dahulu. Sehingga kehidupan nya merupakan kesaksian kebenaran akan Jalan Tuhan.
Termasuk kelompok manusia macam apakah saya ini, hamba yang setia dan bijaksana, hamba yang oportunis, hamba yang ambisius, hamba yang jahat, culas dan munafik atau apa? Pertanyaan ini terus dan selalu muncul disaat saya selesai melakukan tugas, memutuskan sesuatu, beraktivitas, mengungkapkan emosi, acuh tak acuh, diam melihat kesalahan, ikut berbuat salah atau berbuat baik menurut versi saya.
Saat kita menjelang tidur, saat rasa mengantuk luar biasa menyerang, sebenarnya kita dihadapkan pada satu keadaan antara hidup dan mati. Beberapa orang yang pernah merasakan pingsan dan menjelang koma, mengatakan bahwa rasanya seperti mengantuk yang luar biasa dan tidak tertahankan lagi. Saya pernah mengalaminya juga saat terjadi pendarahan diwaktu kelahiran anak kedua. Pipi saya ditepuk-tepuk perawat : bu bangun dong, jangan tidur, dilawan ngantuknya. Anak ibu lebih membutuhkan ibu ! Kata-kata perawat itu seperti petir yang ‘membangunkan’ saya dari rasa kantuk. Seorang romo yang memiliki masalahdi saluran tenggorokannya mengatakan hal serupa, saat menjelang tidur adalah saat yang bisa menyiksa. Ia bisa sesak nafas tiba-tiba dan sewaktu-waktu bisa meninggal. Maka saat menjelang tidur ia tidak yakin apakah bisa bangun lagi.










Bagaimana menurut Anda?