Pawang Hujan

30 06 2009

Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”

Tahun 1987 saya bersama teman-teman mengadakan fund raising ”Ice cream party” di lapangan basket terbuka Sekolah Kanisius – Jakarta, dalam rangka pendanaan Ziarek untuk mahasiswa, dari sinilah istilah Ziarek yang kami singkat dari kata Ziarah dan Rekoleksi dikenal dan semakin meluas, bahkan diplesetkan menjadi Ziarah dan Rekreasi.

Acara yang diselenggarakan dari pagi hingga siang hari itu masih dalam periode musim hujan, dan kami tidak punya budget untuk memanggil pawang hujan, selain itu juga saya kurang percaya. Untunglah ada seorang teman yang juga panitia, mengatakan: ”Mengapa tidak minta sama Tuhan Yesus saja, karena seorang suster beri tahu aku, jika kita percaya tidak Hujan, maka tidak akan hujan.” Read the rest of this entry »





Siapa Yesus Bagiku?

29 06 2009

“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaat-Ku.” -HARI RAYA SANTO PETRUS DAN PAULUS, Rasul

Di saat traveling dalam rangka tugas ke beberapa kota seperti sekarang ini, ada masa dimana saya memiliki waktu dan jarak untuk melihat kembali kehidupan yang telah dijalani. Ada saat dimana saya menengok kembali apa yang telah dijalankan dan bagaimana membuat nya lebih baik lagi, terutama bagi orang -orang yang telah diberikan Tuhan melangkah menemani pengembaraan saya di bumi: bagi suami dan anak-anak. Apa arti kehadiran mereka dalam hidup saya? Apakah juga kehadiran saya dalam hidup mereka memberikan arti? Termasuk membawa mereka memahami Tuhan dalam hidupnya, melalui kehadiran, perkataan dan tindakan saya?

Akhirnya saya kembali ke pertanyaan yang paling mendasar, kalau begitu mengapa Tuhan Yesus memberikan dan mempercayakan mereka pada saya? Apakah saya telah menghadirkan Yesus dalam kehidupan mereka? Atau kah saya yang buta dalam melihat kehadiran Yesus dalam diri pasanganku dan anak-anakku? Sudah cukupkah saya memberikan quality time bagi mereka? bagaimana bisa membangun hubungan yang berkualitas kalau tidak cukup waktu dan perhatian bagi mereka? Read the rest of this entry »





Kelebihan Mencukupkan Kekurangan

28 06 2009

Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan
kekurangan mereka. – 2Kor 8:14

Jaman SMU dulu, kalau ada seorang teman yang akan berulang tahun, teman-teman saya akan menyiapkan telur, terigu, dan soft drink untuk merayakannya dengan menumpahkan semuanya itu di kepala yang berulang tahun.

Di tempat saya tinggal sekarang, saya sering mendapatkan surat yang isinya meminta sumbangan bagi orang-orang di Afrika yang sangat miskin, bagi anak-anak terlantar, bagi pendidikan calon imam, dan sebagainya. Masih ada lagi kebutuhan paroki yang kesulitan membayar biaya perawatan gereja.

Kalau saya membandingkan dua kejadian ini saya jadi bertanya-tanya, ”Tidakkah sebaiknya kita sumbangkan saja untuk mereka yang lebih membutuhkan daripada menggunakannya hanya untuk bersenang-senang?”

Bagi mereka yang hidup berkelebihan, mungkin menghamburkan sedikit uang itu tidak punya arti apa-apa, tapi bagi mereka yang hidup berkekurangan, sedikit uang itu sangat berguna untuk mencukupi kebutuhan pokok mereka dan tetap hidup.

Saya percaya ketika kita diberkati oleh materi yang berlimpah, kita juga diberi tugas untuk menggunakannya dengan baik, termasuk peduli terhadap sesama kita yang kekurangan. Tuhan mempercayai kita untuk menggunakan berkatNya untuk melayani umatNya. Kita perlu ingat, apapun yang kita punya adalah pemberian dari Tuhan, dan kita patut menggunakannya dengan sebaik-baiknya. (Bahasa Kasih -Alw)





Kesombongan adalah saat kita merasa rendah hati

27 06 2009

Saudara Saudariku,
Tanpa disadari kita kerap kali mencari kesempatan untuk sombong, namun kita enggan untuk menciptakan kesempatan yang membuat kita bisa rendah hati. Kalau engkau merasa lebih pandai daripada sahabatmu, engkau akan tergoda untuk mencari-cari kesempatan bagaimana “mengalahkan pembicaraan” sahabatmu, sehingga engkau diakui sebagai orang yang memang pintar.

Kalau engkau merasa statusmu jauh lebih tinggi daripada temanmu, engkau tergoda untuk mencari-cari kesempatan bagaimana menunjukkan bahwa status ekonomi lebih mapan daripada mereka. Lihatlah caramu berbicara,
‘Mas, kita malam ini mau makan di mana?” …Dek…kita coba makan di warung makan yang baru itu ya…! Mumpung kita bisa jadi “kuliner”…

Kalau engkau merasa pendapatmu selalu benar dan lebih bagus, engkau akan tergoda untuk memberi komentar sehingga lawan bicaramu tertunduk lemas karena tidak lagi bisa berdiskusi lagi denganmu…Dia merasa tidak ada gunanya berdiskusi, toh engkau akan selalu menang!

Kalau engkau merasa berkenalan dengan seorang yang populer dan memiliki posisi strategis, terbuka kemungkinan kita akan membanggakan diri setara dengan orang itu, dan merasa bahwa orang itu adalah “wong-ku”.

Kalau engkau merasa dirimu itu orang yang “bermutu”, terbuka kemungkinan bahwa dirimu mencari kesempatan agar banyak orang mengakui keunnggulanmu, bahkan kalau perlu bisa merendahkan lawan bicaramu di muka umum.

SEBALIKNYA… Read the rest of this entry »





Enjoy Aja

26 06 2009

Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! – Mzm 128:2

Sudah sembilan belas tahun Mami berprofesi sebagai guru. Pernah suatu kali saya bertanya,” Kok Mami mau jadi guru? Padahal gaji guru itu kecil. Belum lagi kalo pas ngajar dicuekin sama murid, ditambah lagi muridnya bandel-bandel!” Dengan senyumnya yang khas Mami hanya menjawab,”Enjoy aja…!”

Ya…menjadi guru itu memang cita-cita Mami dari kecil. Mami merasa senang ketika berhadapan dengan murid atau wali murid ketika memberikan bimbingan konseling. Mami senang bisa mendengarkan keluh kesah wali murid mengenai susahnya mendidik anak mereka. Begitu juga ketika mendengar keluhan si anak, yang bilang orang tuanya kurang perhatian, tidak menngerti kebutuhan anak, dan sebagainya.

Kalau saya lihat Mami, saya bisa merasakan bagaimana dia benar-benar enjoy akan profesinya sebagai guru. Dia juga tidak pernah mengeluh masalah gaji karena baginya profesi guru adalah pengabdian bagi bangsa dan negara.
Teman, mari kita belajar menikmati profesi kita saat ini dengan penuh sukacita, sehingga kita bisa mengatakan, ”Enjoy aja…!” (Bahasa kasih – Art)

Sudahkah saya merasa “enjoy” dengan profesi saya saat ini? Read the rest of this entry »





Rumah Pasir

25 06 2009

Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.

Tuhan sudah berulang kali mengatakan, bahwa untuk percaya, melalui doa, iman dan perbuatan. Semua harus selaras dan saling berhubungan, karena tidak cukup dengan doa saja tanpa mengimani, karena ini sama seperti seorang atheis yang terjebak dalam bahaya besar, sehingga terpaksa dia berdoa kepada Tuhan, tetapi tanpa iman.

Bahkan ada teman yang mengatakan, saya memilih beriman saja tanpa harus berdoa atau beribadat, inipun akan mengalami kekeringan, karena bagaimana mungkin kita dapat beriman dengan baik kepada Tuhan, tetapi tidak pernah berdoa atau beribadat, karena doa adalah sarana kita berkomunikasi dengan Tuhan. Memang Dia tahu segalanya, tetapi jika kita tidak pernah mengetuk, kita tidak pernah meminta dan tidak pernah menyapa, maka segala kebutuhan dan harapan kita sebatas diketahui saja, tanpa pernah diberikan oleh Tuhan (Mat. 7:7-9).

Cukupkah itu, sudah seperti orang paling beriman, berdoa/beribadatpun sudah sering bahkan sebagai imam atau pemimpin ibadat, namun perbuatan kita jauh dari melayani sesama, mudah marah dan mendendam orang yang tidak kita sukai, bahkan menyalib orang yang lemah, miskin, tua dan sebagainya, bahkan punya prinsip SMS, senang melihat sesama susah dan susah melihat sesama senang, bahkan kerap kali mempengaruhi atau mengajak orang lain untuk memusuhi secara bersama-sama, bukankah ini sama dengan sikap mengingkari Tuhan Yesus. (Mat. 5:44). Read the rest of this entry »