Pentakosta Sini – Kini

31 05 2009
Dalam bilik kekinian yang individualis,
ada desakan untuk menerima universalitas RohMu yang membahana.
Dalam bilik kesinian yang terbelenggu oleh lokalitas pragmatis,
ada tantangan kuat untuk berandai-andai menjelajahi daerah-daerah misi yang belum pernah dikunjungi.
Dalam orientasi pada diri yang picik ibarat ‘katak di dalam tempurung’,
ada desakan kuat untuk segera peduli pada keselamatan ‘domba-domba yang senantiasa siap dibunuh dan ditelan oleh serigala’.
Dalam romantisme kebersamaan yang diwarnai tawa dan ria dan kepulan asap rokok kretek,
ada jeritan di luar sana yang datang dari mulut-mulut massa yang bermimpi tentang keselamatan dan keadilan.
Dalam kepribadian yang dikunci rapat oleh hasrat memuaskan diri yang tidak kenal kata imperatif “cukup”,
ada kata penuh janji, makna dan mantra, yang mesti diberi ruang penuh tanpa sisa dosa dalam diri.
Dalam kebersamaan rasuli, yang ditemani oleh Bunda Maria penuh rahmat sejak terkandung,
ada penantian penuh rasa takut dan gentar untuk menerima Api atau Angin yang siap mengubah citra diri insani.
Dalam kemiskinan dan inferioritas kawanan kecil,
Tuhan Allah, yang enegik dan nakal, mau eksis selalu mendampingi para kekasihNya,
di dalam langkah-lankah  peziarahan yang sering tidak menentu oleh liputan kabut kusam mematikan.
Dalam Dia ada daya ilahi dan sekaligus janji-janji tuk dipenuhi;
Dalam Dia ada misteri yang menuntut kesigapan diri untuk menanggapi;
Dalam Dia bukan cuma repetisi, karena ada desakkan kuat untuk segera beraksi.
Dalam Dia sini-kini kan berarti, karena yang ’Akbar’ hadir nyata slalu membumi.
Jakarta, 31 Mei 2009.
H.Wardjito SCJ




Bukan Cinta Sejati

31 05 2009

Bukanlah cinta sejati, bila engkau sudah membanggakan diri karena engkau rajin bekerja setiap hari, karena jati dirimu sesungguhnya bukan pada pekerjaan itu melainkan pada sikap batinmu, mengapa engkau mau bekerja?

Bukanlah cinta yang sesungguhnya, bila sebagai isteri engkau sudah rajin membuatkan teh hangat, kopi panas, untuk suamimu, namun tidak ada sepatah kata pun terucap menyapa pasanganmu, “Mas, sehat? Mau dibuatkan teh hangat?”

Bukanlah cinta yang sebenarnya, bila sebagai suami, engkau rajin mengantar isterimu ke kantor, belanja, dst, bahkan engkau pun suka diperintah. Namun engkau jarang lebih dulu menyapa isterimu, “Ma, mau diantar ke pasar?”

Bukanlah cinta sejati, bila engkau suka memberi yang terbaik pada anakmu, namun jarang sekali engkau memberikan kesempatan pada anakmu untuk berusaha membuat keputusan. Engkau memang selalu membelikan baju yang mahal, sepatu yang kuat, tas juga mewah, bahkan makananpun selalu enak, seperti di restaurant, pulang pergi sekolah juga diantar dengan mobil. Read the rest of this entry »





Salib Katolik, So What?

30 05 2009

“Mengapa kamu banyak sekali menggantung Salib? Hampir setiap kamar ada Salib. Seakan kamu menyalibkan Yesus dimana-mana.” Kata Andi kepada Beti ketika Andi berkunjung ke rumah Beti sahabat karibnya. Kebetulan Beti adalah seorang Katolik.

“Anehnya adalah mengapa Salib orang Katolik masih menggantungkan tubuh Yesus di Salib? Bukankah DIA sudah bangkit dan naik ke Surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa?” Andi melontarkan pertanyaan retoris kepada Beti. Sebenarnya Andi tahu bahwa Beti pun percaya hal yang sama.

“Orang Kristen percaya bahwa Yesus Kristus telah bangkit dan naik ke Surga. Itulah mengapa Salib orang Kristen tidak menggantungkan tubuh Yesus Kristus. Lagi pula kami tidak menggantung Salib di setiap kamar.” Lanjut Andi lagi seolah tidak memberi waktu kepada Beti untuk menjawab.

“Lihatlah, Salib-salib itu banyak sekali bentuknya. Ada yang terbuat dari kayu, ada yang dari besi, bahkan ada yang dari aluminium. Bukankah Salib Yesus itu terbuat dari kayu?” Celoteh Andi lagi sambil memegang Salib aluminium besar yang berdiri kokoh di sebuah meja sudut di ruang tamu. Kali ini Beti hanya tersenyum simpul menanggapi sahabatnya yang seorang Kristen itu.

Seminggu kemudian Beti berkunjung ke rumah Andi.

“Hai, ini foto pacar kamu?” tanya Beti ketika memandang sebuah foto seorang wanita cantik berukuran besar yang diberi bingkai kayu ukiran yang mewah.

“Hus… Ini ibuku!” bisik Andi sambil meletakkan telunjuknya di depan bibirnya seolah menyuruh Beti untuk tidak berbicara keras-keras. Maklum Beti tadi bertanya dengan nada cukup tinggi.

“Ibu kamu cantik ya?” kata Beti lagi dengan suara lebih pelan.

“Hmm… Ya jelas dong. Ibu siapa dulu? Itu foto ibu ketika masih muda, mungkin waktu itu umurnya 25 tahun.” Kata Andi dengan bangga sambil membetulkan kerah bajunya yang sebenarnya tidak perlu dibetulkan baik lipatan maupun bentuknya. Read the rest of this entry »





Tersurat dan Tersirat

30 05 2009

“Agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu”

Menulis bisa membuat saya masuk dunia yang membuat saya tidak bisa berhenti mengetik apa saja yang ada dalam pikiran dan hati saat itu. Menulis membuat saya bisa melukis suatu dunia saya dengan harapan siapa tahu nanti anak cucu bisa membaca isi coretan hati. Melalui tulisan kita bisa berbagi berbagai pengalaman dan pandangan hidup, siapa tahu ada suatu karya bersama bisa dilakukan menjadi kenyataan. Tapi herannya rata-rata penulis yang baik itu hobbynya adalah membaca. Semakin banyak yang mereka baca, semakin berbobot isi tulisan mereka.  Membaca membuat kita juga merasa lapar terus, begitu selesai membaca kita merasa… kok ternyata kita gak tahu apa-apa ya?  Tapi yang terlebih lagi membaca segala hal yang positif justru membersihkan diri dan pikiran kita. David Long mengatakan: You are what you read – perilaku kita bahkan perkataan kita bisa berubah selaras dengan apa yang kita baca.

Maka kalau saya bertemu orang yang sulit diajak bicara dan menerima kritik demi kebaikannya, salah satu cara termudah adalah memberinya buku yang mengoreksi pemahaman dan perilakunya. Kita bisa memberi kritik tanpa harus merasa bersalah, karena yang mengeritik adalah ’si buku’ itu sendiri. Pernah coba? Cobalah baca Injil perlahan-lahan, Roh Kudus akan membuka pikiran dan hati kita juga untuk memeriksa kehidupan kita. Read the rest of this entry »





I Will Follow Him

29 05 2009

“Ikutlah Aku.”

Krisis kepemimpinan rasanya sudah merambah keberbagai wilayah kehidupan bangsa ini.  Coba saja kita perhatikan usia para pemimpin yang ada di berbagai organisasi besar, terutama yang memiliki pengaruh dan jumlah anggota yang amat banyak. Baik itu organisasi keagamaan, partai politik, lembaga profit dan non profit dan juga perusahaan yang sudah berdiri diatas 20 tahun.  Tidak banyak organisasi yang mempersiapkan pemimpin-pemimpin baru yang siap memegang tongkat kepemimpinan dalam waktu 5-10 tahun. Walhasil yang terjadi adalah one line of command. Kalaupun ada ‘pentolan-pentolan’ yang dipasang, para senior ini masih memberikan komando di belakang layar.

Dalam suatu seminar yang saya hadiri, ada 8 panelis pembicara dan hampir seratus peserta hadir. Topiknya sekitar politik dan peranan Gereja didalamnya. Menarik juga melihat dari sekian banyak pembicara hanya dua yang usianya kepala 3, tidak ada yang kepala 4 dan 5, sisanya kepala 6 dan 7. Belum lagi dari peserta yang kurang lebih merepresentasikan kelompok umur yang serupa. Wow…  jelas tampak ada generation gap disana. Belum lagi urusan gender, 10 % perempuanpun tidak ada rasanya. Read the rest of this entry »





Doakan Aku Ya

28 05 2009

“Supaya mereka semua menjadi satu”

Rasanya ungkapan di atas tersebut paling sering kita dengar bila bertemu kerabat, teman dan keluarga yang sedang mempersiapkan suatu karya besar. Entah akan test masuk sekolah, interview untuk mendapatkan pekerjaan, mau menikah, bahkan mereka yang menunaikan ibadahnya juga mereka yang maju menjadi caleg. Disatu sisi ada yang melihatnya sebagai suatu ‘pengumuman’ tapi disisi lain juga menunjukkan adanya kekhawatiran dan juga keinginan untuk berbagi kekhawatiran itu bersama. Dengan mengajak orang lain mendoakan kita, rasanya beban yang ditanggung itu menjadi lebih ringan. Orang Jakarta bilang: ’secara’ rame-rame menggoyang Surga untuk mendoakan kita getu lhooo

Saat mengucapkannya terasa enteng saja, tapi rasanya kita juga tidak mengecek apakah kita betul-betul ’sudah’ didoakan oleh orang yang kita minta itu, dan juga apakah kita memberi tahu ‘hasil doa’ ujub kita tersebut dikemudian hari? Walhasil ungkapan diatas menjadi klise, menjadi sekedar basa-basi bunga percakapan karena saking seringnya diucapkan tanpa tindak lanjut. Supaya tidak menjadi klise, dan juga supaya kita tidak lupa memegang janji, lebih baik saat itu juga kita tawarkan untuk berdoa bersama walau dengan cara dan iman berbeda. Why not? Tidak ada salah nya kan berdoa bersama 1-2 menit, bukankah mereka yang minta kita mendoakan mereka?

Perikop hari ini mengisahkan isi dari doa Yesus yang sampai saat ini belum terjawab yaitu agar mereka semua menjadi satu ” Ut Omnes Unum Sint”. Siapa ‘mereka’ yang didoakan Yesus ini dan mengapa harus jadi satu ? wah ini bisa jadi sesi diskusi teologi tersendiri bersama romo ya. Melihat konteks kejadian saat itu, dimana Yesus berdoa semalaman di taman Getsemani setelah “last supper’ , yang dimaksud mereka ini adalah para pengikut Yesus yang sebentar lagi akan ditinggalkanNya. Tetapi Ia juga berdoa bagi semua yang percaya pada pemberitaan mereka, baik yang hidup di masa  Yesus itu dan masa-masa sesudahnya. Termasuk Yesus waktu itu juga mendoakan kita di masa sekarang, agar semua yang percaya pada Yesus tidak memisahkan diri, bahkan tetap bersatu sebagai komunitas yang saling mengasihi. Bersatu dalam kasih semasa masih hidup di bumi dan juga menjaganya sampai nantinya bersatu dengan Allah Bapa,  Putra dan Roh Kudus di Surga nanti. Kita sudah didoakan Yesus justru sebelum kita minta didoakan lho? Read the rest of this entry »