Evangelization

30 04 2009

No one can come to me unless the Father who sent me draw him, and I will raise him on the last day

Meditation: Acts 8:26-40

The word “evangelization” has acquired something of a bad name lately. It conjures up pictures of wild-eyed ranting or threats of hellfire, of earnest young people ringing the doorbell and offering pamphlets, or maybe just of mildly pushy questions like, “Do you know Jesus personally?” It implies threats, bad news, and maybe even a little rudeness. How can this be? Evangelization is supposed to be the spreading of good news. So how do we share the gospel with enthusiasm and zeal, minus the negative aspects?

This reading gives a good practical example. First, Philip followed God’s leading. Fleeing the persecution in Jerusalem brought on by Stephen’s martyrdom (Acts 8:3-4), Philip ended up in the northern region of Samaria. He talked about the Messiah there, and he prayed with people for healing and deliverance. Great joy resulted as demonstrations of God’s power backed up his words. Next, Philip headed back to Jerusalem, only to sense that God was sending him away again, this time to the south. Not to a specific place, mind you, just “south.” So Philip went. Along the way, he met a chariot and heard the Holy Spirit tell him to catch up to it, and so he did. All of this is without actually knowing what God had in mind. He just followed and obeyed.

That’s when the opportunity for evangelism played out. Philip didn’t have to shout or rant or even interrupt. The fellow in the chariot received the good news readily because Philip presented it in a way that he needed to hear it. Philip had made himself available and willing, and the opportunity opened up. Note that Philip didn’t “go after” everyone he met. Instead, he listened to the Holy Spirit. And directed by God, he responded. Read the rest of this entry »





Sang Roti Kehidupan

29 04 2009

“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi”

Pagi ini saya membaca koran Kompas, ada berita Uskup Paraguay yang menjadi Presiden di negara tersebut membuat pernyataan dihadapan publiknya bahwa dia mengakui telah mempunyai anak yang beusia 2 tahun dari seorang perempuan bernama Viviana Carillo berusia 26 Tahun.

Rasanya ingin tidak percaya, tetapi semua surat kabar sangat kredibel menulis berita demikian adanya, begitu banyak yang kecewa, bahkan menurut kabar burung ada yang bunuh diri, karena sosok Fernando Lugo yang demikian mempersona, Uskup bagi kaum miskin atau “option for the poor” – tiba-tiba menjadi sosok yang begitu mengecewakan.

Saya membayangkan, seandainya ada Uskup di Indonesia yang juga seperti Fernando Lugo (maskudnya tiba-tiba punya anak), alangkah malu, heboh dan repotnya kita menghadapi ini, tetapi disisi lain Uskup juga manusia yang tidak lepas dari kesalahan dan dosa. Maka dari itu sejak awal Yesus sudah mengatakan dengan tegas, sebagai Roti Hidup, Jalan Kebenaran, Empunya Kerajaan Sorga, Allah yang kita percaya, tentu tujuannya agar kita tidak kecewa dengan sosok pemimpin Gereja yang seperti ini. Read the rest of this entry »





JATUHNYA PESAWAT KAMI: Cerita dari Konfrater CM di Papua New Guinea

29 04 2009
Kesaksian berikut dikirimkan dari Frater YS Sapomo  CM  , semoga meneguhkan kita untuk senantiasa mendoakan para romo,  suster dan misionaris dimanapun juga.

Why he died and not me? Kata Bapak Uskup Gilles Cote yang sedang berbaring di rumah sakit dengan luka bakar di bagian tubuh dan tangannya, setelah pesawat terbakar dan jatuh di sungai. Pesawat yang jatuh itu berukuran kecil, yang melayani penerbangan antar paroki di keuskupan Kiunga dengan kapasitas penumpang lima orang. Sedangkan Pilot pesawat itu adalah Romo Butch, smm seorang imam Montfort dari Kanada. Para penumpang diantaranya adalah Sr. Pierrette Carignan, dw (Daughter of Wisdom), dua orang ibu, seorang bayi, dan bapak uskup. Tatkala pesawat lepas landas dari kampung Membok ternyata pesawat tidak dapat naik di atas ketinggian, dan saat itu pesawat mulai menghantam pucuk dan ranting dari pohon besar. Tampak baling-baling pesawat dan mesin pesawat mulai terbakar.

Para penumpang mulai gelisah dan panik, sedangkan Romo Butch berusaha untuk mencari tempat pendaratan sementara, namun semuanya adalah hutan dengan pohon-pohon besar. Dalam keadaan terbakar, dia segera memilih untuk mendarat di atas sungai. Saat pesawat yang terbakar berada di sungai, Romo Butch meminta bapak uskup dan para penumpang untuk melepaskan sabuk pengaman mereka. Bapak uskup yang duduk disamping pilot dan dua orang ibu yang berada di belakang bapak uskup juga segera melepaskan sabuk pengaman dan berusaha mengeluarkan diri mereka dari pesawat dalam keadaan terbakar di tubuh dan tangannya dan masuk ke dalam air sungai, sedangkan Suster Pierrette Carignan, Dw, yang duduk dibelakang pilot karena panik tidak dapat melepaskan sabuk pengamannya. Read the rest of this entry »





Tidak Lapar dan Tidak Haus Lagi

28 04 2009

“Barangsiapa datang kepadaKu ia tidak akan lapar lagi dan barangsiapa percaya kepadaKu ia tidak akan haus lagi”

Kalau mengacu pada teori motivasinya Maslow, manusia mengalami berbagai tingkatan motivasi berdasarkan kebutuhannya. Tingkat terendah adalah pemenuhan kebutuhan fisik seperti pangan, papan dan sandang. Lalu naik pada kebutuhan akan keamanan seperti takut bangkrut, PHK, keamanan lingkungan dan jaminan kesehatan. Ada lagi kebutuhan akan dicintai, diterima dalam komunitas dan pertemanan secara sosial…. gak heran kalau bahasa Indonesia menempati urutan kedua terbanyak digunakan di FB (Facebook) ! Kayaknya semua orang harus tahu apa yang saya lakukan :D Tingkat berikutnya adalah kebutuhan akan penghargaan yang kadang sulit dimengerti orang lain. Kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan self esteem bisa berakibat fatal seperti banyaknya kasus bunuh diri di Jepang;  kalau di Indonesia ratusan caleg stres berat menghadapi kegagalan peraihan suara. Tingkat kehausan dan kelaparan manusia tertinggi menurut Maslow adalah kehausan akan pemenuhan atas keadilan, kebenaran serta kebijaksanaan setara apa yang sedang diperjuangkan para korban Tragedi Semanggi,  meninggalnya David Hartanto bahkan kasus para TKI/TKW dan  kasus Manohara serta ribuan perempuan korban KDRT.  Tidak banyak orang bisa mencapai tingkat kepuasan ini karena memang dibutuhkan perjuangan yang lama dan mahal harganya.

Tantangan kita sebagai murid Kristus adalah mengenali berbagai tingkat kelaparan dan kehausan ini, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi diri orang-orang lain. Kegagalan mengenali kebutuhan diri membuat kita terobsesi pada hal-hal yang menipu diri dan berujung kekecewaan dan frustasi berkepanjangan, ujungnya bisa meninggalkan iman dan tidak lagi percaya pada Tuhan. Betulkah kita menginginkan suatu posisi karena kebutuhan finansial atau karena tidak mau kalah dengan kawan sekantor atau karena gengsi? Demikian pula bila kita alpa mengenali kebutuhan orang lain, memberikan ribuan kata-kata yang menghibur dan meneduhkan padahal yang dibutuhkan adalah pekerjaan yang menghasilkan uang bagi seorang kepala keluarga agar harga dirinya tidak jatuh. Gak heran banyak karya sosial terkesan seperti proyek mercusuar karena tidak menyentuh pada kebutuhan hakiki para korban atau warga binaan. Read the rest of this entry »





Bekerja dengan Percaya

27 04 2009

“Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.

Saya pernah gelisah sekali, ketika itu tahun 2000 menjelang kelahiran si anak bungu dan kondisi keuangan sedang morat-marit serta jobless. Sedikit beruntung, karena Aryani masih bekerja, tetapi penghasilannya hanya cukup untuk makan, sedangkan kebutuhan lain seperti biaya sekolah anak-anak, listrik, air, gas dan sebagainya juga harus dipenuhi.

Ketika itu ada rasa putus asa yang cukup besar, dan yang saya lakukan hanya berdoa dan bernovena, seolah-olah cukup dengan berdoa dan bernovena akan ada jalan keluar, akan ada rejeki yang datang, atau Tuhan akan hadir atau datang untuk menolongku, ternyata semua itu salah besar. Karena Tuhan Yesus tidak menghendaki orang hanya pasrah seperti saya, seperti yang dikatakannya diatas, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya. “

Akhirnya saya paksakan diri untuk keluar rumah, menghubungi teman-teman sambil melihat peluang yang dapat saya kerjakan, dengan keyakinan bahwa Tuhan akan membantu orang yang mau berusaha dan percaya. Karena jika diam saja dirumah bukanlah suatu jalan keluar, selain menampik rejeki dan berkat, juga menutup peluang yang akan hadir. Read the rest of this entry »





The Power of Resurrection

26 04 2009

Mg Paskah III : Kis 3: 13-15.17-19; 1Yoh 2:1-5a; Luk 24:35-48

“Kamu adalah saksi dari semuanya ini”

3rd Sunday of Easter / B / 2009 -  Fr Sarwiseso Robertus CICM, Sengkang Singapore

1. My sisters and brothers of the Risen Christ, my dear alleluiah people, people of the New Creation… It is with great joy that I address you with such grand salutations.

2. It is also most appropriate that I address you in this way. Sure, I can address you as Christians, and it is also absolutely correct to address you as children of God.

3. But this is a special time of the year for the universal Church. It is the summit of the liturgical calendar, a very special season that is the fulfillment of the salvation story.  And so, let us all rejoice at the hope that Easter gives!

4. Now if I end my sermon at this point, I would still have fulfilled my duty as preacher on the third Sunday of Easter.  Why not, because I have just made the obvious statement.  I made you all aware that we are a resurrected people.  Amen.  And we will all go home happy. Another mass completed. Another Sunday obligation fulfilled.

5. But… my sisters and brothers, this will be so superficial.  It will just remain a cliché which you hear at every Easter season.  And it will not do justice to the greatest event in the history of humankind!   It must not be another passing Easter, passing away without any real impact on our lives.    Read the rest of this entry »