Saat Awan Mendung…

28 02 2009

Saat awan mendung, selalu saja ada harapan pelangi kan bersinar indah!

Saat hati mendung, selalu ada harapan akan hadirnya Roh Tuhan yang memberikan harapan dan gairah serta semangat baru!

Saat ada banyak pertanyaan yang tidak jelas untuk diriku, selalu ada saja jawaban yang membuatku bangkit dari keterpurukan!

Saat ada banyak kebencian yang menyelimuti aku, karena ketidacocokanku, perbedaan pendapat dengan temanku, selalu ada harapan untuk berdamai kembali dengannya!

Saat ada banyak rasa enggan untuk bertemu dengan temanku, di situlah ada harapan untuk mencari dia dan lebih dahulu menyapanya, “Halooo, pa kabar?”

Saat ada banyak kebosanan, di situlah ada banyak saat untuk mencari kesegaran baru dalam Tuhan, Sang Air Kehidupan!

Saat ada banyak kegelisahan tak menentu, di situlah, kusadari aku sendiri tidak bisa mengandalkan diri sendiri, melainkan ada saat untuk mencari Tuhan, harapan satu-satunya masa depanku.

Saat ada banyak keragu-raguan untuk melangkah, selalu ada kesempatan untuk berani melangkah di tengah ketidakpastian, karena dalam ketidakpastian ada saat untuk berharap, juga kalau tidak ada alasan untuk berharap sekalipun. Read the rest of this entry »





Ikut Yesus = Sangkal Diri + Pikul Salib

26 02 2009

Kalimat yang sama ini diulang lagi, dan akan terus diulang lagi oleh Yesus kepada kita semua, karena memang inilah inti dari ajaran Yesus itu. Tetapi yang berkembang saat ini, orang berlomba-lomba ingin menguasai dunia dan menjadi nomor satu, tanpa peduli bagaimanapun caranya, termasuk mengkhianati nilai-nilai kemanusiaan.

Pernah saya menyatakan diri untuk menjadi pejuang kaum marjinal atau orang-orang yang terbuang (outsider), tetapi tentangan dari dalam mau dari luar begitu kencang bahkan sulit saya lawan. ”Kamu harus ingat, akan tanggung jawabmu mengenai 3 anak dan 1 istri yang harus diberi makan” kemudian ada lagi yang mengatakan, ”Tidak usah sok jadi pahlawan kesiangan deh” begitu juga dengan orang tua yang marah, ”Sudah disekolahkan tinggi-tinggi cuma mau jadi seperti itu..nggak pake otak” dan banyak lagi komentar dan ungkapan yang menjatuhkan mental.

Akhirnya saya menyadari, bahwa memang berat mengikuti Yesus, dan sayapun tidak ingin menelantarkan keluarga, sekaligus tidak mau dianggap tidak berterima kasih sama orang tua, maka keinginan tersebut saya simpan dulu, hingga suatu saat yang pas dan Tuhan menghendaki saya merealisasikan mimpi tersebut. Tentunya ketika itu tidak ada lagi orang yang akan menderita akibat keberpihakan sikap saya terhadap kehidupan marjinal tersebut. Read the rest of this entry »





In Memoriam: Rm FX Tan Soe Ie SJ

26 02 2009

Romo Tan, pastor yang dikenal peduli petani telah wafat kemarin di Jogya dan telah dimakamkan hari ini di Girisonta. Diantara lebih dari 500 pelayat yang datang dari Jakarta, Tangerang, Semarang, Jogya bahkan mereka yang mendoakan dari Timor Leste, saya merasakan begitu kuat kedekatan romo Tan dengan umatnya. Semangat dan pengabdiannya bagi mereka yang lemah, papa dan tersingkir ditunjukkannya kepada para penderita kusta, pengungsi timtim dan terakhir karyanya bagi petani sungguh mewarnai karya pelayanannya. Romo Tan telah selesai menunaikan tugas panggilanNya, tugas kitalah meneruskan karya romo Tan dimanapun kita berada. Selamat jalan Romo Tan, doakan kami juga setia menanggapi panggilanNya. Berikut saya bagikan sharing dari 3 imam Jesuit dari sebuah milis.

Dari Romo Andre Soegijopranoto SJ, mantan rekan kerja mengurus pengungsi Timor Timur:

Nama Tan Soe Ie pertama kali saya dengar saat saya ada di novisiat, saat menjalankan eksperimen RS di RS Sitanala Tangerang. Saya pertama heran bahwa banyak orang kusta yang menyebut nama beliau. Lama kelamaan saya mulai paham bahwa Rm Tan pernah bertugas di Tangerang dan beliau banyak membantu orang-orang Kusta di sekitar Sitanala (dan kapel Marfati) dengan memberikan pekerjaan memelihara babi. Rm Tan juga konon kabarnya pastor pertama yang datang ke komunitas “cina benteng” di Tangerang dan “mempertobatkan” banyak orang cina di sana sehingga sekarang banyak dari mereka yang telah menjadi Katolik. Cerita heroik Rm Tan yang saya dengar di RS Sitanala sangat menggugah saya sebagai seorang novis. Meskipun belum pernah bertemu, tetapi saya punya kesan yang sangat baik akan beliau. Read the rest of this entry »





Memasuki Masa Puasa

25 02 2009

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka” – Rabu Abu

Pada saat ini di jalanan dapat kita lihat aneka macam jenis bendera atau atribut partai atau tokoh politik terpasang di jalanan, ada yang ditempel di pohon, pagar tembok, berupa baliho yang besar dan ada pula yang dipasang di keinggian sebuah pohon, dst.. Tujuan atau sasaran dari semua itu kiranya untuk menampilkan diri agar dikenal banyak orang, dengan maksud agar banyak orang menilainya sebagai yang terbaik atau layak untuk dipilih. Itulah gaya hidup formalistis atau liturgis yang rasanya masih banyak dihayati oleh kebanyakan orang, baik dalam hidup dan bekerja di masyarakat, tempat kerja, organisasi maupun dalam hidup beragama. Yang paling memprihatinkan di Indonesia rasanya adalah dalam hal kehidupan beragama. Kita sering mendengar aneka info dan berita yang mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius, namun aneka macam kemerosotan hidup moral masih marak di sana-sini, lebih-lebih dan terutama dalam tindakan korupsi atau manipulasi serta kebohongan. Dalam kegiatan keagamaan pada hari raya, seperti Natal atau Idul Fitri dst..nampak bahwa orang menjalankan kewajiban agamanya, tetapi dalam hidup sehari-hari apa yang diterima dan dialami dalam ibadat-ibadat tak berbekas sama sekali. Sebagai umat Katolik mulai hari ini, Rabu Abu, kita memasuki masa Puasa, masa Retret Agung Umat, masa mawas diri dan refleksi, maka marilah kita mawas diri perihal kehidupan keagamaan atau keimanan kita.

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.” (Mat 6:1) Read the rest of this entry »





Yang Terpilih Yang Melayani

24 02 2009

“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”

Sifat dasar manusia ingin dikenal dan ingin dihargai, tampak juga pada murid-murid yang dipilih Yesus. Dari 12 orang mereka berdebat siapa yang layak mendampingi Yesus, siapa yang merasa jadi ring-1 nya Yesus, menjadi orang yang paling dipercaya…. padahal belum tahu tugas dan tanggungjawabnya. Mungkin mereka pikir fasilitas yang bakal didapat , woke banget barangkali ya? Santo Petrus mana pernah terbayangkan waktu itu bahwa ia  bakal memikul tanggung jawab terberat sebagai Kepala Gereja nantinya dan juga bakal meninggal dengan cara disalib terbalik.

Keinginan dihargai dan menonjol tampak juga di masa kampanye dimana banyak parpol mengklaim dirinya paling berjasa bagi pembangunan, mereka lupa bahwa ada proses musyawarah, negosiasi dan koalisi banyak pihak didalamnya. Dimasa kampanye para caleg mengklaim dirinya paling layak untuk dipilih, tapi kurang mempersiapkan diri untuk  visi dan program yang pro rakyat. Hal ini tampak dari baliho2 yang sekedar TP tebar pesona bahkan  menggelikan. Belum lagi rasa saling ketersinggungan karena merasa paling terhormat antara Komisi VII DPR dan Direksi Pertamina, antara DPRD dengan Gubernur Jateng. Tapi teteuup… rakyat lah yang merasakan akibat perselisihan antara para pemimpin. Akibat paling parah terlihat lewat persentasi Golput di tiap pilkada dan pemilu yang terus naik di atas 30 % sebagai tanda ketidak puasan atas para pemimpin yang kurang memperhatikan rakyat.

Injil hari ini mengingatkan kita atau siapapun yang ingin menjadi pemimpin, baik di bidang politik, usaha, sosial bahkan di kepengurusan keagamaan, bahkan para orang tua sekalipun; setiap pemimpin harus  dapat mengenali kebutuhan mendasar dari mereka yang paling lemah  dari kelompok yang dipimpinnya. Read the rest of this entry »





Lumpuh Perlu Diusung

22 02 2009

“Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!”

Menjadi difabel sungguh suatu keadaan yang membuat frustrasi. Banyak hal memenuhi pikiran dan ingin sekali untuk dilakukan, tetapi keterbatasan fisik membuat kita tidak berdaya dan tidak mampu bergerak. Kita membutuhkan bantuan orang lain untuk mobilitas kita sendiri.  Demikian yang saya amati saat menemani almarhum bapak pergi ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Saat itu bapak yang menderita parkinson tidak mampu berjalan dan harus menggunakan kursi roda. Walaupun dengan keterbatasan fisik hal ini tidak membuatnya surut dalam mengusahakan keadilan. Semua dokumen yang dibutuhkan seperti memori banding dan berbagai dokumen pendukung yang dibutuhkan, dipersiapkannya sendiri. Tetapi ia membutuhkan seorang asisten untuk menuliskannya dalam bahasa hukum. Ia sendiri juga memerlukan empat orang yang menggotong kursi rodanya naik ke tingkat atas menemui Ketua PN Jaksel untuk bertemu.  Beginilah keadaan bangunan publik yang tidak ramah terhadap kaum difabel, padahal di Jakarta ibukota RI lho.

Saya melihat suatu semangat yang luar biasa yang terpancar melalui kata-kata dan tulisannya, tentang perjuangan menuntut keadilan dan kebenaran. Semangat inilah yang akhirnya ditularkan kepada orang-orang sekitarnya yang membantunya dengan segala cara termasuk membuatkan dokumen sampai mengusung kursi rodanya untuk mencapai apa yang diimpikannya. Read the rest of this entry »