Renungan Tutup Tahun

31 12 2008

Saudara-Saudariku tercinta,
Apa yang kamu rasakan saat ini, saat membaca tulisanku ini? Adakah persoalan keluarga di akhir tahun ini yang masih belum selesai? Masih adakah rasa dendam, rasa benci yang masih berkecamuk dalam dirimu? Adakah rasa kesal dan marah pada saudaramu terdekat, suami, isteri, anak dan sahabatmu? Adakah dalam dirimu, rasa gelisah tidak menentu….rasa bosan tidak beralasan… dan rasa putus asa yang tidak kunjung henti karena ketidakpastian masa depan, akibat ancaman PHK, karena efek domino krisis ekonomi global..? Adakah rasa ingin lari saja dari kenyataan hidup yang serba pahit dan memualkan ini?

Saudaraku, apapun perasaanmu saat ini saat membaca suratku, tetap saja waktu itu akan berjalan terus, tiada henti…dan berputar dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam, dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun…dari abad ke abad…. Lalu apakah pertanyaanku tadi ada kaitannya dengan waktu yang sudah berjalan terus sampai akhir nanti?

Saudaraku, pertanyaanku tentang kamu, bukanlah pertanyaan untuk ingin tahu segala-galanya tentang dirimu, melainkan pertanyaan itu kuungkapkan. ..karena kalau boleh, aku mau meminjamkan telingaku untukmu…agar bibirmu berucap, tapi ada telinga yang mendengarkan. .! Kalaupun ada persoalan belum selesai, tidak berarti hidupmu gagal…! Sebaliknya, syukurlah engkau masih sadar..masih memiliki persoalan. Artinya engkau serius untuk bertanggung jawab atas hidup. Puji Tuhan, engkau menerima rahmat “persoalan” karena dari persoalan yang seolah-olah mengganggu dirimu, engkau belajar untuk tumbuh dan berkembang mengubah “ancaman” menjadi “kesempatan” untuk berbenah diri. Orang yang “berbenah diri” itu selalu menentukan waktu, “kapan dirinya kan bertanya tanya tentang hidupnya sendiri dalam relasi dengan Tuhan dan sesama”. Dalam arti itu, orang yang bertanya, menjadikan waktunya itu tidak berlalu begitu saja, melainkan waktu itu diperlakukan sebagai “kesempatan” untuk membuat sebuah keputusan : berkata dan berbuat! Read the rest of this entry »





In the beginning… finally..

31 12 2008

“Firman telah menjadi manusia.”

Hari ini Tuhan mengajak kita untuk merenung, refleksi dan introspeksi, bahwasanya kehidupan ini berawal dari Firman, dan sekarang telah tinggal dalam kita, bersatu dalam penziarahan bersama waktu untuk menghasilkan berkat dan rahmat bagi lingkungan hidup, artinya bukan cuma kepada manusia saja, tetapi juga semua yang hidup dan tempat untuk hidup.

Inilah Gerak Inkarnatoris Allah yang harus kita sadari sebagai Gereja adalah gerak yang dinamis, gerak yang penuh kesadaran bahwa kita adalah mahluk Tuhan yang harus mewartakan firman yang telah menjadi daging dalam bentuk cinta, artinya setiap pikiran, ucapan, sikap dan tindakan kita haruslah mewartakan Kerajaan Allah.

Bacaan hari ini sangat tepat sebagai penutup tahun, untuk mengingatkan kembali tugas perutusan kita sebagai Firman Tuhan yang hidup. Jika ditanya siapa yang menjadi teladan hidup kita? Pastilah jawabannya adalah “Yesus” sebagai teladan firman yang hidup, tetapi coba kita kembali kepada diri kita, benarkah itu? Apakah setiap minggu sekali kita mendengarkan Firman Tuhan dalam ibadat di Gereja? Kalaupun mengikuti ibadat, benarkah kita mengikutinya penuh konsentrasi dan hikmat? Kita pasti lebih takut untuk membolos kerja atau sekolah, daripada membolos beribadat di Gereja. Read the rest of this entry »





Kado Natal dari Kawunganten

31 12 2008

misa natal pagi masih sepi
seperti batinku
ketika kududuk di bangku gereja
tiada seorangpun menyapaku
buletin dan teks misa tak banyak membantu
lalu aku berdoa begini:
ya Yesus yang kelahiranmu diperingati
gedung gereja begitu indah dan megah
namun dingin, sepi, dan miskin kehangatan
sedingin musim salju di kutub selatan

Pengalaman selama ini merayakan natal di jawa tengah semua acara tumplek-plek pada acara malam natal sehingga natal pagi yang
seharusnya orang katolik datang menyembah Yesus seperti para gembala dan tiga orang majus tidak terjadi. Malah orang katolik pada pergi. Hal inilah yang menjadi keprihatinan kami dan sudah kami antisipasi sejak sebelum Natal. Kami terketuk dengan seruan yang sudah disampaikan oleh KWI sejak sewaktu masih bernama MAWI dalam buku aneka pemberkatan halaman 187-188 – penerbit kanisius Yogyakarta cetakan 7, disana dikatakan “BERMACAM-MACAM USAHA TELAH DIRINTIS GUNA MENCIPTAKAN PERAYAAN NATAL YANG MENARIK! SAYANG, DI BERBAGAI TEMPAT USAHA INI SANGAT BERAT SEBELAH. ORANG MEMAKSAKAN DIRI MENCIPTAKAN MALAM NATAL YANG BAGUS-BAGUS, SEMENTARA NATAL PAGI, SIANG DAN SORE DIANAKTIRIKAN,
DIBIARKAN SUNYI SEPI, DAN HAMPIR RUTIN.” …………………. . NATAL PAGI SIANG DAN SORE DIBIARKAN TERBENGKELAI.

Kalau kita mlihat keadaan sehari-hari, kelahiran seorang anak lazimnya disambut keluarga dan orang sekitar dengan “berjaga”/”tirakatan” beberapa malam. mengapa kita mengadakan inkulturatif dalam hal ini untuk membuat perayaan natal kita berbobot, bermakna dan membuat umat semakin merasakan bahwa IMANUEL = Tuhan beserta kita?

Kami umat di stasi Kawunganten (Cilacap, Jawa Tengah) mencoba tahun ini dengan mengisinya dalam tiga misa raya, yakni: Read the rest of this entry »





Sepinya Hari Tua

30 12 2008

Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.

Kehidupan masa tua kalau tidak dipersiapkan dengan matang, tentu akan menjadi bumerang bagi diri sendiri, karena tidak semua perempuan tua seperti Hana dan para laki-laki tua seperti Simeon, yang begitu baik mempersiapkan dirinya menyambut kedatangan Tuhan di bait Allah.

Cerita seorang teman akan neneknya yang saat ini berusia kira-kira 91 tahun, telah menjadi janda sejak usia 60 menjadi silang sengketa bagi anak-anaknya. Karena ketika masih kuat bergerak, hampir semua anak laki-lakinya menghendaki kehadirannya dirumah mereka, mungkin karena warisan dan hasil pensiun dari suami yang pegawai bank negara masih didapat terus, tetapi sekarang setelah menjadi tua dan renta, hampir semua anak-anak menolak kehadiran si nenek dengan bebagai alasan, untunglah masih ada anak perempuan yang mau mengurusnya.

Sayapun pernah mengalami dengan melihat kondisi nenek buyut saya yang tidak seberuntung nenek teman saya yang masih diurus dengan baik. Berkaca dengan hal-hal ini, kamipun mulai membicarakan situasi dan kondisi mama dan mertua saya, walau saat ini masih belum renta tetapi mulai beranjak tua, sehingga belum menjadi masalah, tetapi sudah saatnya dimulai pembicaraan untuk mengurus mereka diusia renta nanti, agar tidak menjadi masalah dikemudian hari. Read the rest of this entry »





Penantian Berbuahkan Pewartaan

30 12 2008

“Ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan”

Menjadi janda apalagi sudah lanjut usia sungguh pekerjaan yang membosankan. Status janda membuat perempuan Yahudi menjadi warga negara kelas duanya kelas dua, yang tidak ada gunanya lagi bahkan  bisa dianggap pembawa sial yang mengakibatkan kematian suaminya yang hanya hidup 7 tahun bersama Hana.  Apalagi ia sudah lanjut usia tidak akan dapat menikah lagi apalagi memberikan keturunan. Tetapi Hana, sungguh bukan perempuan yang mudah menyerah pada stigma masyarakat Yahudi. Ia tetap menunjukkan kesetiaannya beribadah dan bahkan berpuasa kepada Allah di masa tuanya. Setiap hari ia berada di Bait Allah menikmati hadirat Tuhan, berdoa dan mengucap syukur senantiasa. Ia menanti dan berharap diberikan kesempatan untuk berjumpa dengan Sang Juru Selamat. Sampai tiba di hari penantiannya, sebagai seorang nabiah, ia tahu bahwa sebelum ajalnya ia akan mendapat kesempatan istimewa, bertemu bayi Yesus di Bait Allah.

Penantiannya siang malam tidak sia-sia, pengharapannya pun mendapatkan buah sukacita. Akibat perjumpaan Hana dengan bayi Yesus, Hana merasakan tugasnya sudah menjelang selesai. Ia semakin gencar memberitakan kedatangan Mesias kepada umat Yahudi yang menanti-nantikannya. Sampai sekarang masih ada kelompok Yahudi yang mengharapkan kedatangan Sang Mesias. Kelompok Yahudi yang menerima Yesus sebagai Mesias disebut Messianic Jew, yang jumlahnya juga terus bertambah banyak. Hana rupanya termasuk penganut Messianic Jew yang pertama memberitakan Sang Mesias telah datang. Tetapi sampai saat ini kelompok Yahudi lainnya masih ada yang menangisi tembok ratapan, menantikan kedatangan Sang Mesias. Read the rest of this entry »





Melihat PenyertaanNya

29 12 2008

sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.

Apa yang bisa dilihat dari seorang bayi selain lucu dan menggemaskan? Semua bayi lahir akibat pengharapan dari sang ibu, yang dengan setia menanti-nantikannya. Sehingga untuk suatu kelahiran sebuah kehidupan baru, kehidupan sang ibu pun dipertaruhkan. Bahkan data 2006 dari Departemen Kesehatan menyebutkan kematian ibu di Indonesia tertinggi di Asean. Ada 50 ibu meninggal setiap harinya atau satu orang ibu meninggal setiap 30 menit karena komplikasi persalinan dan saat melahirkan.  Betapa pedihnya hati seorang ibu yang dengan terpaksa menolak anaknya sendiri karena dianggap membawa aib. Ikatan batin selama 9 bulan tidak serta merta hilang begitu saja. Maka perjuangan seorang ibu melahirkan sebuah kehidupan adalah suatu prestasi yang perlu dikawal sebagai kelangsungan suatu bangsa.

Kelahiran Yesus yang telah dinubuatkan ratusan tahun sebelumnya, membuat Simeon yang penuh dengan hikmat Allah langsung mengenali bahwa bayi yang dibawa Maria dan Yusuf, adalah bayi yang ditunggu-tunggu kelahiranNya. Simeon yang berhati tulus dan saleh hidupnya, bisa melihat bahwa kelahiran bayi Yesus tidak hanya membawa keselamatan bagi bangsa Yahudi tapi juga menjadi kemuliaan bagi bangsa Israel. Ia justru membawa kebangkitan bagi banyak orang Israel untuk menerima keselamatan. Read the rest of this entry »