Jangan Tidur

30 11 2008

Hal ini Kukatakan supaya kalau ia tiba-tiba datang, jangan sampai kamu didapatinya sedang tidur.

pb290065Dalam acara perayaan dwi dasawarsa SEP Shekinah kemarin, Romo Sugiri v.d. Heuvel SJ (78 th) sang pendiri, tidak pernah membayangkan akibat dari ide ‘gila’nya mendirikan Sekolah Evangelisasi Pribadi. Dalam 20 tahun SEP Shekinah telah melahirkan lebih dari 13,000 alumni KEP dan SEP. Para alumni tersebar di berbagai paroki dan kelompok kategorial. Para pastor paroki mengakui manfaat KEP bagi dinamika lingkungan dan hidup menggereja. Jumlah tersebut tidak termasuk dengan para alumni diluar KAJ dimana tim pengajar SEP Shekinah diminta membantu merintis KEP di berbagai Keuskupan.

Selama berkarya sebagai imam belanda yang mengalami berbagai tekanan jaman itu, sempat terpatri dalam pikirannya bahwa memberitakan Injil tidak perlu menyebut Yesus. Sehingga selama bertahun-tahun  mengisi siaran radio bahkan memberikan pelajaran agama, ia hanya mengajarkan budi pekerti. Tidak pernah menyebut Jesus. Pandangannya berubah total saat mengikuti pertemuan ICCRES di Singapura tahun 1982. Its all about Jesus. Tidak ada penginjilan yang dilakukan tanpa mengisahkan tentang Jesus. Konsep story telling, narrative theology, mengisahkan perjalanan iman bersama Yesus, adalah cara terbaik yang menghidupi setiap insan kristiani. Sekali kita berhenti berkisah dan bersaksi tentang Yesus maka roh kita pun pelan tapi pasti akan mati. Kita bisa melihat berbagai institusi, ormas, perkumpulan doa bahkan pertemuan lingkungan yang tidak memiliki gairah untuk bersaksi tentang Yesus, kehilangan ‘passion’, pelan-pelan karyanya meredup dan akhirnya mati dan tertidur.

Kata siapa orang katolik tidak perlu bersaksi tentang Yesus? Read the rest of this entry »





Pestapora dan Kemabukan Duniawi

29 11 2008

“Jagalah dirimu supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan duniawi

Begitu banyaknya iklan dan acara di televisi memudahkan anak muda terhanut godaan pola konsumerisme dan hedonisme. Nilai-nilai luhur kesetiaan, kerja keras atau kerja smart, apalagi kepedulian akan lingkungan sosial menjadi barang langka. Sedihnya ini terjadi tidak hanya di kota besar tapi juga sampai ke daerah dan pelosok kota sepanjang televisi bisa diakses. Padahal dibalik godaan duniawi ini ada ancaman besar terutama bagi kesehatan.

Salah satu penyakit yang diderita banyak penduduk didunia adalah Diabetes, bahkan di Amerika menjadi penyakit no 3 diderita anak-anak disana. Mungkin terlalu banyak minum softdrink ya? Penyakit diabetes antara lain disebabkan oleh gaya hidup yang sarat dengan pesta pora dan kemabukan atau kenikmatan-kenikmat an duniawi, dan dari diabetes muncul aneka penyakit dan kelemahan organ tubuh manusia yang mematikan.

Menurut survei yang dilakukan WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia setelah India, Cina dan Amerika Serikat. Dengan prevalensi 8,6% dari total penduduk, diperkirakan pada tahun 1995 terdapat 4,5 juta pengidap diabetes dan pada tahun 2025 diperkirakan meningkat menjadi 12,4 juta penderita (http://www.depkes. go.id).

Semoga kita senantiasa ‘berjaga-jaga dan berdoa’ agar kita tahan berdiri di hadapan Anak Manusia, tetap sehat dan segar bugar baik secara jasmani maupun rohani. Berjaga-jaga secara jasmani antara lain: mengkomsumsi makanan dan minuman yang sehat dan bergizi, olahraga dan istirahat teratur, dan tentu saja perlu diiringi secara rohani dengan berdoa setiap hari, saat sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan. Maka penting sekali menjaga keseimbangan antara kegiatan jasmani dan rohani. Senantiasa memiliki sangka-baik, atau posititive thinking, melihat bahwa orang lain tidak memiliki kebaikan dan melihat hal posistif menghadapi atau menyikapi segala sesuatu, kita belajar memetik hikmat yang baik dalam segala sesuatu yang kita hadapi. Mari kita  memperbaharui diri untuk tidak terjerumus pada kenikmatan dunia, agar pada suatu saat ketika dipanggil Tuhan senantiasa dalam keadaan ‘siap siaga’, tidak perlu gelisah. [Romo Maryo SJ] Read the rest of this entry »





Mengenali Tanda-tanda

28 11 2008

Pepatah mengatakan gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang dan manusia mati meninggalkan kebaikan kalau tidak pasti meninggalkan hutang, mungkin saja bukan hanya hutang uang yang belum dibayar, tapi bisa saja berbentuk kesalahan yang belum diperbaiki atau janji yang belum ditepati.

Pasti ada tanda-tanda alam untuk setiap perubahan, mulai dari bergantinya musim, terjadinya bencana alam, termasuk pertumbuhan dan perubahan tubuh kita sendiri, pasti dimulai sebuah tanda, hanya saja sering kali kita abai akan hal tersebut.

Untuk mengetahui tanda-tanda tersebut dibutuhkan kesabaran, ketelitian dan ketekunan. Maka wajar saja jika sebuah hasil riset membutuhkan biaya yang besar dan periset dibayar mahal. Saya pernah mendengarkan pembicaraan seorang periset yang bercerita tentang dirinya meneliti orang utan dibelantara hutan kalimantan, bertahun-tahun dia hidup bersama orang utan itu, dan terus mencatat sifat-sifat mereka dengan satu persatu setiap hari bahkan setiap ada keanehan, setiap orang utan punya catatan sendiri-sendiri.

Hasilnya sungguh luar biasa, banyak hal yang dia dapatkan, dan membuatnya menjadi ahli soal orang utan dan tahu bagaimana memperlakukan orang-orang utan tersebut agar tidak binasa akibat ulah manusia. Hingga saat ini hasil riset yang dilakukan bertahun-tahun itu banyak dijadikan acuan penelitian bagi perkembangan dunia orang utan selanjutnya.

Demikian juga akan segala perkataan Yesus yang telah dibukukan dan diteliti kebenarannya oleh manusia maupun dibenarkan oleh jaman, hendaknya menjadikan acuan bagi kita dalam menjalani kehidupan agar tidak binasa akibat ulah kita sendiri.

Jika kita hendak menemukan kedamaian jiwa dan hidup abadi, maka kita harus percaya pada yang Ilahi. Jika ingin mengabdi pada kebenaran, maka kita harus melayani sesama. [Samsi Darmawan] Read the rest of this entry »





Angkatlah Muka (Ign Sumaryo, SJ)

27 11 2008

Apabila semuanya itu mulai terjadi bangkitlah dan angkatlah mukamu”

Pada suatu hari ada seorang ibu datang ke kamar/kantor saya di Keuskupan Agung Semarang ingin mohon berkat sejumlah lilin yang dibawanya. “Romo saya mohon berkat lilin-lilin ni”, begitulah permohonan ibu tersebut. Melihat dan memperhatikan jumlah lilin yang begitu banyak (satu dos), sebelum memberkati saya bertanya: “Wah, banyak sekali lilinnya, untuk apa?”. “Ya, saat ini khan terjadi banyak kerusuhan, orang saling bertengkar, bermusuhan dan membunuh. Katanya sebentar lagi akan kiama, matahari dan bulan tidak bersinar  lagi dan akan terjadi kegelapan di seluruh bumi. Lilin-lilin ini untuk persiapan jika terjadi kegelapan di seluruh bumi”, jawaban dan penjelasan sang ibu.

Mendengar jawaban dan penjelasan tersebut dalam hati saya ‘tertawa’, dan tentu saja saya tidak berani membantah keyakinan ibu tersebut dan saya pun langsung memberkati lilin tersebut. Aneh dan nyata bahwa untuk menyambut akhir zaman atau kiamat alias kematian kita ada orang yang mempersiapkan diri secara demikian. Apa yang dimaksudkan oleh Yesus “Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat”, hemat saya adalah persiapan hati dan jiwa dengan membuka diri terhadap suara/bisikan Roh Kudus atau kehendak Allah alias memperbaiki cara hidup atau bertobat.

Aneka macam peristiwa kerusuhan, permusuhan dan pembunuhan hendaknya menjadi ‘wahana’ untuk mawas diri akan arti hidup atau tujuan kita diciptakan oleh Allah. Kita, manusia diciptakan oleh Allah untuk memuji, mengabdi dan menghormatiNya dalam dan melalui hidup sehari-hari, antara lan dengan saling memuji, mengabdi dan menghormati antar kita manusia. Maka baiklah kita ‘bangkit dan mengangkat muka’ terhadap aneka macam sapaan dan sentuhan saudara-saudari kita, artinya dengan ceria, gairah dan terbuka saling bergaul dan menyapa, sehingga terjadi persaudaraan atau persahabatan sejati antar kita.

Renungan pribadi:

  • Apa arti tobat bagiku?
  • Maukah aku bertobat? Bagaimana aku mengungkapkan tobatku?
  • Apakah aku sudah memanfaatkan sarana tobat yang diberikan gereja melalui sakramen pengakuan dosa? Ataukah aku masih berat hati untuk mengakui dan mengakukan dosa-dosaku? Mengapa? Read the rest of this entry »




Pahlawan Iman

26 11 2008

Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan kamu akan memperoleh hidupmu.”

Dalam beberapa kunjungan ke beberapa daerah di kabupaten Semarang dan Salatiga, saya sering ditanya ” apakah ibu tetap teguh beriman sampai nanti bila telah terpilih ke Senayan? Gak akan tergoda seperti yang lain seperti yang terjadi sekarang ini dengan banyaknya anggota DPR terjaring operasi pemberantasan korupsi oleh KPK?” Saya bisa memahami kekecewaan mereka, karena saya pun juga dikecewakan oleh orang-orang yang saya pilih. Memang semua ini kembali kepada masing-masing kita, kembali kepada integritas kita, tergantung pada seberapa kuat iman itu berakar dalam kehidupan kita.

Setiap orang bahkan setiap profesi pernah terikat sumpah jabatan. Baik ia seorang dokter, pegawai bank juga pegawai negeri. Saat mengucapkan sumpahnya  dengan  Kitab Suci nya masing-masing, mereka menyebutkan tanda setia pada kode etik profesi. Tetapi apa yang terjadi kemudian bisa berbeda satu orang dengan yang lainnya. Dokter yang terikat sumpah jabatan pun bisa melanggarnya karena godaan hati untuk mendapatkan ‘lebih’ dengan cara mudah. Para artis yang kita lihat di infotainment pun mengucapkan janji sumpah setia saat mereka menikah, toh akhirnya bercerai juga karena pasangannya tidak setia. Bahkan dalam perusahaan pun ada konsekwensi bagi karyawan yang tidak setia pada peraturan perusahaan. Beberapa klien mengisahkan bagaimana mereka harus tegas dalam hal ini untuk menjaga integritas perusahaan. Read the rest of this entry »





Gereja vs gereja

25 11 2008

Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan

Kita sering terkagum-kagum saat melihat bangunan kastil di daratan Jerman dan berbagai gereja kuno di Eropa. Tapi apa yang terjadi didalamnya hanyalah sisa dari sebuah monumen yang dingin dan tidak bernyawa. Bahkan di banyak tempat di eropa rumah ibadah sudah beralih fungsi menjadi kafe, butik dll karena sudah tidak dirasakan bermanfaat, bahkan ditutup dan dijual. Demikian halnya kita sering begitu bersemangat terlibat dalam pembangunan rumah ibadah, berlomba kreativitas sebagai panitia pengumpulan dana agar umat mau menyumbang.

Tetapi saat bangunan rumah ibadah berdiri, kita lupa dan kurang bersemangat untuk mengisinya dengan mengajak semakin banyak umat mencintai Tuhan dengan bersama-sama merayakan Ekaristi. Kegiatan penggalangan pembinaan orang muda dan anak-anak di beberapa tempat menghadapi tembok birokrasi, sehingga mereka merasa gedung Gereja dibangun bukan untuk mereka. Demikian pula yang terjadi pada rumah sakit dan sekolah katolik, diakui bahwa bangunan tersebut megah dan bagus. Tapi apakah masyarakat sekitarnya mau mengakui bahwa bangunan ini ada dan memberi arti dalam kehidupan mereka? Adakah tempat bagi mereka yang miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan ? Read the rest of this entry »