Hati Nurani: Masih adakah?

31 10 2008

Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?

Saat mengunjungi dusun Sumowono di Kabupaten Semarang beberapa hari lalu, saya menghadiri pertemuan bulanan para pendeta dan pengerja gereja-gereja setempat. Seorang hamba Tuhan dari Magelang memberikan renungan tentang tantangan bangsa ini kedepan. Tingginya aborsi, korban narkoba HIV Aids, maraknya korupsi dimana-mana, kerusakan lingkungan, kemiskinan dan pembodohan, minimnya sarana kesehatan, kriminalitas yang semakin mengkhawatirkan dan banyaknya bencana alam bahkan dampak krisis global menghantui PHK dimana-mana. Hal ini semua menjadi suatu keprihatinan tersendiri. Seharusnya ini semua menggugah hati setiap pemimpin baik itu pemimpin keagamaan, eksekutif, legislatif, yudikatif bahkan media. Dalam kondisi demikian haruslah dimiliki sense of crisis, kepekaan mengenali skala prioritas dalam mengambil kebijakan2. Kita tidak bisa terlena dalam situasi nyaman, seolah-olah everything is OK. Kita harus bisa membaca tanda-tanda zaman dan memperkirakan apa yang akan dihadapi anak-anak kita 5-10 bahkan yang akan terjadi tahun depan. Maka dengan demikian bisa dipersiapkan langkah-langkah bijak untuk menyikapinya.

Sayangnya tidak semua bahkan banyak pemimpin tidak tanggap. Business as usual. Sikap santai yang menganggap semua berjalan normal, selama tidak ada hubungannya dengan saya. Atau justru membuat kebijakan yang sama sekali tidak membela kepentingan rakyat yang kebanyakan miskin fasilitas dan terpinggirkan. Mengapa itu terjadi? Ini dikarenakan mereka tidak punya hati, tapi yang mana? Ada tiga macam hati : hati sebagai lever dalam tubuh kita yang menghancurkan racun dan lemak, hati sanubari yang mengarah kepada keinginan pribadi dan hati nurani yaitu hati yang dipenuhi terang Ilahi. Seorang pemimpin yang memiliki dan mendengarkan hati nuraninya sendiri, baru bisa melihat dan perduli akan hati nurani orang lain. Ia bisa melihat apa yang dirasakan dan dibutuhkan oleh orang-orang lain. Read the rest of this entry »





The Messenger of God

30 10 2008

Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!

Saat kita dibaptis kita sudah diberikan mandat atau istilah Perjanjian Lama, sudah sekaligus ‘diurapi’ ditahbiskan menjadi raja (pemimpin), nabi (mendidik) dan imam (pewarta kerajaan Allah). Tentu bukan dalam arti bahwa langsung kita jadi pemimpin di tengah masyarakat. Tapi ada suatu mandat diberikan dengan harapan bahwa suatu saat (suk mben - bhs jawa), bisa beberapa tahun lagi atau bulan lagi yang bersangkutan sudah siap melaksanakan mandat tersebut.

Banyak dari kita yang menerima Sakramen Pembaptisan dari lahir, lalu belasan tahun kemudian menerima Sakramen Penguatan saat akil balik. Pertanyaannya : kapan sebenarnya kita melaksanakan mandat tersebut? Sudahkah kita menjalankan fungsi ‘raja’ untuk menjadi pemimpin menjadi teladan dengan membawa terang ditengah kegelapan dan keputusasaan ? Atau jangan-jangan kita sendiri sedang dalam keraguan dan kecemasan? Sudahkah kita siap membawa suara kenabian, menanamkan nilai-nilai moral dan memegang teguh nilai-nilai kristiani yang kadang terkesan melawan arus? Atau mungkin kita termasuk yang adem ayem, masa bodo…ah selama gak ngepek gpp lah.. Lalu dimana kah sang ‘nabi’ yang seharusnya menegur dan mengembalikan yang keluar jalur serta mengarahkannya kembali ke jalan yang benar ? Jangan-jangan kita ikut jalur yang salah. Apalagi sebagai imam menjadi pewarta kabar baik, kabarsuka cita yang penuh pengharapan, kapan kita terakhir melakukan ?

Menjadi raja, imam dan nabi harus lah dimulai pada komunitas terkecil yaitu keluarga. Bahkan harus dimulai dari diri sendiri sebelum kita melihat pasangan dan anak-anak kita.  Maka bila kita setia melakukannya, kemanapun kita melangkah hanyalah membawa kabar suka cita, kasih dan pengharapan. Setiap orang senang untuk bertemu dan berbagi kisah dengan kita, karena mereka tahu bahwa kita akan mendengarkan dan meneguhkannya. Jadilah pembawa kabar baik dengan mewartakan kasih Tuhan, maka berbahagialah mereka yang menerimanya. Read the rest of this entry »





No Free Lunch

29 10 2008

Ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang terdahulu dan ada orang yang terdahulu yang akan menjadi orang yang terakhir.

Menonton Kick Andy edisi terakhir saya melihat perjuangan gigih seorang Ciputra dan mantan meneg BUMN Sugiharto. Keduanya menapaki kehidupan yang sulit dimasa mudanya. Pak Ci selalu berlari ke sekolah tanpa sepatu sampai akhirnya ia justru menjadi atlit PON II mewakili SulSel. Maka cita-cita berikutnya adalah melahirkan wiraswasta sebanyak mungkin supaya Indonesia bisa lebih maju dari sekarang.

Pak Sugiharto pernah merasakan jadi tukang parkir dan pembantu RT bahkan jualan rokok untuk menutupi biaya sekolahnya dan adik-adiknya. Perjuangan di masa miskin membuatnya tekun meniti pendidikan dan karirnya hingga sampai masuk menjadi pembayar pajak terbesar. Perlu kerendahan hati bagi petinggi Medco yang penghasilannya turun menjadi 4 % begitu diminta menjadi meneg BUMN. Kalau bukan karena ingin menunjukkan cintanya pada negeri ini tentu ia tidak akan melepaskan jabatannya yang PW: posisi wuenak ini.

Kehidupan orang sukses seperti mereka berdua mewakili kaum wirausaha para entrepreuner dan para profesional yang meniti karir. Semua tidak mudah dan tidak bisa instant. Dibutuhkan waktu 10-20 tahun untuk menempa iman, etos kerja dan menajamkan visi untuk membuat mereka tahan uji ditengah segala tantangan. Mungkin ada yang mendadak kaya tapi belum tentu ia sukses untuk mengelola kekayaannya dan bertahan lama, karena perlu daya juang dan mental kuat untuk menjadi sukses. Untuk menjadi berhasil sampai puncak memang tidak ada yang mudah, tidak ada yang gampang, there is no free lunch. Harus berani bayar harga dan harus berani berjuang, tekun dan kerja keras. Read the rest of this entry »





Biji Sesawi dan Ragi

28 10 2008

Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah?

Hari ini kita memperingati 80 tahun Soempah Pemuda yang diawali dari keprihatinan beberapa orang muda akan ancaman terpecahnya persatuan sesama bangsa Indonesia. Masing-masing kelompok bertahan dengan bahasa daerah dan kepentingan sukunya. Maka sekelompok orang muda ini pun dengan berani menyuarakan kepeduliannya untuk menggugah rasa kebangsaan dengan mendeklarasikan Soempah Pemuda. Mereka berasal dari berbagai suku, agama dan ras termasuk beberapa orang pemuda tionghoa dan arab.

Kita mungkin tidak ingat kisah detilnya kecuali isi Sumpah Pemuda itu sendiri. Ada dua hal menarik dalam kejadian bersejarah pada tanggal 28 Oktober 2008 dimana peran umat katolik sungguh seperti ragi yang tidak kelihatan dan terlupakan. Konggres Pemuda II tersebut diadakan di tiga gedung berbeda dalam 3 rapat besar. Di hari pertama diadakan di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Lapangan Banteng, gedung tempat pertemuan orang muda katolik membuka diri bagi kongres pemuda yang sifatnya nasional ini. Hal kedua yang menarik adalah peran seorang muda katolik menjelang penutupan konggres. Wage Rudolf  Supratman memainkan lagu Indonesia Raya dengan biolanya untuk pertama kali. Lagu ini disambut meriah oleh peserta konggres, dan akhirnya pada tahun 1945 di jadikan lagu kebangsaan Republik Indonesia.

Sungguh tidak mudah perjuangan segelintir pemuda disaat kritis 80 tahun lalu, untuk tinggal tetap menjadi ragi dan biji sesawi. Menjadi ragi yang walaupun kecil tidak berarti, pelan tapi pasti memberikan dampak secara nasional. Menjadi biji sesawi yang kecil tapi mau merasul menjadi orang-orang muda yang menumbuhkan harapan bagi bangsa Indonesia.

Mereka yang masih muda ini telah mengukir sejarah Indonesia  80 tahun lalu, dan sekarang bagian kitalah untuk memelihara dan meneruskannya. Akankah kita tetap berani menjadi ragi yang tidak perlu tampak tapi bisa memberikan pengaruh yang besar bagi masyarakat di sekitar kita? Berani kah kita berjuang untuk terus tumbuh beriman ditengah tantangan hidup? Memang jumah umta katolik tidak banyak di Indonesia, mungkin juga anda adalah satu-satunya orang katolik di tempat kerja anda. Tapi bukan berarti yang sedikit itu tidak memberikan arti kalau saja kita mengimani semangat Kerajaan Allah melalui kehadiran Yesus dalam kehidupan kita. Read the rest of this entry »





Antara aturan dan Aturan

27 10 2008

Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.

Didalam hidup memang ada aturan dan aturan itu hendaknya dibuat dengan tujuan untuk kepentingan dan kemajuan umat manusia, bukan sebaliknya dibuat untuk menyengsarakan. Hal ini sungguh berbeda dengan yang ada di Negara ini, dimana aturan dibuat demi kepentingan sekelompok orang atau pribadi.

Seperti misalnya, saat ini saja tiba-tiba muncul aturan tambahan dari KPU yang menyatakan para Caleg DPD maupun DPR/DPRD tidak boleh menggunakan nama gaul atau nama yang sudah dikenal oleh masyarakat, tetapi harus menggunakan nama asli, sayangnya aturan ini dibuat tanpa ada dasar hukum dan alasan yang jelas, kecuali karena ketakutan dari beberapa politisi yang tidak punya percaya diri untuk bertarung dalam perebutan kursi.

Seringkali pula, aturan itu dibuat dengan tujuan sesuatunya demi sebuah tujuan besar yang tersembunyi, tapi dampaknya sungguh akan merusak tatanan hidup berbangsa dan bernegara, yang saat ini terjadi adalah RUU pornografi yang hendak di sahkan menjadi UU.

Akibatnya kita lalu dipacu untuk kreatif mencari celah hukum untuk melanggar aturan tersebut, hingga aturan baku yang benarpun dilanggar juga, tanpa peduli dan sifatnya adalah untung-untungan atau mencari menangnya sendiri berdasarkan kekuatan uang atau kekuasaan atau mengandalkan massa yang bonek.

Sepertinya ada yang salah dalam pembangunan manusia di negara Pancasila ini, dimana orang-orang munafik lebih mendapat tempat dibandingkan orang-orang yang beriman. Karena yang yang baik dan benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar.  (Samsi Dharmawan) Read the rest of this entry »





Unconditional Love

26 10 2008

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Tiga hari ini memang betul-betul padat sampai rasanya mesti lari wira wiri kemana-mana sebelum saya tinggal ke semarang tiga hari. Tidur pun sampai terngimpi-ngimpi, maka sejak hari jumat pun jadwal penuh sesak sampai minggu. Jadi maaf kalau blog gak sempat terupdate. Sembari menunggu sekar yang ikutan lomba fashion show, saya merenungkan arti perikop hari ini. Persiapan dimulai dari mencari baju princess Belle (karena memang mau ikut lomba ‘princess-look-alike’ ke mangga dua hari jumat. Setelah bermacet-macetan malamnya sekar masih mempersiapkan bandonya dengan rangkaian bunga dari pita kuning. Sabtu pagi jam 6 sudah pergi ke salon untuk membuat rambut model belle. Jam 8 siap di sekolah menunggu  untuk tampil jam 11. Sambil menunggu, dia memperhatikan piala-piala yang disediakan panitya, tentunya berharap untuk bisa membawanya pulang. Dia masih tidak mau ganti baju sampai pengumuman  jam 2 siang. Duuh… praktis saya tidak bisa kemana-mana dari jam 6 pagi. Mungkin semua orang tua yang mengantarkan anaknya berlomba hari ini sama senewennya dengan saya ya?  Tapi namanya perlombaan pasti ada yang menang dan ada yang kalah,  walaupun kita sebagai orang tua berusaha sebaik mungkin kadang kita tidak siap juga menerima hasilnya. Maunya anak kita menang, lha kalau semua ortu begitu apa mungkin ?

Maka saat pengumuman pemenang dibacakan, sekar nampak komat kamit berdoa walaupun saya sudah mengatakan apapun yang terjadi, lakukan yang terbaik dan terimalah hasilnya. Sedih juga waktu mendengar namanya tidak disebut sebagai pemenang. Tampak sekali kekecewaannya, bahkan ia sempat menangis di kamar ganti pakaian. Sebagai orang tua tentu saya juga kecewa, saya punya pilihan seperti beberapa orang tua lain untuk menyalahkan dewan juri yang (menurut saya) tidak adil. Pilihan lain adalah fokus pada si anak dan menemaninya saat sedang kecewa serta menghiburnya. Akhirnya saya lupakan yang pertama dan memilih mendampinginya sampai ia bisa tersenyum lagi malam harinya.Its ok honey you are still my princess. Read the rest of this entry »