Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?
Saat mengunjungi dusun Sumowono di Kabupaten Semarang beberapa hari lalu, saya menghadiri pertemuan bulanan para pendeta dan pengerja gereja-gereja setempat. Seorang hamba Tuhan dari Magelang memberikan renungan tentang tantangan bangsa ini kedepan. Tingginya aborsi, korban narkoba HIV Aids, maraknya korupsi dimana-mana, kerusakan lingkungan, kemiskinan dan pembodohan, minimnya sarana kesehatan, kriminalitas yang semakin mengkhawatirkan dan banyaknya bencana alam bahkan dampak krisis global menghantui PHK dimana-mana. Hal ini semua menjadi suatu keprihatinan tersendiri. Seharusnya ini semua menggugah hati setiap pemimpin baik itu pemimpin keagamaan, eksekutif, legislatif, yudikatif bahkan media. Dalam kondisi demikian haruslah dimiliki sense of crisis, kepekaan mengenali skala prioritas dalam mengambil kebijakan2. Kita tidak bisa terlena dalam situasi nyaman, seolah-olah everything is OK. Kita harus bisa membaca tanda-tanda zaman dan memperkirakan apa yang akan dihadapi anak-anak kita 5-10 bahkan yang akan terjadi tahun depan. Maka dengan demikian bisa dipersiapkan langkah-langkah bijak untuk menyikapinya.
Sayangnya tidak semua bahkan banyak pemimpin tidak tanggap. Business as usual. Sikap santai yang menganggap semua berjalan normal, selama tidak ada hubungannya dengan saya. Atau justru membuat kebijakan yang sama sekali tidak membela kepentingan rakyat yang kebanyakan miskin fasilitas dan terpinggirkan. Mengapa itu terjadi? Ini dikarenakan mereka tidak punya hati, tapi yang mana? Ada tiga macam hati : hati sebagai lever dalam tubuh kita yang menghancurkan racun dan lemak, hati sanubari yang mengarah kepada keinginan pribadi dan hati nurani yaitu hati yang dipenuhi terang Ilahi. Seorang pemimpin yang memiliki dan mendengarkan hati nuraninya sendiri, baru bisa melihat dan perduli akan hati nurani orang lain. Ia bisa melihat apa yang dirasakan dan dibutuhkan oleh orang-orang lain. Read the rest of this entry »
Saat kita dibaptis kita sudah diberikan mandat atau istilah Perjanjian Lama, sudah sekaligus ‘diurapi’ ditahbiskan menjadi raja (pemimpin), nabi (mendidik) dan imam (pewarta kerajaan Allah). Tentu bukan dalam arti bahwa langsung kita jadi pemimpin di tengah masyarakat. Tapi ada suatu mandat diberikan dengan harapan bahwa suatu saat (suk mben - bhs jawa), bisa beberapa tahun lagi atau bulan lagi yang bersangkutan sudah siap melaksanakan mandat tersebut.














Bagaimana menurut Anda?