Kebebasan Memilih

30 09 2008

Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.Lalu mereka pergi ke desa yang lain.

Sebagai orang tua kita tentu ingin anak-anak yang setia, yang menurut pada perintah dan didikan orang tua. Kita bisa bandingkan cara didikan orang tua kita jaman dulu dan cara mendidik jaman sekarang. Sungguh tidak akan efektif setiap pemaksaan yang dilakukan pada anak-anak.Mereka begitu banyak mendapatkan informasi, sehingga mereka juga punya banyak pilihan. Mereka pun menuntut kebebasan untuk memilih. Lalu bagaimana kita perlu bersikap? Memaksakan tidak baik, membebaskan mereka pun ada resiko besar.

Saat duduk kelas 1 SMA di Kanisius, Wisnu sudah berketetapan hanya ingin masuk IPS karena tertarik untuk memilih jurusan Psikologi. Memang dari SMP kami sudah sering mengajak nya berdiskusi tentang minat dan pilihan kedepan. Kami mendukung dan mengatakan bahwa IPS pun tidak bisa dianggap enteng, sama sulitnya dengan IPA. Setelah selesai SMA, ia hanya mengikuti dua ujian masuk jurusan Psikologi, di UNIKA Atmajaya dan UI. Ternyata ia diterima di UNIKA Atmajaya dan mulai mengikuti program disana bahkan mulai kuliah. Pengumuman dari UI pun menyusul dan ternyata ia diterima juga di Psikologi. Nah, tentu dia bingung, sudah punya teman di Atma,sudah senang disana, tapi juga ingin coba di UI. Maka kami meluangkan waktu bertukar pikiran, memikirkan berbagai pro dan kon antara keduanya. Sebagai ortu tentu kami ingin diapilih UI, tapi biarlah kami belajar menahan diri dan mendukung pilihannya dalam doa. Akhirnya Wisnu memilih meninggalkan Atmajaya dan memilih UI. Tentu kami bersyukur karenanya karena memang itulah harapan kami. Keputusan yang dipilih dalam suatu kebebasan tentu memberikan dampak tersendiri bagi sang anak, ia berani menempuh segala resiko karena ia telah mengambil pilihan nya.

Injil hari ini menunjukkan bagaimana kasih itu diajarkan Yesus kepada murid-muridNya, saat mereka ditolak untuk mengunjungi Samaria. Siapa sih yang tidak kenal pelayanan Yesus saatitu? Dia yang membawa kesembuhan, membuat orang buta melihat dan lumpuh berjalan. Dia yang membuat banyak orang bertobat, yang membawa kebaikan, kok ya ditolak? Wajar memang kalau para murid yang sudah mengenal pelayananNya ini marah dan gemes,sehingga mereka ingin mengutuk penduduk Samaria karena menolak Yesus. Justru dengan tegas Yesus menegor para murid, dan memilih meninggalkan Samaria menuju tempat lain lagi. Read the rest of this entry »





Antara Tahu dan Kenal

29 09 2008

“Bagaimana Engkau mengenal aku?”

Kalau hanya mengandalkan berita-berita di media, banyak orang sudah memiliki persepsi negatif terhadap Indonesia. Citra Indonesia sebagai negara terkorup, sumber terorisme bahkan penduduknya yang biadab, mungkin sulit hilang dalam waktu dekat akibat pemberitaan media yang tertanam selama ini. Mereka yang belum pernah datang ke Indonesia mungkin akan berpikir dua kali saat ditawari untuk berkunjung kesini. Bila mereka membaca tentang prestasi beberapa anak Indonesia seperti peraih Olympiade Fisika International, prestasi atlet bulu tangkis dan juga beberapa grupmusik, mungkin mereka juga punya pertanyaan yang sama seperti Natanaeil ” Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Indonesia?”

Tapi coba tanyakan pada para expat yang sempat tinggal dan menetap di Indonesia. Mereka tidak menampik pernah ada kejadian-kejadian tersebut, tapi mereka pun masih merasakan adanya hal-hal baik yang membuat mereka betah di Indonesia. Bahkan pernah seorang nyonya bule, menangis meninggalkan rumah sewaannya di kemang. Dia akan begitu kehilangan pohon-pohon buah dirumahnya seperti mangga, belimbing bahkan duren kegemarannya. Pernah dia perintahkan pembantu untuk menjaga buahnya agar tetap ada saat anaknya datang berlibur di Indonesia. Dia juga mungkin tidak akan bertemu lagi dengan para supir, satpam dan pembantu-pembantunya yang baik hati.  Dia pernah mengalami macet dan naik ojek, bahkan punya langganan tukang ojek. Itulah Indonesia yang ia kenal, yang orang asing lain tidak mengalaminya.

Maka kalau kita bertemu dengan orang asing yang mengatakan dia adalah utusan Allah dan berasal dari (misalnya) daerah terbelakang dan minus di Indonesia, mungkin kita juga akan mengatakan hal yang sama seperti Natanael. “mungkinkah ada yang baik dari daerah itu?” Maka jawabannya hanya bisa pas bilamana ada pengalaman pribadi,pengalaman yang menyentuh hati dan mungkin menjadi sangat privat karena belum tentu orang lain mengalaminya. Read the rest of this entry »





Anak Baik, Adakah?

28 09 2008

Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.

Setiap orang tua selalu menginginkan anak-anak yang baik, yang senantiasa menuruti perkataan orang tuanya. Anak yang taat dan setia ternyata tidak otomatis dapat dari sejak lahirnya. Semua dibutuhkan proses pendidikan dan pendampingan orang tua sejak saat masih balita. Coba saja kita ingat-ingat bagaimana karakter anak-anak saat balita. Ada anak yang selalu melakukan apa yang justru dilarang karena keinginan tahunya yang besar. Juga ada anak-anak yang kadang menurut, kadang juga diam tapi ternyata tidak melakukan yang diminta.

Injil hari ini mengingatkan kita bahwa manusiapun juga bersikap demikian terhadap perintah2 Allah. Tidak semua orang menanggapinya dengan positif walaupun semua mendapatkan perintah yang sama. Janji-janji yang telah diucapkan dalam Sakramen Pernikahan juga janji baptis yang tiap tahun kita ulang, seringkali tinggal ucapan di mulut saja. Perlu perjuangan untuk kembali menyatakan dan melakukan apa yang telah kita ucapkan dihadapan Tuhan.

Perikop ini menunjukkan bahwa kita sebagai manusia memang diberikan kehendak bebas, begitu bebasnya sehingga kita bisa menolak perintah Tuhan. Padahal kita sendiri bisa sangat marah dan kecewa bila anak-anak kita tidak mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan. Kita bisa membaca di berbagai media bagaimana kisah-kisah pilu para anak jalanan yang rata-rata diusir orang tuanya. Mereka kehilangan kasih dan hidup dengan bahasa kekerasan di jalanan sejak usia belia. Tidak ada kasih yang mereka terima kecuali rasa senasib dari teman-teman sekitarnya. Read the rest of this entry »





Who am I (Samsi Dharmawan)

27 09 2008

“Menurut kamu, siapakah Aku ini?”

Keinginan seseorang agar diakui aktualisasinya, sehingga tingkah-lakunya sering kali over acting, ada seorang pengusaha yang sedang sukses dan maju usahanya, begitu ingin bergabung dan tercatat dalam kelompok “The Have” serta mendapat pengakuan dari orang-orang sekitarnya, padahal untuk bergabung dalam kelompok tersebut tidak hanya dibutuhkan kekayaan, tetapi juga sikap dan mentalitas.

Dalam kasus lain, seorang teman begitu ingin memiliki kartu identitas wartawan, entah untuk apa, padahal kartu tersebut hanyalah merupakan identitas diri ketika menjalankan tugas itupun jika diperlukan, tetapi akan menjadi percuma jika mentalitasnya tidak ada malah akan menjadi bumerang, karena untuk membuat kartu indentitas wartawan tersebut diperlukan waktu 3 jam saja, tetapi membentuk mentalitasnya dibutuhkan waktu 3 tahun.

Ketika Yesus menanyakan ”Menurutmu siapa Aku ini?” lebih untuk mengajarkan kita untuk sadar diri, bahwa sikap dan mentalitas kita sebagai umat Allah jauh lebih penting daripada sekedar tanda identitas. Identitas diri yang didapat dari sikap dan perilaku tersebut jauh lebih kekal dibandingkan sekedar kartu keanggotaan yang bisa berganti setiap saat. Read the rest of this entry »





Wanted: Ayah Sejati (Source Unknown)

26 09 2008

Sebagai orang tua di zaman modern ini membesarkan anak adalah tugas yang menakutkan di tengah-tengah sebuah kultur dalam krisis. Penelitian menyampaikan sebuah data statistik yang mengerikan tentang apa yang sedang terjadi setiap hari di Amerika:

* 1.000 remaja wanita menjadi ibu tanpa nikah
* 1.106 remaja wanita melakukan aborsi
* 4.219 remaja mengidap penyakit yang tertular secara seksual
* 500 remaja mulai memakai narkoba
* 1.000 remaja mulai mengkonsumsi alkohol
* 135.000 anak-anak membawa sebuah pistol atau senjata lain ke sekolah
* 3.610 remaja dilecehkan; dan 80 diperkosa
* 2.200 remaja berhenti dari sekolah menengah
* 7 anak (usia 10-19 tahun) dibunuh
* 7 anak muda (17 tahun dan kebawah) ditangkap karena pembunuhan
* 6 remaja bunuh diri

Tidak heran bahwa banyak pria menghadapi tugasnya sebagai ayah dengan rasa takut dan gentar. Menjadi ayah bukan saja, dalam banyak hal, merupakan pekerjaan yang paling menakutkan di dunia, melainkan juga pekerjaan yang paling dibutuhkan di dunia.
Tugas sebagai seorang ayah merupakan kepentingan yang kritis, dan tidak pernah sedemikian rupa sedari saat ini dan zaman ini. Hubungan seorang anak dengan ayah merupakan sebuah faktor yang menentukan dalam kesehatan, perkembangan, dan kebahagiaan pemuda atau pemudi tersebut.

Pertimbangkan temuan-temuan yang didokumentasikan dengan baik berikut ini: Read the rest of this entry »





Yang Diatas Yang Cemas

25 09 2008

“Ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus”

Wajar-wajar aja dalam dunia bisnis, politik bahkan dunia olahraga serta musik kalau semua pemain ingin menjadi nomor satu,menjadi yang terbaik di bidangnya. Tidak hanya dibutuhkan perjuangan yang luar biasa untuk menjadi nomor satu, yang paling atas, tapi juga lebih sulit mempertahankan untuk tetap di atas karena yang di posisi bawah pun berusaha meraih dan menggantikan posisi puncak tersebut. Mereka yang nomor satu dianggap menguasai pasar dan medan kancah peperangan. Tapi pertanyaannya adalah dengan cara apakah mereka mencapai posisi tersebut.

Kita mungkin juga ingin anak-anak mencapai ranking satu, rata-rata orang tua sangat bangga dengan prestasi anaknya. Bisa terbayang deh, sebentar lagi saya akan berjumpa dengan para ortu yang ambil raport sebelum libur lebaran. Masing-masing pasti membanggakan anaknya. Jauh-jauh hari bahkan dari kecil kiami berdua menanamkan pentingnya sportivitas dan kejujuran serta tanggungjawab bagi anak-anak. Untuk kami berdua yang cukup sibuk, kami paham beban mereka sudah cukup berat dengan kurikulum yang ajubilah tidak manusiawi untuk anak usia mereka. Maka kami tidak pernah menuntut bahkan bertanya siapa juara dan siapa yang dapat ranking. Let just them grow become themselves.  Buat apa menjadi juara dan ranking tapi kehilangan rasa senang dalam belajar, merasa terbeban dan bahkan menghalalkan segala cara untuk dapat nilai baik. Yang ada hanyalah rasa tidak mau kalah dan akhirnya iri hati.

Inilah yang dialami Herodes, yang sudah jelas posisinya sebagai raja tidak tergeserkan. Dia punya kekuasaan dan kekayaan. Dia bisa lakukan apa saja yang dia mau. Sulitnya adalah dia tidak bisa menerima kritik, dia tidak bisa melihat orang lain yang kelihatannya bakal lebih populer dari dia. Johanes pembaptis tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuasaan dan kekayaannya. Toh, ia tega menghabiskan nyawanya. Itupun belumcukup, rasa tidak ingin tersaingi pun muncul saat mendengar ada orang tenar, seorang nabi baru yang diikuti orang banyak, Yesus. Ia ingin menunjukkan kekuasaannya justru bukan dengan lawan yang sebanding, tapi rakyatnya sendiri yang notabene tanpa kekuatan dan kekayaan. Maka ia  diliputi rasa ketakutan dan kecemasan senantiasa, Read the rest of this entry »