Dear Diary eh..Dear God

31 08 2008

Enyahlah — engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.–Memasuki Bulan Kitab Suci Nasional

Diary buat sementara orang adalah sebuah buku yang ditulis berisi kejadian sehari-hari tapi sifatnya sangat personal. Begitu personalnya sehingga tidak seorang pun boleh membukanya. Saya sendiri pernah marah sekali dengan adik saya, saat itu saya masih SMA, ketika mendapati bahwa ia sedang asyik ketawa-ketawa membaca buku harian saya. Rasanya dunia tuntuh saat itu. Ya malu, ya kesal, dan marah campur aduk jadi satu.

Anehnya diary orang-orang terkenal justru dibuat buku bahkan di filmkan, karena banyak orang ingin tahu rahasia sukses mereka. Banyak orang ingin juga mencari tahu apakah orang sukses itu pernah gagal, pernah ditolak dan menderita. Anda bisa temukan berbagai otobiografi Rupert Murdoch, Albert Einstein dsb. Banyak nilai moral dan visi yang disampaikan melalui kisah hidup orang-orang tenar tersebut. Kalau ABG rata-rata gakmau diarynya dibaca orang banyak, berbeda dengan banyak tokoh yang berlomba membuat orobiografy dengan berbagai maksud dan tujuan.

Hal yang sama juga ingin disampaikan lewat Kitab Suci.  Kalau kita ingin mengenal Allah, kita harus mengenalNya dari tulisan-tulisan para nabi dan utusan Tuhan tentang bagaimana mereka menghadapi hidupNya dalam pengenalan akan Tuhan. Kitab Suci bisa dikatakan berisi surat-surat cinta Tuhan kepada kita. Kitab Suci juga meingsahkan berbagai cara Tuhan menyapa manusia. Segala kesaksian hidup tentang Tuhan dituliskan disana.  Maka kalau kita ingin hidup kita sesuai dengan rencana Tuhan,maka kita harus sering kali mencocokkannya dengan apa yang dipahami dan diajarkan dalam Kitab Suci. Didalamnya terdapat begitu banyak rahasia kehidupan, termasuk mengenai hubungan suami istri, mengelola diri sendiri dan orang lain, mengelola negara, menjadi istri yang baik sampai mengatur uang dan menghadapi stress atau depresi; bukan menurut pikiran manusia tetapi menurut pikiran Allah. Read the rest of this entry »





Ojo Dumeh

30 08 2008

Yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,

Saat menyaksikan liputan Mythbaster di Discovery Channel, ada satu percobaan dilakukan untuk mencari reaksi gajah Afrika  yang berpapasan dengan tikus. Kita pasti berpikir,  masa  gajah binatang besar begitu bisa takut dengan tikus. Ternyata saat sigajah melihat seekor tikus putih yang tiba2 melintas dihadapannya, gajah tersebut terlihat kaget dan mundur beberapa langkah untuk kemudian bingung berputar arah menghindari jalan tersebut.  Ternyata bukan hanya manusia yang geli atau takut ketemu tikus, gajahpun takut juga entah apa sebabnya. Jadi jangan mentang-mentang gajah, bisa petantang petenteng. Ojo dumeh.

Arti harafiah ojo dumeh hanyalah ojo (jangan), dumeh (sok). Namun kalimat simpel itu kekuatannya sangatlah luar biasa. Biasa dijadikan alat perlawanan ‘diam’ yang tidak agitatif dan bebas sanksi, tetapi dampaknya terkadang sangat menusuk hati. Ojo dumeh biasa disuarakan oleh Semar. Sosok punakawan tua dan jelek rupa. Dia merupakan profil tokoh paling hebat, paling waskita, dan gudang dari segala ilmu. Itu bisa dipahami, karena hakekatnya, dialah dewanya para dewa, di mana sabda dan titah bermula.

Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita pada ajaran kerendahan hati yang membawa pancaran kemuliaan Allah. Lebih baik merasa diri bodoh dihadapan Allah dari pada mencari kemuliaan dihadapan manusia. Kita harus berusaha menemukan Allah diantara orang-orang yang bodoh bagi dunia, yang lemah bagi dunia, tidak terpandang dan hina serta tidak berarti. Bahkan kita pun kadang perlu merasakan tidak dhargai, tidak dipandang dan tidakdiakui keberadaannya. Yesuspun pernah mengalaminya, bahkan Allah sendiri pun tidak dihargai keberadaanNya oleh sementara orang yang lebih mengandalkan dirinya.

Berani mengosongkan diri, berani merendahkan diri dihadapan Allah hanya bisa dilakukan kalau kita bisa menempatkandiri lebih rendah dari orang lain. Karena dengan rendah hati kita akui keterbatasan kita. Dan diantara keterbatasan kita justru mengandalkan Allah yang Maha Tidak Terbatas. Read the rest of this entry »





Semangat Martir

29 08 2008

“Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!” — Mengenang wafat nya Johanes Pembaptis

Rasanya tidak banyak ditemui orang yang siap pasang badan untuk berani berbicara demi kebenaran, baik atas hukum yang telah tertulis ataupun atas norma yang berlaku. Setiap tindakan memang ada konsekwensinya, bahkan termasuk memilih untuk tidak bertindak. Lebih sering kita memilih berdiam diri, tidak berbuat apa-apa menyikapi hal-hal yang sering berlawanan dengan hati nurani daripada menghadapi konsekwensi yang mengganggu ‘zona nyaman’ kita.

Kisah martir Santo Johanes Pembaptis merupakan kisah pertama yang terjadi di saat karya pelayanan Jesus baru dimulai. Pewahyuan yang diterima Yohanes pembaptis adalah mempersiapkan jalan bagi Sang Juru Selamat; meratakan yang berbukit dan meluruskan yang bengkok. Bertobatlah, Kerajaan Allah sudah dekat ! Itulah yang senantiasa dikampanyekan Johanes Pembaptis. Dia begitu berani melawan tradisi bangsa Yahudi dimana saat itu pengampunan hanya bisa diberikan lewat hewan kurban yang dibakar para imam di Bait Allah sesuai Taurat. Tidak ada cara lain lagi. Maka kalau ia mulai dengan tanda baptisan baru, mempertobatkan orang dengan cara dicelupkan dalam air sungai Jordan, sudah pasti membuat berang para imam dan ahli Taurat. Apalagi mereka yang bisnisnya jual hewan kurban di Bait Allah, terancam bangkrut dong? Berbagai konspirasi bisnis dan politik dilakukan untuk menyingkirkan dan membungkam Johanes Pembaptis ini, yang dengan berani menunjuk kesalahan para pemimpin agama bahkan termasuk Herodes, yang menjadi penguasa saat itu.

Jaman sekarang ini kurang lebih juga begitu lah, orang-orang yang tidak terlibat korupsi apalagi yang berani teriak untuk membongkar skandal yang ada, baik adanya konspirasi bisnis dan intrik politik justru bisa berbalik menjadi ‘terdakwa’. Hukum sudah tidak jelas lagi mana yang salah dan benar. Yang penting disingkirkan saja orang-orang ‘vokal’ agar para pimpinan bisa tetap bebas melakukan apa yang mereka suka. Read the rest of this entry »





Musuh (Sulit) Terkalahkan

28 08 2008

“Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu” — Pesta St Monika (Ibu St Agustinus)

Ketakutan saya untuk melakukan hal yang buruk, bukan karena berakibat kerugian bagi orang lain, tetapi saya takutkan hal itu menjadi sebuah kebiasaan atau habitus pada diri saya, yang akhirnya menjadi sebuah budaya baru dalam kehidupan, kemudian hal ini menjadi penyakit menular dalam keluarga, kemudian penyakit ini dikembangkan lagi oleh anak-anak secara moderen dan terus menerus demikian, akibatnya menjadi terkenal karena buruknya dan menjadi wabah. Maka tidak salah kata pepatah orang kampung saya “like father like son”

Namun, untuk menjadi baik bukanlah perkara mudah, karena godaan untuk membuat kita terlena begitu besar, mulai dari cara halus hingga kasar, menghadapi system yang demikian dengan idealis akan membuat kita bernasib seperti Yesus yang disalib, apakah kita berani? Walaupun kita selalu gembar-gembor mau ikut Yesus, ingin seperti Yesus, tapi saya ragu untuk berani dihina, dihukum siksa dan mati disalib seperti Yesus.

Saya membayangkan pemilu tahun depan, dimana sudah terdaftar belasan ribu bakal calon legislatif, ini belum menjadi calon dan ada beberapa diantara mereka sudah keluar uang, ada juga yang barus sebatas komitmen, kemudian proses diteruskan untuk resmi menjadi caleg, dari sini sejumlah dana yang besar sudah harus disiapkan, mungkin antara 1 hingga 10 milyar untuk menjadi anggota legistlatif, mengingat perjuangan yang dihadapi tidak hanya dari partai lain tetapi juga caleg dari partai yang sama. Read the rest of this entry »





Ready ..Set.. Go (Rm R. Maryono, SJ)

28 08 2008

Hendaknya kalian selalu siap sedia (Mat 24:42-51)– Peringatan St Agustinus

Pada suatu ketika, demikian Henri J.M Newman menulis dalam bukunya “Diambil Diberkati Dipecah Dibagikan”, Fred temannya datang dan mengatakan kepadanya, “Berbicaralah kepada kami mengenai suatu visi yang lebih luas daripada cakrawala hidup kami yang selalu berubah dan mengenai suara yang lebih dalam daripada hiruk pikuk media massa. Ya, berbicaralah kepada kami sesuatu atau seseorang yang lebih besar daripada diri kami sendiri. Berbicaralah kepada kami mengenai … Allah.” (hal. 38).
Newman merenung untuk menanggapi permintaan Fred sahabatnya dan bertanya kepada dirinya sendiri, ”Apa yang kiranya dapat saya katakan kepada orang hidup di tempat seperti ini dengan irama hidup seperti ini? Apa yang kiranya dapat saya katakan kepada dunia dengan taksi-taksi yang melaju kencang, menara-menara kantor yang menjulang tinggi dan perdagangan yang terus berlangsung siang dan malam?”(hal. 40)

Melihat permintaan Fred dan renungan Newman, rasanya menarik kalau kita juga melihat situasi kita saat ini. Kita melihat kekerasan dan korupsi ada di mana-mana. Manusia rasanya tidak ada harganya lagi terutama kalau orang sudah mulai berlomba mengejar jabatan dan kekayaan. Bicara mengenai Allah,
rasanya tidak relevan lagi. Read the rest of this entry »





Muna = Talk More Do Less (Rm R. Maryono, SJ)

27 08 2008

“Kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran”

Saya, kemarin ditemui oleh seorang ketua lingkungan yang baru saja terpilih dan akan melaksanakan tugasnya secara penuh nanti di bulan November. Tanggal 5-7 September 2008 nanti, seluruh anggota Dewan Paroki Pleno akan mengadakan rekoleksi untuk mendalami visi dan misi KAJ. Ketua lingkungan itu mengatakan bahwa nanti yang ikut rekoleksi hanya dia sendiri. Padahal, seharusnya ia  didampingi oleh sekretaris atau bendaharanya. Dia usul, apakah boleh orang lain boleh menggantikan mereka. Baik sekretaris maupun bendahara mengatakan siap sedia membantu meskipun kali ini tidak bisa mengikuti rekoleksi.

Saya berkata kepada Pak ketua lingkungan itu,”Pak sebaiknya Anda mundurdari jabatan ketua. Anda dijerumuskan dalam lubang tugas oleh sesama anggota lingkungan!” Pak ketua mulai bingung,tidak menangkap kata-kata saya.
Lalu saya jelaskan,”Pak, kalau untuk acara rekoleksi yang diadakan setahun sekali saja mereka pamit …. Apakah mereka akan bersedia mendampingi Anda selama tiga tahun? Kata-kata mereka menenteramkan tetapi tak pernah akan ada buktinya. Mereka akan selalu pamit! Daripada nantinya Anda merasa terjebak… mundurlah sekarang.”

Saudara-saudaraku, Gereja kita sangat membutuhkan orang yang mempunyai komitmen. Memang, kita ini sibuk dengan pekerjaan sehari-hari kita. Tetapi, siapa yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup Gereja kita. Gereja bukan gedung, lho ya! Kata-kata indah “aku gak usah masuk struktur tetapi setiap saat saya siap bantu” menurut pengalaman, kata-kata itu tidak pernah ada wujudnya. Saat diperlukan, orang seperti itu selalu punya alasan! Sibuk, sudah ada janji, pemberitahuannya terlalu mepet, dan lain-lain adalah jawaban yang akan muncul. Maksudnya, Ia cuma mau menghindar. Read the rest of this entry »