Menjadi Pengikut Kristus Dengan Spiritualitas Ignatius (Rm Maryo SJ)

31 07 2008

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23 ) – Hari Perayaan Orang Kudus : St Ignatius Loyola

Kutipan dari Injil Lukas di atas ini kiranya menjadi bahan permenungan di dalam Latihan Rohani St.Ignatius Loyola dalam “Panggilan Raja”, antara tertulis demikian: “KehendakKu ialah menaklukkan seluruh dunia serta semua musuh, dan dengan demikian masuk ke dalam kemuliaan Bapaku. Barangsiapa mau ikut Aku dalam usaha itu, harus bersusah payah bersama Aku, supaya karena ikut Aku dalam penderitaan, kelak dapat ikut pula dalam kemuliaan” (St.Ignatius Loyola, LR no 95). Menjadi murid-murid atau sahabat Yesus memang harus meneladan cara hidupNya atau mengenakan cara hidupNya “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”(Fil 2:6-8), hidup ‘miskin, sederhana, menyatukan diri dengan yang dilayani/turun ke bawah, rendah hati dan menyerahkan diri pada yang dilayani maupun yang mengutus’.

Menyangkal diri dan mimikul salib setiap hari” antara lain berarti melaksanakan tugas dan menghayati hidup, panggilan maupun tugas perutusan sesuai dengan kehendak Allah serta aneka peraturan atau tatanan hidup yang terkait, bukan menurut atau mengikuti keinginan atau kemauan diri sendiri. menurut selera pribadi. Dengan kata lain kiranya menghayati keutamaan ‘ketaatan’, yang menurut hemat saya merupakan ciri khas sahabat-sahabat Yesus, pengikut St.Ignatius Loyola. “Dalam ketaatan pribadi, semua menyerahkan kepada pembesar pengaturan hidup mereka yang penuh dan seluruhnya bebas; mereka ingin dipimpin bukan oleh pandangan dan kehendaknya sendiri, melainkan oleh tanda kehendak ilahi yang dalam ketaatan diberikan kepada kita. Maka, mereka mengambil alih perintah dan maksud pembesar secara pribadi serta penuh tanggungjawab, dan dengan perhatian penuh mereka menyediakan ‘daya budi dan kehendak, serta anugerah kodrat dan rahmat untuk melaksaknakan apa yang diperintahkan dan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka” (NP Konstitusi SJ no 152) Read the rest of this entry »





St Ignatius Loyola: Pendiri Serikat Yesus

31 07 2008

Pendiri Serikat Yesus yang terkenal ini dilahirkan pada tahun 1491. Ia berasal dari keluarga bangsawan Spanyol. Ketika masih kanak-kanak, ia dikirim untuk menjadi abdi di istana raja. Di sana ia tinggal sambil berangan-angan bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi seorang laskar yang hebat dan menikah dengan seorang puteri yang cantik. Di kemudian hari, ia sungguh mendapat penghargaan karena kegagahannya dalam pertempuran di Pamplona. Tetapi, luka karena peluru meriam di tubuhnya membuat Ignatius terbaring tak berdaya selama berbulan-bulan di atas pembaringannya di Benteng Loyola. Ignatius meminta buku-buku bacaan untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia menyukai cerita-cerita tentang kepahlawanan, tetapi di sana hanya tersedia kisah hidup Yesus dan para kudus. Karena tidak ada pilihan lain, ia membaca juga buku-buku itu. Perlahan-lahan, buku-buku itu mulai menarik hatinya. Hidupnya mulai berubah. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Mereka adalah orang-orang yang sama seperti aku, jadi mengapa aku tidak bisa melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan?” Semua kemuliaan dan kehormatan yang sebelumnya sangat ia dambakan, tampak tak berarti lagi baginya sekarang. Ia mulai meneladani para kudus dalam doa, silih dan perbuatan-perbuatan baik.

St. Ignatius harus menderita banyak pencobaan dan penghinaan. Sebelum ia memulai karyanya yang hebat dengan membentuk Serikat Yesus, ia harus bersekolah. Ia belajar tata bahasa Latin. Sebagian besar murid dalam kelasnya adalah anak-anak, sementara Ignatius sudah berusia tiga puluh tiga tahun. Meskipun begitu, Ignatius pergi juga mengikuti pelajaran karena ia tahu bahwa ia memerlukan pengetahuan ini untuk membantunya kelak dalam pewartaannya. Dengan sabar dan takwa, ia menerima ejekan dan cemoohan dari teman-teman sekelasnya. Selama waktu itu, ia mulai mengajar dan mendorong orang lain untuk berdoa. Karena kegiatannya itu, ia dicurigai sebagai penyebar bidaah (=agama sesat) dan dipenjarakan untuk sementara waktu! Hal itu tidak menghentikan Ignatius. “Seluruh kota tidak akan cukup menampung begitu banyak rantai yang ingin aku kenakan karena cinta kepada Yesus,” katanya. Read the rest of this entry »