Saya sertakan email dari romo Mardi yang bertugas sebagai guru matematika ini agar kita bisa membayangkan kesulitan yang dihadapi dunia pendidikan di ujung timur negri ini. Orang miskin disana terpaksa membayar lebih mahal untuk mendapatkan buku paket dibandingkan kita yang hidup dipulau Jawa. Kualitas SDM yang sangat rendah pun menyulitkan mereka keluar dari kemiskinan. Kemiskinan memang bisa terjadi akibat struktural seperti minimnya prasarana. Jangan salahkan pemerintah saja untuk menjadikannya sempurna dalam 5 tahun tapi mari kita lakukan yang terbaik semampu kita bagi negri ini. Walaupun rasanya seperti menggarami lautan, tapi untuk satu dua anak di pedalaman tindakan kita menjadi berarti bagi mereka. (RA)
Mbak Ratna kinasih,
menyambung email kemarin berkenaan dengan buku pelajaran dan khususnya LKS. Jika memang bisa diusahakan di Jawa saya kira juga lebih baik, karena harga di jawa jauh lebih murah. Setelah saya muter-muter, saya dapatkan informasi bahwa di nabire ini harga sebuah LKS matematika untuk kelas 1 bisa mencapai 10 rb/buku (beli minimal 100 buku). Padahal dalam setahun seorang anak butuh 2 buah buku. Jika di Jawa harga eceran paling tinggi 7 rb rupiah. Kenapa bisa demikian? Ya karena transportasi dari jawa ke papua ini memang amat mahal. Lha sekarang mangga saja panjenengan mau bantu saya dan anak-anak untuk mengirim LKS matematika kelas 1 dalam bentuk buku atau mengirim dana dan saya belikan di sini, he…. Jika dalam bentuk uang ya tinggal dikalikan saja: 200 X Rp. 10 rb. Oh ya jangan lupa tolong carikan bahan pembelajaran multimedia karena kami baru dibelikan komputer sehingga anak-anakbisa belajar sendiri. Disini mana ada yang begituan?
Kemarin saya mengadakan tes penjajagan anak-anak kelas 1 SMA yang baru masuk dengan materi matematika kelas 6 SD. Dari 30 buah soal, rata-rata seorang siswa bisa menjawab benar hanya 8 soal, alamakkkkkk …..Kepada mereka saya berikan 30 buah materi soal matematika (soal-soal saya ambil dari contoh-contoh yang tertulis dalam buku paket), dan dari test itu saya dapatkan data sbb … baca selengkapnya disini.
Seorang kawan aktivis diparoki bercerita bagaimana bahagianya dia, deg-degan tidak bisa tidur semalaman menjelang keberangkatannya ke bali dan jogya. Baru kali ini dapat hadiah tiket pesawat terbang ke Jogya untuk menyaksikan tahbisan imam dan dilanjutkan dengan liburan 2 hari di Ubud Bali. Dengan penghasilan pas-pasan sebagai karyawati dan masih tinggal di rumah orang tuanya di gang sempit, walaupun masih single ia tidak berani bermimpi sampai ke Bali. Ia membayangkan seperti apa rasanya di atas awan saat naik pesawat, seperti apa indahnya bali dengan mengingat apa yang pernah dilihat di televisi. Akhirnya setelah pulang ke Jakarta, semua orang yang ia temui tahu kisahnya; bagaimana dan apa saja yang dihadapinya sepanjang perjalanan. Pengalamannya tentang mobil yang mogok dijalan, koper yang gak bisa dibuka, sakit perut dan adu mulut dengan penjual asongan , semua itu dikisahkannya tapi tidak ada artinya dibanding kan sukacita sampai di pulau dewata. Hatinya sudah terbang duluan ke Bali, sehingga segala yang tidak enak yang dialaminya tidak masalah saat sudah sampai disana.










Bagaimana menurut Anda?