Hari Anak Nasional: Dipestakan atau Disikapi?

24 07 2008

Anak tetap lah anak, mau dia ada di rumah gedongan, di gang-gang sempit ataupun di jalanan. Keinginan bermain, menggoda teman, berkejar-kejaran dan bahkan bermain hujan adalah kesukaan anak-anak. Hanya saja untuk anak-anak tertentu hak mendasar inipun sulit dipuaskan, bahkan diusia dini mereka dimasukkan sebagai alat ekonomi pencari uang. Sedih juga melihat liputan di Metro TV, anak-anak miskin dari indramayu, dibawah usia 10 tahun, diijinkan menggelandang di Jakarta, agar bisa mendapat makanan lebih baik dari pada dikampungnya. Mereka tidak mau sekolah, tangannya capek dipakai menulis terus katanya. Mending dijalanan malah dapat duit. Memang lumayan untuk ukuran mereka, bisa bayar ’sewa kontrakan’, main game dan beli rokok !

Kemarin saat menghadiri perayaan Hari Anak Nasional di Tennis In Door Senayan, saya merasakan aura sukacita luar biasa. Saya datang kesana gak sengaja, hanya karena kawan aktivis berhalangan, maka saya diminta mewakili Gempita-Gerakan Iman Peduli Jakarta. Tengok kiri kanan yang duduk di VIP ternyata saya sendiri yang tidak pakai pakaian dinas. Halah? Acara nya sih sebentar, cuma sejam tapi meriah banget. Bukan karena ada Bang Foke dan Mpok Tati disana. Bukan karena panggung yang wah dan Project Pop yang ‘gw banget’ (Heran…..udah pada berumur, tetap aja kelakuannya bisa diterima anak-anak SD sampai SMA. Salut untuk alumni UNPAR… halah..narsisnya keluar d 8)

Tapi menurut saya inilah ‘panggung’ yang sungguh-sungguh menjadi pesta bagi anak-anak yang tidak pernah memimpikan dipestakan dan mengisi acara pesta buat mereka sendiri. Ada ratusan anak ikut terlibat dalam berbagai tarian kreasi disetiap lagu-lagu Project Pop, menari dengan senyum ceria serta berkostum colourful. Ternyata mereka bukan dari sekolah-sekolah papan atas, bukan juga dari sanggar sekolah tari, tapi ternyata… (baca disini)





Rahasia yang Tidak Rahasia (2)

24 07 2008

Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

Ada berbagai macam reaksi umat setelah mendengarkan Bacaan Injil saat Misa, ada yang serius memperhatikan penjelasan imam saat homili. Ada yang dengan santai melakukan devosinya ke Santa Nokia atau Santo Erickson (buka SMS gicuu…). Ada juga yang siap-siap cari PW (Posisi Wuenak) untuk meneruskan tidur. Ini serupa dengan keadaan dimana Yesus berkotbah dua ribu tahun lalu. Dia berkotbah dari atas kapal nelayan di tengah danau sementara orang-orang lain berdiri menyemut di pinggir pantai. Gak kebayang suara Yesus sekeras apa agar bisa didengar sampai pantai, gak ada loud speakerkan? Pasti semua orang juga termasuk anak-anak harus diam bila ingin mendengarkan ajaranNya. Kalau ribut sendiri ya pasti tidak mendengar apa-apa dan tidak mendapatkan apa-apa dari kotbah Yesus.

Setelah Ia selesai mengatakan perumpamaan maka orang banyak pun manggut-manggut setuju, dinilai baik bahasanya, mengena isinya tapi tidak tergerak untuk menanyakan artinya. Orang banyak pergi dengan puas tanpa merasa ada keharusan bertanya, mendalami konsekwensi, ditantang untuk berkonfrontasi atau bahkan bertindak untuk melakukan revolusi pribadi. Read the rest of this entry »