WYD 08: Receive The Power (Leny Marijani)

23 07 2008
Bacaan hari ini mengingatkan saya kejadian beberapa hari lalu yang tentunya masih segar, dimana Pope berada di antara kerumunan orang banyak yang dengan khidmat mendengarkan apa dikatakan oleh Pope. Bedanya Tuhan Jesus naik perahu, kalau Pope naik helicopter 8)
Semua umat & partisipan Katolik berbondong-bondong datang untuk menghadiri misa akbar bersama Pope Benedict. Untuk keamanan dan kelancaran acara, hampir semua jalan utama yang mempunyai akses ke lokasi ditutup. Akibatnya semua yang ingin hadir pada misa akbar harus berjalan kaki sepanjang kurang lebih 5 Km. Semua dianjurkan mengendarai public transport dan stop di Central Station, setelah itu jalan kaki ke lokasi. Jadi kalau di Jakarta kira-kira dari stasiun Kota ke Istora Senayan lah. Cukup jauh yah, tapi ajaib, semua rela berjalan kaki karena keinginan yang begitu kuat untuk mendengarkan Pope yang sangat kami hormati. Tiada yang mengeluh termasuk anak-anak saya yang dengan riang gembira berjalan kaki sambil menyanyikan WYD Anthem. Pokoknya bener-bener Pilgrimage deh….
Dalam perjalanan, tiba2 salah satu anak teman bertanya pada saya: “Mrs. H, who is Pope anyway?” saya jawab: “Pope is Jesus’ disciple. He is “Peter” so listen what he is saying as the Holy Spirit speaks through him.” Puji Tuhan anak temen itu mengerti,saya asumsikan mengerti karena tidak tanya lagi 8)
Ya Tuhanku, semoga kami tidak hanya mendengar tapi benar-benar bisa mengerti setiap kata yang Engkau ucapkan, Amin.
Sekedar sharing di bawah ini link Anthem of WYD’08 plus liriknya juga.Selamat menikmati… .. (kalau saya asli tidak bisa menahan air mata waktu nonton sambil mendengarkan lyric lagunya).

Lyrics – Receive the Power

Verse 1
Every nation, every tribe,
come together to worship You.
In Your presence we delight,
we will follow to the ends of the earth.
Chorus
Alleluia! Alleluia!
Receive the Power, from the Holy Spirit!
Alleluia! Alleluia!
Receive the Power to be a light unto the world!
Verse 2
As Your Spirit calls to rise
we will answer and do Your Will.
We’ll forever testify
of Your mercy and unfailing love.
Chorus
Alleluia! Alleluia!
Receive the Power, from the Holy Spirit!
Alleluia! Alleluia!
Receive the Power to be a light unto the world!
Bridge
Lamb of God, we worship You,
Holy One, we worship You,
Bread of Life, we worship You,
Emmanuel, we worship You.
Lamb of God, we worship You,
Holy One, we worship You,
Bread of Life, we worship You,
Emmanuel, we will sing forever.
Chorus
Alleluia! Alleluia!
Receive the Power, from the Holy Spirit!
Alleluia! Alleluia!
Receive the Power to be a light unto the world
Bacaan Mat 13:1-9





Pembibitan = Kaderisasi

23 07 2008

Menabur itu ternyata tidak mudah, pasti ada kemungkinan gagalnya, karena banyak faktor yang harus dipertimbangkan, seperti kualitas bibit, kesuburan tanah, pengalaman cara menabur bibit, selanjutnya adalah bagaimana cara merawatnya, pemupukan, gangguan dari luar, hama penyakit dan lain-lain. Hal yang sama juga terjadi dalam aktivitas pelayan Gereja, dimana proses kaderisasi (baca: pembibitan) jauh lebih sulit lagi, karena sifat manusia yang demikian dinamis, kreatif dan unik.

Saat ini banyak pelayan-pelayan senior berteriak, bahwa Gereja kekurangan kader, tetapi hanya sebatas bicara dan berwacana, para senior itu masih enggan berbagi waktu, tenaga, pikiran dan materi. Padahal kaderisasis merupakan sebuah rangkaian proses yang panjang, dimulai dari pencarian kader (bibit) yang ternyata tidak sederhana, sedikit peminat, minimnya dukungan dan begitu banyak penolakan, merupakan tantangan tersendiri. Ketika proses pengkaderan dijalankan, masih juga terkendala dengan pengorganisasian, pengadaan dana, narasumber yang berkualitas dan cocok serta metoda. Hal terakhir yang paling sulit adalah follow-up (tindak lanjut) atau pemeliharaan dari hasil proses kaderisasi ini, kebanyakan diantara kita adalah mengabaikan proses follow-up, sepertinya selesai proses kaderisasi, tuntaslah pekerjaan. Padahal ini adalah bagian paling penting sekaligus paling sulit, maka janganlah heran jika Gereja hanya bisa mengumpulkan bibit dan menaburnya tetapi pihak lain yang menuainya. Read the rest of this entry »





Tumpang Sari yang Asri (Rm Wardjito SCJ)

23 07 2008

Sekali-kali saya menambah renungan mBak Ratna. Boleh tho? Nah — boleh tidak boleh — saya jalan terus.

Dengan hasrat kuat untuk menumbuh-kembangkan Basic Ecclesial Community alias Komunitas Basis Gerejani, baik yang bercorak teritorial maupun kategorial, kita mau menyediakan diri sebagai “tanah yang subur dan siap ditaburi benih.” Individualisme maupun primordialisme adalah salah satu kecenderungan yang mungkin tidak diinginkan tetapi de fakto kita hidupi. Kondisi seperti ini tidaklah kondusif untuk bertahannya dan bertumbuh-kembangny a iman-harapan- kasih. Karena itulah dari awal Allah telah menciptakan pria-wanita; Dia pun menjelma menjadi manusia di dalam Diri Yesus melalui keluarga, kelompok basis Yahudi Nasaret, the given society yang sarat dengan nilai-nilai keagamaan-sosial- politik-dst, yaitu Masyarakat Yahudi dan yang non.

Nah, dalam kondisi seperti ini Sabda Allah diharapkan dapat bertumbuh-mengakar dan memberikan effek ekologis yang juga dibutuhkan oleh anggota masyarakat lain. Kita tidak hidup di dalam sistem multi-kultur, semisal kebun kelapa sawit saja; lebih dari itu kita sehat secara organik — seperti Pastor Agato OFMCap di Cisarua — mengembangkan sistim tanam tumpang sari, yang dengan mana lingkungan tanam yang saling membantu atau saling memproteksi dan bahkan saling memberi pupuk kehidupan sungguh-sungguh terjadi. Bhineka Tunggal Ika adalah kondisi apik yang harus kita sadari tepat untuk menumbuh-kembangkan nilai-nilai Kerajaan Allah. Bukankah begitu?

Bacaan Mat 13 : 1-9 Read the rest of this entry »





Salah Benih atau Salah Tanah

23 07 2008

Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!

Saya pernah lihat acara di Metro TV perjuangan petani PIR yang berusaha keras mengatasi kemiskinan dan kesulitan bertanam jagung. Lahan memang dipinjamkan, karena tidak memiliki tanah mereka menjadi buruh ladang istilahnya. Mereka berusaha menemukan dan menyilangkan benih jagung hibrida, dan akhirnya bisa didapat hasil yang baik. Kualitas jagung bagus, tahan hama dan panenanpun bisa lebih cepat. Celakanya ternyata cara primitif yang sukses ini, dihajar oleh ’sistem kapitalis’ yang ada. Dengan alasan benih tersebut tidak ‘terdaftar’ di balai benih maka usaha para petani tradisionil ini dinilai ilegal. Akibatnya hidup mereka malah ada di balik jeruji besi selama 6 tahun !! Yang mana sebenarnya benih yang baik?? Benih temuan petani jelas hasilnya lebih baik dari benih jagung hibrida ‘berlabel’. Kedua jenis benih ditanam di tanah yang sama, di hutan milik negara. Jadi tanah yang baik membutuhkan benih yang prima dan dikerjakan oleh orang yang trampil bertani.

Injil hari ini menegaskan bahwa benih Kerajaan Allah sudah dijamin mutunya, bisa menghasilkan sampai seratus kali lipat. Baru bisa maksimal kalau dipenuhi syarat pertama, yaitu menemukan dan memperbaiki kualitas tanah sebelum ditaburkan benih. Kalau masih belum siap, ya lahan harus diolah dulu agar menjadi tanah yang baik. Kedua, perlunya para penggarap yang memelihara benih dan menjaganya dari burung gagak, ilalang dan batu-batu yang menghimpit tadi. Perlu kewaspadaan agar benih tersebut bisa leluasa tumbuh dan cukup air. Read the rest of this entry »