“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23 ) – Hari Perayaan Orang Kudus : St Ignatius Loyola
Kutipan dari Injil Lukas di atas ini kiranya menjadi bahan permenungan di dalam Latihan Rohani St.Ignatius Loyola dalam “Panggilan Raja”, antara tertulis demikian: “KehendakKu ialah menaklukkan seluruh dunia serta semua musuh, dan dengan demikian masuk ke dalam kemuliaan Bapaku. Barangsiapa mau ikut Aku dalam usaha itu, harus bersusah payah bersama Aku, supaya karena ikut Aku dalam penderitaan, kelak dapat ikut pula dalam kemuliaan” (St.Ignatius Loyola, LR no 95). Menjadi murid-murid atau sahabat Yesus memang harus meneladan cara hidupNya atau mengenakan cara hidupNya “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”(Fil 2:6-8), hidup ‘miskin, sederhana, menyatukan diri dengan yang dilayani/turun ke bawah, rendah hati dan menyerahkan diri pada yang dilayani maupun yang mengutus’.
“Menyangkal diri dan mimikul salib setiap hari” antara lain berarti melaksanakan tugas dan menghayati hidup, panggilan maupun tugas perutusan sesuai dengan kehendak Allah serta aneka peraturan atau tatanan hidup yang terkait, bukan menurut atau mengikuti keinginan atau kemauan diri sendiri. menurut selera pribadi. Dengan kata lain kiranya menghayati keutamaan ‘ketaatan’, yang menurut hemat saya merupakan ciri khas sahabat-sahabat Yesus, pengikut St.Ignatius Loyola. “Dalam ketaatan pribadi, semua menyerahkan kepada pembesar pengaturan hidup mereka yang penuh dan seluruhnya bebas; mereka ingin dipimpin bukan oleh pandangan dan kehendaknya sendiri, melainkan oleh tanda kehendak ilahi yang dalam ketaatan diberikan kepada kita. Maka, mereka mengambil alih perintah dan maksud pembesar secara pribadi serta penuh tanggungjawab, dan dengan perhatian penuh mereka menyediakan ‘daya budi dan kehendak, serta anugerah kodrat dan rahmat untuk melaksaknakan apa yang diperintahkan dan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka” (NP Konstitusi SJ no 152) Read the rest of this entry »

Seorang kawan aktivis diparoki bercerita bagaimana bahagianya dia, deg-degan tidak bisa tidur semalaman menjelang keberangkatannya ke bali dan jogya. Baru kali ini dapat hadiah tiket pesawat terbang ke Jogya untuk menyaksikan tahbisan imam dan dilanjutkan dengan liburan 2 hari di Ubud Bali. Dengan penghasilan pas-pasan sebagai karyawati dan masih tinggal di rumah orang tuanya di gang sempit, walaupun masih single ia tidak berani bermimpi sampai ke Bali. Ia membayangkan seperti apa rasanya di atas awan saat naik pesawat, seperti apa indahnya bali dengan mengingat apa yang pernah dilihat di televisi. Akhirnya setelah pulang ke Jakarta, semua orang yang ia temui tahu kisahnya; bagaimana dan apa saja yang dihadapinya sepanjang perjalanan. Pengalamannya tentang mobil yang mogok dijalan, koper yang gak bisa dibuka, sakit perut dan adu mulut dengan penjual asongan , semua itu dikisahkannya tapi tidak ada artinya dibanding kan sukacita sampai di pulau dewata. Hatinya sudah terbang duluan ke Bali, sehingga segala yang tidak enak yang dialaminya tidak masalah saat sudah sampai disana.












Bagaimana menurut Anda?