Tuhan, Jadikanlah Aku Pembawa Damai (Santo Fransiskus Asisi)

22 04 2008

  • Tuhan, Jadikanlah aku pembawa damai,
  • Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih,
  • Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan,
  • Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan,
  • Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian,
  • Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran,
  • Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan,
  • Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang,
  • Tuhan semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur,
  • Memahami dari pada dipahami, mencintai dari pada dicintai,
  • Sebab dengan memberi aku menerima
  • Dengan mengampuni aku diampuni
  • Dengan mati suci aku bangkit lagi, untuk hidup selama-lamanya.
  • Amin




Piiiis…maaan…Piiss….

22 04 2008

“Damai sejahtera yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.”

Bila kita sempat ngobrol dengan supir taksi, di pasar dan masyarakat umumnya, yang kita temukan kebanyakan adalah kegelisahan dan kekhawatiran akan semakin sulitnya hidup di Jakarta. Rasa damai dan aman menjadi barang mahal bagi mereka. Yang umum ditemui tawaran uang ‘damai’ dimana-mana, mulai dari urusan tilang menilang, urusan KTP kadaluwarsa, pajak dan bahkan sewa lapak pun ada uang ‘damai’.Kalau mau terus usaha dan tidak mau repot dan terganggu aktivitasnya, ya ‘damai’ aja lah. Belum lagi kalau kita termasuk golongan yang ‘resah’ dengan penampilan, berbagai pilihan tersedia selama kantong tebal. Mau yang cepet langsing, mulus putih. Atau mau berkeringat dulu tapi gengsi tinggi bisa ke klub kebugaran. Ada uang, ada barang. Ada juga anak-anak ABG tidakjarang harus ‘menunduk-nunduk’ bila ketemu seniornya kalau mau ‘damai’ di sekolah. Piiiis.. maaan….Jarang saya bertemu orang yang berkata : saya beryukur dalam menghadapi kesulitan hidup ini. Karena saya tidak sendiri,Tuhan ada bersama saya.

Damai yang ditinggalkan Tuhan Jesus berbeda dengan damai yang ada disekitar kita. Damai yang diwariskan kepada murid-muridNya, membuat para rasul tetap bersemangat dalam pewartaan Injil. Mereka dikejar-kejar untuk dihukum dan dibunuh, mereka terpencar ke kota-kota lain. Tapi dengan suka cita mereka menghadapi resiko pemberitaan Kabar Sukacita. Pasti tidakada muka muram dan ketakutan diwajah mereka, Ada suka cita ada damai sejahtera. Sehingga siapapun berada didekat mereka merasakan suka cita itu. Menjadi pengikut Kristus juga adalah pembawa suka cita, bukan penebar ketakutan dan kegelisahan. Read the rest of this entry »