Kartini Ngeblog (Dari Ventura Elisawati)

30 04 2008

Tulisan yang juga dimuat di Kompas ini , menyatakan bahwa untuk memelihara semangat pembaharuan Kartini memang kita harus ‘ahead’ pada jamannya. Artikel selengkapnya bisa diakses di http://vlisa.com/2008/04/21/memaknai-kartini-di-era-informasi-tanpa-batas/

Kartini Ngeblog
Menurut hemat saya, apa yang dilakukan Kartini saat itu — menuangkan pikiran, memanfaatkan TIK (Teknologi Informatika dan Komputer) untuk berinteraksi, melakukan transformasi dan memberikan inspirasi — sebenarnya tak jauh dari apa yang kini tengah populer di dunia TIK. Salah satunya, ngeblog.

Blogging secara positif adalah menuangkan berbagai pemikiran, dalam personal web site (blog) untuk kemudian mendapatkan tanggapan dalam diskusi interaktif, yang positif tentunya, pada akhirnya bisa ditranformasikan dan bisa menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal-hal yang positif.

Karena itu, saya yakin bila Kartini hidup di zaman sekarang, dia pasti ngeblog, supaya lebih banyak orang berani berpendapat menyampaikan pikirannya. Dan buntutnya makin banyak orang pintar dan terjadi social networking yang positif. Read the rest of this entry »





Baik (belum tentu) = Benar

30 04 2008

Roh Kebenaran akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.

Saya sering menjumpai berbagai tindakan yang tadinya saya pikir baik, harus dipikir ulang bahwa tindakan tersebut tidak benar. Contohnya kemarin, saya mau mengajak anak saya untuk menghadiri tahbisan imam di Jogya. Suami sudah mengingatkan agar sekali-kali saya ajak Sekar kalau keluar kota, agar tidak terlalu merasa ‘ditinggalkan’. Saya pikir ini kesempatan karena dia belum pernah menyaksikan tahbisan imam, dan lagi kan juga baru awal masa pelajaran baru. Ijin dua hari pasti dapat lah. Ternyata Sekar menolak, Bunda you know I love school, I don’t wanna go. Yaaaah… kecewa deh. Bener juga sih, tapi saya hanya ingin pergi bersamanya karena dia lah yang paling komplain kalau saya tinggal keluar kota. Nyerah lah…

Dalam kejadian lain, saya dan suami kadang berbeda pendapat dalam menangani masalah keluarga saya, maklum sebagai anak paling besar maka suamilah tempat diskusi. Ia sering mengatakan begitulah akibatnya kalau orang tua terlalu memanjakan anak, jadinya sudah berumur malah belum mandiri. Hhhm… saya sering juga mengutarakan hal yang sama saat orang tua masih ada. Cara mereka mencintai anak dengan memanjakan, ternyata membuat anak kurang mandiri di kemudian hari. Saat itu ibu menjawab: mumpung saya bisa melakukannya. Jangan sampai anak-anak hidup susah seperti saya. Lho? Saya dan suami bersepakat mendidik anak mandiri harus dimulai dari usia muda dengan disiplin dan kasih. Untungnya sebagian besar dari kami, anak-anaknya belajar mandiri dengan sekolah diluar kota dan belajar bekerja di luar perusahaan orang tua. Sehingga sikap bertanggungjawab dan kemandirian justru ditempa di dunia kerja.

Injil hari ini mengingatkan kita bahwa Roh Kebenaran diberikan bagi kita yang ingin dan mencari Kebenaran dalam penziarahan di bumi. Segala hal yang kita pikir baik, yang betul ternyata bisa juga tidak benar terutama dihadapan Tuhan. Read the rest of this entry »





Peranan Kaum Ibu Membangun Habitus Baru di Kota Metropolitan

29 04 2008

(Dalam rangka bulan Kartini, saya bagikan tulisan yang pernah dimuat di Majalah Utusan dan Shalom Betawi edisi Mei 2006)

Mobilitas tinggi dan tuntutan kehidupan yang sulit membuat warga kota sibuk dengan urusannya masing-masing. Hal ini tampak dari ribuan kendaraan yang merayap di jalanan mulai pagi buta hingga jauh larut malam. Karenanya tidak kenal tetangga adalah hal biasa. Pasangan muda yang bekerja, terpaksa mempercayakan anak-anaknya pada para pramuwisma dan pengasuh bayi (baby sitter) yang kurang perduli berapa lama para balita didepan TV. Apa yang dilihat pun tak soal, yang penting saat „Nyonya“ menelpon anak-anak tidak rewel.

Definisi keluarga tidak lagi seperti apa yang tertulis indah didalam buku. Kapan para orang tua duduk bersama dengan anak-anaknya? Yang balita mungkin hanya akhir pekan, karena malam hari saat mama-papa datang mereka sudah tidur; sedangkan yang usia sekolah dan kuliah lebih sulit lagi karena masing-masing memiliki kegiatan tersendiri setiap hari. Kegiatan keluarga di Hari Minggu harus dirancang jauh-jauh hari dengan mereka, kalau tidak mama-papa dibilang ”otoriter”.

Tidak mudah menjadi ibu bekerja di kota metropolitan, waktu 24 jam pun dirasa kurang. Minimal 4 jam setiap harinya hanya untuk perjalanan pulang pergi dari rumah ke kantor. Sebutan ”home sweet home” rasanya semakin jauh. Disebut ”sweet home” karena diharapkan bisa menjadi tempat untuk tiap anggota keluarga didengarkan, diperhatikan, ditolong, disapa dan disentuh dengan kasih sayang. Read the rest of this entry »





Farewell to get well

29 04 2008

“Adalah lebih berguna bagi kamu jika Aku pergi.”

Kemarin saya menghadiri Misa Requiem seorang umat paroki di gereja. Tidak ada yang menyangka bahwa diusianya yang masih belum lanjut, ia telah meninggalkan anak-anaknya yang masih muda. Walaupun telah menderita sakit beberapa tahun terakhir, tapi bila saat ‘perpisahan’ itu tiba, tetap saja membuat kita tidak berdaya. Rasanya hampir tidakada perpisahan yang membawa suka cita.

Yang paling sedih adalah perpisahan dengan orang yang kita kasihi tapi kita tidak tahu apakah kita bisa berjumpa lagi seperti mengantarkan yang terkasih berangkat ke medan perang, atau bahkan saat orang yang terkasih pergi ke alam baka. Penghiburan kita adalah kalau kita melaksanakan pesan-pesan terakhir mereka; seakan-akan menjadi penghiburan bagi orang-orang yang ditinggalkan. Maka kepergian mendadak tanpa meninggalkan pesan menambah rasa dukacita dan kadang membuat kita merasa bersalah karena tidak memperhatikan saat-saat terakhir bersama orang yang kita kasihi.

Dukacita memerlukan penghiburan. Dukacita bisa menjadi sukacita kalau kita memiliki pengharapan akan akibat atau tujuan perpisahan itu. Read the rest of this entry »





Semangat Berbagi dan Berkorban

28 04 2008

Akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah”

Hare gheneee… masih ada kah orang bermimpi dan berkehendak baik? Kita bisa apatis melihat kondisi sekeliling kita. Masih adakah harapan bagi bangsa ini? Begitu banyak orang kelaparan, tertindas dan tertawan kemiskinan dan kebodohan, penjara semakin penuh melebihi kapasitasnya. Penyakit aneh bermunculan dimana-mana sementara pelayanan kesehatan semakin jauh dari sempurna. Maraknya acara berbagai idol di media TV menjadi jalan pintas untuk keluar dari kesesakan hidup.

Masih kah ada yang berani bermimpi dan berkehendak baik? Masih kah ada guru-guru yang berani punya visi bagi anak-anaknya? Masih adakah anggota DPR yang mengutamakan kepentingan orang2 terpinggir dan tersisih karena modernisasi? Masih adakah dokter yang tidak komersiil? Kalaupun ada pasti mereka menghadapi tantangan berat justru dari kolega2nya. Mereka seolah bertindak sendiri melawan arus mempertahankan kemurnian dan ketulusannya. Acara TV seperti Kick Andy mestinya ditayangkan lebih sering untuk menumbuhkan semangat untuk berkorban demi cita-cita yang luhur. Kita perlu informasi perjuangan anak bangsa model begini agar bisa menular ke banyak orang. Read the rest of this entry »





Qui Bene Cantat Bis Orat (St Agustinus)

27 04 2008

He who sings well prays twice adalah kutipan terkenal dari Santo Agustinus. Menurutnya menyanyi hanya bisa dilakukan bagi mereka yang memiliki kasih. Demikian juga tiap kali diucapkan Bapak setiap kali kami bertugas di paroki Theresia. Ayo semangat dan latihan terus, kita mengantarkan umat menyanyi; kalau mereka menanyi dengan baik maka mereka berdoa dua kali. Waktu saya masih SMA saya bertugas sebagai organis sementara bapak menjadi dirigen. Tiap kali kami berdua harus standby kalau-kalau ada koor yang berhalangan di paroki St Theresia. Maklum rumah kami paling dekat gereja dibandingkan organis/dirigen lainnya. Buat saya pribadi keharusan belajar main organ awalnya berat juga, tapi melihat Bapak serius sekali, saya menyerah lah. Bapak memang suka musik terutama klasik dan pemain clarinet di masa mudanya. Saking seriusnya dibelinyalah Yamaha E 10 R yang waktu itu paling top, warna putih dan besar sekali karena ada 2 tingkat tuts dan 2 oktaf pedal. Akhirnya belajarlah saya dengan seorang guru privat. Tapi memang yang paling malas kalau belajar lagu baru Malas latihannya, mules waktu mainnya. Takut salah. Sementara teman2 asyik janjian main basket dan soft ball, hobby saya waktu itu, saya harus les dan latihan organ dengan bapak. Begitu saya diterima di FT Sipil Unpar di Bandung… happy banget booo… bukan apa-apa, salah satunya ya itu tadi… bebas dari tugas organis. Namanya juga anak-anak. Itulah saat terakhir saya jadi organis karena untuk seterusnya saya lebih sering tinggal di Bandung sampai menikah dan memiliki dua orang anak.

Rupanya Tuhan belum selesai berurusan dengan saya. Dia tidak tinggal diam. Dia tahu apa kelemahan saya, Dia tahu apa kemampuan saya. My God has a sense of humor ! Saya memang menghindari tugas organis. Lebih senang melihat orang lain bermain organ daripada memainkannya didalam Misa. Tidak ada yang tahu di paroki ini kalau saya pernah jadi organis. Sampai suatu saat, lingkungan kami berinisiatif membentuk koor, mengajak umat terlibat ikut latihan, mencari guru dan menentukan tempat dan hari latihan. Semua sudah di atur, bahkan tanggal tayang perdana sudah ditentukan yaitu hari ini … betul hari inilah tayang perdana kami. Read the rest of this entry »