Memang enak ?

31 03 2008

Mary & Gabriel the angel Aku ini hamba Tuhan . Fiat Voluntas Tua

Beberapa hari lalu saya dihubungi seorang anak muda yang meminta saya membawa renungan di Persekutuan Doa di kampusnya. Seperti biasa saya tanya tema yang akan disampaikan. Dia minta saya bawakan tema “enaknya ikut Tuhan Yesus”. Hhhmmm… saya jadi mikir juga, apa enaknya ikut Tuhan Yesus? Bukannya jadi pengikut Kristus lebih banyak tidak enaknya? Kehidupan para orang kudus juga tidak kalah sulitnya.

Bacaan Injil hari ini merefleksikan perjalanan Bunda Maria sebagai pembawa Kabar Sukacita ke dunia yaitu dengan peranannya sebagai ibu Sang Penyelamat. Apa enaknya jadi Bunda Maria? Begitu ia menerima tugas perutusan, hidupnya tidak sama lagi dengan perempuan muda di jamannya. Ia hamil diluar nikah, berhadapan dengan hukum Yahudi yang dapat menyeretnya ke gerbang kota untuk di hukum rajam, dilempar batu hingga mati. Saat hamil besar ia harus berjalan jauh bahkan melahirkan di tanah asing sebagai pengungsi.Apa enaknya melahirkan tanpa didampingi orang-orang terkasih kecuali suami, apalagi melahirkan di tempat yang bau dan sumpek, di kandang hewan. Apa juga enaknya, gara-gara melahirkan Sang Juru selamat, merekamenghadapi ancaman pembunuhan bayi oleh Herodes, sehingga dengan membawa bayi merah itu, mereka mengungsi lagi ke Mesir. Saat Yesus 12 tahun, bunda Maria sempat panik, anak semata wayangnya titipan Allah Bapa,hilang di Bait Allah. Waktu ketemu pun sempat bilang gak mau pulang. Selanjutnya ia mendampingi dan membesarkan anaknya seorang diri, tanpa suami yang telah wafat mendahuluinya. Bukan perkara mudah juga Bunda Maria melawan sakit hati seorang ibu melihat anaknya menderita siksaan disepanjang jalan menuju bukit Kalvari. Ia setia berdiri tidak jauh dari anaknya, tanpa daya, tapi terus mendoakan agar anaknya bertahan sampai akhir. Bunda Maria juga yang menerima jasad Yesus sebelum dimakamkan. Akhirnya Bunda Maria meneruskan tugas Yesus dengan mendampingi murid-muridNya sampai akhir hayatnya. Ia mendampingi para murid dari saat ketakutan sampai mereka bersemangat memberitakan Injil . Itulah Gereja perdana Kumpulan orang-orang beriman.
Read the rest of this entry »





Have Mercy on us & the whole world

30 03 2008

doubting thomasBerbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya

Sabtu sore tadi saya bertugas sebagai prodiakon, sebenarnya bukan giliran saya, tapi karena kali ini Misa karismatik, panitya meminta saya mengambil bagian dalam Perayaan Ekaristi yang kali ini terasa istimewa. Istimewa karena ‘jatah’ Misa karismatik di sabtu ke lima kali ini jatuh persis di Minggu Kerahiman Ilahi. Istimewa juga karena kali ini tim pujian dibantu dari PDKK paroki Bintaro dan dipimpin romo Deshi Ramadhani, yang saya kenal sejak masih misdinar.

Bagi saya mengambil peran sebagai prodiakon adalah suatu previlige, kesempatan istimewa dalam mengantarkan Tuhan bagi saudara seiman. Tapi sungguh kali ini saya merasa kecil sekali dan rasanya kalau boleh memilih, saya ingin duduk sebagai umat saja. Niatnya tadi berangkat kegereja memang mau datang sebagai umat. Ternyata Tuhan berkehendak lain. Saya diijinkan duduk di bangku prodiakon kali ini. Di awal Misa saya menikmati setiap lagu dan doa yang diucapkan serta mengikuti bacaan-bacaan Kitab Suci. Tapi begitu mulai masuk homili, mendengar penuturan sang doktor Kitab Suci yang tegas dan bersemangat, air mata saya sudah tidak terbendung lagi. Mungkin umat di barisan depan dan di balkon melihat saya berkali-kali mengusap air mata yang mengalir selama homili. Saya merasa Tuhan menyapa saya dengan kasihNya.

Banyak pertanyaan dari teman-teman lama saya, mengapa saya masih bertahan ambil bagian dalam pewartaan Injil ditengah segala kesibukan saya. Read the rest of this entry »





Minggu Kerahiman Ilahi: Yesus, Engkaulah andalanku

30 03 2008

Tanggal 30 Maret 2008 ini seluruh liturgi Gereja Katolik dirayakan sebagai hari minggu kerahiman Ilahi. Apa dan bagaimana kerahiman Ilahi itu? Berikut ulasannya: Buku Catatan Harian St Faustina memuat setidak-tidaknya empatbelas bagian di mana Tuhan kita meminta suatu “Pesta Kerahiman Ilahi” ditetapkan secara resmi dalam Gereja.

“Pesta ini muncul dari lubuk kerahiman-Ku yang terdalam, dan diperteguh oleh kedalaman belas kasih-Ku yang paling lemah lembut (420)…. Adalah kehendak-Ku agar pesta ini dirayakan dengan khidmad pada hari Minggu pertama sesudah Paskah.… Aku menghendaki Pesta Kerahiman Ilahi menjadi tempat perlindungan dan tempat bernaung bagi segenap jiwa-jiwa, teristimewa para pendosa yang malang. Pada hari itu, lubuk belas kasih-Ku yang paling lemah-lembut akan terbuka. Aku akan mencurahkan suatu samudera rahmat atas jiwa-jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku (699)”

Tergerak oleh permenungan akan Allah sebagai Bapa yang Maharahim, maka Bapa Suci Yohanes Paulus II menghendaki agar sejak saat ditetapkannya, Minggu Paskah II secara resmi dirayakan sebagai Minggu Kerahiman Ilahi oleh segenap Gereja semesta. Hal ini dimaklumkan beliau pada tanggal 30 April 2000, tepat pada hari kanonisasi St Faustina Kowalska.

INDULGENSI KHUSUS PADA MINGGU KERAHIMAN ILAHI
Tuhan kita berjanji untuk menganugerahkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman pada Pesta Kerahiman Ilahi, seperti dicatat sebanyak tiga kali dalam Buku Catatan Harian St Faustina; setiap kali dengan cara yang sedikit berbeda:

“Aku akan menganugerahkan pengampunan penuh kepada jiwa-jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus pada Pesta Kerahiman Ilahi (1109).”

“Jiwa yang menghampiri Sumber Hidup pada hari ini akan dianugerahi pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman (300).”

“Jiwa yang menerima Sakramen Tobat dan menyambut Komuni Kudus akan mendapatkan pengampunan penuh atas dosa dan penghukuman (699).”

Selanjutnya bisa dibaca di http://kerahimanilahi.com/





Bad news is good news – or – No news is good news ?

29 03 2008

Jesus with disciples

Membaca koran hari ini, kemarin, minggu lalu bahkan bulan lalu, sepertinya tidak terlalu ketinggalan berita. Karena rata-rata isinya kurang lebih sama, tidak memberi harapan banyak. Justru cenderung kian hari kian rumit dan kompleks. Semakin buruk dan menyeramkan nya suatu berita, untuk pemain media justru menjadi ‘layak jual’. Bad news is good news. Coba kita perhatikan judul berita di halaman depan koran. Seolah berlomba menjual ‘not so good news‘. Tingginya tingkat keputusasaan mendera para ibu-ibu dan memilih membunuh anak-anaknya daripada berusaha menyelamatkannya. Anak-anak pun ada yang memilih bunuh diri karena malu tidak bisa membayar sekolah. Gedung SD ambruk saat murid-murid sedang belajar.

Disisi lain sebagai pembaca berita, pusing juga melihat di mana2 yang ‘buruk2′ dan membuat hati ciut. Di luar negeri tidak lebih baik juga; konflik yang berkepanjangan seperti di Iran, jalur Gaza, Afrika selatan, orangpun berharap tidak mendengar berita dari sana. No news is good news, karena kalau ada berita pasti berita buruk yang datang. Jadi kalau tidak ada kabar. artinya tidak ada sesuatu yang buruk terjadi. Jangan-jangan mereka juga berpikir “adakah kabar yang baik datang dari Indonesia?”

Ditengah segala ‘not so good news’, semalam saya merasa ‘disegarkan’ dengan tayangan Kick Andy http://www.kickandy.com/pretopik.asp Kok ternyata masih ada orang-orang yang menggeliat melawan segala keterbatasan, menembus segala ketidakmungkinan. Baru saja saya terima SMS dari seorang imam dari Nabire: Selamat siang bu, Saya baru saja kunjungi kel tani EMOSUGIYA, orang2 Moni. Mereka sdg menyiangi padi ladangnya. Mrk tanam pandan wangi. Petrus Kobagau sdh 2 x panen. Mrk dulu sdh berhasil tanamsayuran. Skrg mau perluas tanam padinya. Tanah gereja msh ada bbrp HA untuk bisa digarap. Dari kel tani tsb 3 org lulusan KPTT Salatiga.

Percaya gak percaya, ke dunia seperti inilah kita berada saat ini. Kabar apa yang harus kita wartakan ditengah “not so good news”? Tayangan Kick Andy semalam dan SMS pagi ini meneguhkan saya menghayati Injil hari ini tentang pembawa kabar baik. Read the rest of this entry »





Just in case..

28 03 2008

Be W U     Please find these 25 Beautiful phrases to cheer you up

e.g.

24. Be ye fishers of men. You catch them and He’ll clean them.

25. God doesn’t call the qualified. He qualifies the called.

(Authors: unknown)





Bersama (Tuhan) Kita Bisa

28 03 2008

fishermen“Itu Tuhan” Yoh 21:7

Seorang pengacara top dalam wawancara di radio ditanya : bagaimana harapan bagi reformasi di bidang hukum dan politik, ia menjawab ” harapan saya sudah mati” sejak 30 tahun terakhir. Ia mengatakan negara ini sudah selayaknya collapse. Tapi ia percaya hal ini tidak terjadi karena ada orang-orang yang tegar, yang tidak henti-hentinya berdoa, berzikir serta berkarya dengan motivasi tulus bagi bangsa ini, yang masih takut berbuat dosa, maka karena orang-orang inilah Indonesia masih ‘exist’.

Simon Petrus dan murid-murid yang lain mengalami krisis iman cukup parah dengan wafatnya Yesus. Padahal mereka sudah dua kali mengalami penampakan Yesus. Begitu tidak percayanya mereka, sampai tidak bisa mengenali kehadiran Yesus. Mereka bingung dengan apa yang harus dilakukan untuk meneruskan hidup tanpa Yesus. Lalu Petrus pun mengajak murid-murid kembali pada kehidupan ‘lama’nya, menjadi nelayan. Mungkin bingung, atau panik sehingga Petrus lupa bahwa ia telah dipilih Yesus menjadi “penjala manusia”.

Dalam gelapnya malam, keputus-asaan menyerang para murid yang notabene nelayan. Mereka tidak mendapatkan ikan sampai pagi. Tetapi karena ada perintah ’seseorang’ yang tidak mereka kenal, mereka ‘tergerak’ untuk kembali menebarkan jala di pagi harinya. Logikanya kalau sudah siang, pasti nelayan tidak dapat menangkap ikan dan memilih pulang pagi hari. Walah.. ternyata tangkapan mereka luar biasa banyak, anehnya jala mereka tidak koyak. Barulah mereka sadar, itu bukan usaha mereka, tapi karena kehadiran Tuhan dalam karya mereka.

Read the rest of this entry »