POKOKNYA……..

29 02 2008

“Kasihilah Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan”

Waktu anak-anak masih balita, paling pusing kalau mereka sudah bilang “pokoknya…” Apakah itu saat makan, pokoknya aku gak mau ada sayuran, pokoknya aku maunya punya yang ini, pokoknya aku gak mau mandi sekarang… Perlu dicari cara kreatif sehingga mereka mau melakukannya sesuai yang kita mau. Supaya tidak terjadi adegan memilukan maka setiap kali masuk toko mainan, kita membuat perjanjian mau apa kita masuk ke toko mainan, mau lihat-lihat mainan ya hanya “lihat” tidak minta dan tidak beli. Itu berlaku bagi semua anak. Sehingga mereka belajar “menahan diri” tapi tetap ada kesempatan window shopping.

Kadang kita pun sering terjebak dengan “pokoknya” persis anak kita sendiri.. pokoknya kalau ayah bunda sudah bilang tidak ya tidak. Pokoknya aku mau begini, kamu harusnya ngerti dong. Pokoknya itu nantilah, yang penting kita datang ke pak anu dulu, anak-anak bisa menunggu. Permasalahannya adalah siapa yang menjadi sumber dalam membuat keputusan? Aku sebagai pusatnya, Tuhan atau sesamaku? Seolah-olah orang lain lebih penting, tapi sebenarnya keamanan posisiku lebih penting sehingga kunjungan ke pejabat menjadi lebih penting daripada menemani anak.

Setiap Sekar SMS “what time you are going home? I am sleepy already. Don’t be late mom” Ada rasa sesal dan sesak di hati, ……….. Read the rest of this entry »





Divide et impera

28 02 2008

“Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.”

Saya harus angkat topi untuk suami, bisa-bisanya dia dapat info keluarga si ini begini dan si itu begitu. Usil ya? Sebenarnya gak juga, tapi gak tau kenapa, para satpam dan pembantu tetangga tuh bisa akrab dengan suami saya, dan dengan enteng mereka cerita apa yang terjadi “didalam” sana tanpa ditanya, padahal sungguh mati suami saya bukan tipe tukang ngomongin orang. Biarlah ‘berita’ tsb berhenti di antara kami saja. Tapi dia memang suka lebih dulu menyapa orang-orang itu kalau berpapasan, tukang beling pun kenal dia. Kata suami saya, kalau mau tahu “isinya” keluarga, tanya aja pembantunya; apalagi kalau pembantu sering gonta ganti, pasti ada apa-apanya deh. Maka berbaik-baiklah dengan para pembantu RT, gak ada salahnya mereka juga menikmati libur setiap hari Minggu kan? Pasti deh mereka lebih betah serta gak rela tuan-nyonyanya digossipin :-D
Mudah sekali mengetahui ‘isi’ keluarga lewat pembantu RT, lebih mudah juga ‘membongkar’nya kalau memang rapuh. Maka tidak heran kalau sering ada orang “ketiga” masuk dalam rumah tangga yang rapuh. Cerita satu lagi tentang keluarga. Read the rest of this entry »





Peraturan dibuat untuk dilanggar?

27 02 2008
“Aku datang untuk menggenapinya”
Sebagai perempuan dan anak paling besar, saya inget sekali bagaimana bapak ibu begitu memperhatikan kegiatan saya. Disaat SMP sampai SMA saya dibebaskan memilih berbagai macam kegiatan dari penyiar radio amatir, basket, volley, softball, drumband, piano, berkuda, sampai karate saya ikuti juga . Naik motor trail pun dijajal ikut-ikutan adik2 saya, tapi gara-gara jatuh kapok deh… semakin gak berani lagi sekarang untuk naik motor, melihat ribuan sepeda motor menyerbu jalanan di Jakarta. Tapi begitu jam 10 malam berhentilah semua kegiatan, gak boleh dilanggar yang satu ini. Baikyang bertamu kerumah maupun pergi keluar, harus berhenti. Kalau mau nekad maka si supir akan keliling cari saya, atau bapak saya sendiri akan mengubek2 tuan rumah untuk cari saya. Kalau masih ada tamu, temen laki-laki saya pasti keder dengan tatapan matanya. Weleh, weleh … malu banget deh pokoknya, jadi daripada dipermalukan lebih baik nurut bo-nyok aja deh.
Baru setelah saya punya anak remaja, saya mengerti kenapa orang tua saya begitu ketat “menjaga” saya sedemikian rupa, sampai waktu itu saya sempat stress dan malu punya bapak “si raja tega”. Tapi herannya kalau untuk anak laki-laki gak seketat aturannya untuk saya. Dia membuat berbagai aturan itu karena sayang sekali dengan anak-anaknya dan berharap kami bisa menahan diri di masa muda kami.
Saat anak saya tanya, bunda kenapa sih Tuhan tidak berbuat apa-apa di dunia ini? Kenapa tetap banyak orang miskin dan orang sakit? Saya menjawab:
kamu lihat gak di koran banyak kecelakaan, di jalanan, ada bis tabrakan, kereta api dan pesawat jatuh, padahal ada menteri perhubungan dan polisi. Itu terjadi karena orang-orang melanggar peraturan yang sengaja dibuat untuk keselamatan mereka, ya termasuk peraturan maintenance kendaraan itu sendiri. Aturan lampu merah dilanggar pasti ada tabrakan, aturan ganti oli gak diikuti pasti mesin mobil cepat rusak lah. Karena peraturan tsb dilanggar, ya otomatis mereka mendapatkan akibatnya. Mereka yang jadi korban kecelakaan adalah akibat ada manusia lain yang melanggar aturan, menteri perhubungan juga gak bisa apa-apa lah.
Banyak manusia hidup dalam kesusahan karena manusia2 lain melanggar berbagai aturan Tuhan. Pada dasarnya aturan yang ada dibuat dengan satu maksud, ada “roh” nya didalam setiap peraturan. Termasuk juga perda-perda yang terkesan diskriminatif, pada awalnya dasarnya baik. Hukum Taurat/Torah pun rohnya atau intinya adalah, Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap budimu dan dengan segenap akal budimu, dan Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Demikian lah Yesus, Nabi Isa, telah memberikan teladan dengan mengikuti seluruh aturan di hukum Taurat, bahkan karena begitu kasihNya bagi manusia Ia rela mengorbankan nyawaNya untuk kita orang yang masih (sering) berdosa ini.
Dari manusia jadul sampai sekarang, memang susah diatur, sangat menggemari kehendak bebas yang merupakan karunia terbesar Allah, malah menghancurkan nyawanya sendiri (juga orang lain) dengan melanggar berbagai aturan. Berbagai pembenaran dipakai untuk alasan melanggar aturan. Perda rokok dan miras yang diharapkan untuk menjaga kesehatan, dilanggar. Perda sampah dan ketertiban juga dilanggar. Aturan yang dibuat manusia saja dilanggar, apalagi aturan2 agama.
Demikian juga kalau si pembuat aturan, tidak mengacu pada peraturan-peraturan ‘dasar’ dan utama, akhirnya malah semakin ruwet. Jadi kalau saja semua orang memperbaiki relasinya dengan Allah, berbalik kepada Nya, maka tentu kita memahami cara membuat aturan dan mengikuti aturan-aturan yang ada, karena Allah telah lebih dulu mencintai kita dan menghendaki semuanya berakhir dengan happy ending……and then they lived happily ever after.

Bacaan : Matius 5,17-19

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. http://www.ekaristi.org/bible/images/px.gif






TTM : Tolong Terima kasih Maaf

26 02 2008

“Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?”

Jumlah kelompok koor lebih sering turun dari pada naik, baik jumlahnya yang terlibat maupun penyanyinya sendiri…pelan-pelan mrotoli dalam hitungan waktu. Demikian juga berbagai kelompok pelayanan yang lain seperti tatib, prodiakon, putra altar, termasuk kelompok kategorial legio maria, persekutuan doa dlsb. Kalau ditanya satu persatu anggotanya kenapa mundur alasannya seragam malas, sibuk dsb. Tapi kalau diselidiki lebih jauh rata-rata karena ada friksi, ada gesekan yang mengganjal dihati, banyak yang kecewa, dlsb. Segala hal yang tadinya sepele, pada akhirnya membuat mereka undur dari keterlibatan dalam karya untuk memuliakan Tuhan.

TTM Tolong Terima kasih dan Maaf sangat sering kita ajarkan kepada anak-anak, tapi berapa sering kita ucapkan pada teman-teman kita atau karyawan kita yang sehari-hari bersama kita dalam berkarya? Mungkin kita berpendapat “sudah layak dan sepantasnya” mereka melakukannya sebagai kewajiban. Tapi dari hal yang kecil ini justru sering terjadi friksi. Kita sering berpikir ” Take it for granted “. Sehingga kalau mereka terlambat atau salah sedikit dimarahi, disindir, ditegur. Naaah… mulailah keluar “homo homini lupus” nya Plautus, manusia adalah serigala bagi sesamanya. Pembalasan selalu lebih kejam. Persis cerita serial Ko Ping Ho, balas dendam menghabiskan waktu bertahun-tahun dari muda sampai tua, dari bapak turun ke anak. Sakit hati membuat raut muka jauh dari senyum. Lebih baik gak usah ketemu “dia” deh, daripada sakit hatiku diperlakukan begini. Lebih baik pindah gereja, pindah paroki, lebih baik gak usah latihan dan ketemu “orang itu”… Itulah awal perpecahan, dan awal kemunduran kita dari rahmat Allah. Read the rest of this entry »





Daftar panti-panti sosial

23 02 2008

Frens,

Sambil iseng bersihkan mail box di malam minggu, nemu daftar panti-panti-sosial1 yang layak dikunjungi. Siapa tahu di Masa Pra Paskah anda ingin berbagi dengan mereka yang tersisihkan, tanpa keluarga tapi bukan berarti terbuang. Masih ada orang-orang berhati mulia yang merangkul mereka. Beberapa kali saya sempat ngobrol dengan para suster dan bruder yang berkarya di beberapa panti, sungguh mereka memang perlu bantuan dan dukungan. Tidak hanya sekedar bantuan materi atau kunjungan biasa.

Anda yang telah merasakan sulitnya menangani anak-anak anda dari kecil sampai remaja, pasti akan salut dengan kesabaran dan ketabahan para pengurus panti ini, karena mereka dapat menangani puluhan anak-anak. Yang membuatnya semakin lebih kompleks adalah SEMUA anak mengalami/menderita luka batin yang parah. Ini  membuat karakter tiap anak di panti menjadi lebih sulit ditangani dibandingkan anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang lengkap. Anak-anak ini “tersisihkan” bahkan”ditolak” dari keluarganya sendiri sedari kecil. Bahkan pernah ada seorang anak yang sempat di ‘pungut’ tapi dikembalikan lagi ke panti beberapa bulan kemudian dengan alasan tidak cocok. Akibatnya bila ada tamu datang, anak ini begitu berharap dia akan diajak “pulang”… dan akhirnya harus kecewa lagi dan lagi…. ck ck ck… teganya… memangnya anak itu barang dagangan yang harus sesuai dengan “label”nya?

Jadi sempatkan lah ’sowan’ meluangkan waktu bersama para pengurus panti ini.
Mungkin ada juga panti asuhan di sekitar rumah anda atau yang sering anda lewati. Mampirlah sebentar dan rasakan bagaimana “aura” kasih yang ada disana dimana anak-anak merasa diterima dan merasa ’senasib’.

Hiburan perlu juga diberikan ditengah rutinitas, tapi pendampingan rohani yang rutin dan berkelanjutan sangat diperlukan karena anak-anak ini perlu dibantu mengatasi “luka batin”nya agar mereka bisa tumbuh jasmani dan rohaninya dengan sehat. Para suster dan bruder akan sangat senang untuk menyambut uluran tangan anda. Would you be the one?





Sindrom Anak Sulung

23 02 2008

“Bersukacita dan bergembiralah, karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali”
Semalam saat memimpin pertemuan lingkungan untuk membahas Kitab Suci masa Prapaskah, saya memecah menjadi kelompok sharing yang terdiri dari 4-5 orang. Karena kalau disuruh sharing didepan 30-an orang, gak satupun bersuara. Ternyata semua gak malu-malu untuk sharing pengalaman imannya. Ibu-ibu, bapak-bapak dan remaja masing-masing seakan berlomba cerita pengalamannya yang paling menyakitkan. Waktu yang disediakan pun terasa kurang untuk menjawab pertanyaan2 sharing. Enak juga kalau begini, gak usah repot-repot menyiapkan renungan. Kesimpulan yang saya tangkap: adanya konflik, sakit hati terjadi karena perlakuan antar anggota keluarga, pasangan, adik kakak, tetangga, justru bukan dengan orang yang gak kita kenal. Rata-rata kita mengharapkan orang lain/saudara/pasangan kita bertobat dan berubah sementara kita merasa sudah melakukan yang baik.

Perumpamaan ini termasuk yang kita hafal diluar kepala. Dari jadul, jaman dulu, dikenal dengan perumpamaan anak yang hilang, untuk mengajak kita bertobat dan kembali kepada Allah. Beberapa tahun lalu diganti ‘judul’nya menjadi Bapa yang baik, menegaskan sifat Allah yang sesungguhnya. Tapi sebenarnya yang disasar Yesus adalah…….

Read the rest of this entry »