Bertumbuh dan berbuah

30 01 2008
Yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah
Pohon mangga berbuah mangga, pohon duren buah nya juga duren. Aneh juga kalau ketemu pohon pepaya berbuah jeruk ? Kita juga sebel kalau bertahun-tahun menanam pohon apel tapi tidak pernah berbuah. Tebang aja lah ganti pohon yang lain.
Buah apa yang diharapkan dari kita, yang telah mendengar firman? kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, penguasaan diri. Pada akhirnya karakter Kristus lah yang seharusnya berbuah dalam kehidupan kita masing-masing.
Firman diharapkan berakar dalam kehidupan kita, menjadi tumpuan dan menjadi panutan dalam setiap pengambilan keputusan, baik keputusan kecil maupun yang sulit dalam bertahan menghadapi godaan Iblis yang bertubi-tubi.
Firman Tuhan membantu kita mengambil keputusan tepat saat terjadi penindasan dan penganiayaan, membuat kita tahan uji dalam menghadapi tipu daya kekayaan ditengah derasnya hedonisme disekitar kita.
Firman Tuhan mengingatkan kita untuk berkata tidak pada setiap keinginan hati, keangkuhan diri dan keserakahan.
Pertanyaannya mungkin: berapa sering kita membaca dan merenungkan Firman Tuhan agar bisa berakar? Berapa sering kita membahasnya bersama-sama pasangan dan anak-anak kita, agar mereka juga bisa mengambil keputusan yang tepat?
Saya kok berpendapat orang yang bisa menabur firman dengan baik bagi sekelilingnya, justru karena ia telah berbuah baik dalam kehidupannya. Sulit sekali menaburkan benih pepaya yang baik kalau tidak datang dari buah pepaya bangkok yang top. Mangga yang kecil-kecil dan asem, bijinya juga menghasilkan buah yang serupa, asem dan kecil-kecil.
Renungan hari ini mengajak kita untuk terus membaca, mendengarkan dan mengandalkan firman agar dalam menghadapi tiap tantangan kehidupan justru tidak lari dan menghindarinya. Tapi justru memaksa kita mengambil keputusan bijaksana agar berbuah kebajikan dan sekaligus TP Tebar Pesona kiri kanan. Menebarkan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Paling tidak pasangan dan keluarga kita juga melihat dan mengikuti kebiasaan2 baik yang kita lakukan.
Salam dari Pasuruan (ternyata panas juga disini)
==========================================================
Bacaan: Mrk 4:1-20
“Jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.” Lalu Ia berkata kepada mereka: “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.




My Father is My Hero

28 01 2008
Hanya ada satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga
Membangun relasi dengan Tuhan ternyata memerlukan proses yang panjang dan unik bagi setiap pribadi. Dulu saya menganggap Tuhan itu jauuuuh dan dibutuhkan suasana sakral untuk mempersiapkan perjumpaan dengan Nya. Kalau hati gak siap lebih baik gak usah deh. Tetapi sekarang rasanya saya tidak bisa kalau tidak berhubungan dengan Nya setiap saat.
Saat merenungkan bacaan hari ini mengingatkan saya saat-saat indah bersama almarhum bapak yang sakit parkinson dalam kesendirian di masa tuanya. Saya memutuskan pensiun dini sebagai wanita karir, agar memiliki waktu bersamanya di saat beliau masih bisa berkomunikasi. Bagi pernderita parkinson, mengobrol pun adalah kegiatan yang bisa melelahkan dan menguras tenaga. Kalau di Jakarta Bapak tidak kuat berjalan, dibutuhkan kursi roda untuk bergerak. Tapi anehnya kalau istirahat di Cipanas,dia cukup menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Suasana relax, tidak stress, ternyata membantu penderita parkinson menikmati hidupnya.
Kami sering menyepi di vila di cipanas ditengah minggu, meninggalkan kebisingan kota dan mendengarkan suara gemuruh air sungai dibelakang villa. Mengobrol, mungkin lebih tepat saya yang lebih banyak mendengarkan kisah nostalgianya, cerita hidupnya dan pengalamannya. Hobby nya menulis sempat terhenti beberapa tahun karena parkinson membuatnya sulit menggerakkan jarinya di tuts mesin tik. Tapi justru setelah ia bisa mengatur “stress” nya, bapak malah minta dibelikan komputer dan mulai memaksakan diri belajar MS Word dan internet diusianya menjelang 70 tahun.
Saat dia mengetik di komputernya, saya menemaninya dengan diam. Banyak tulisan dihasilkannya justru saat istirahat di vila. Pernah ia mengetik satu halaman sampai 7 kali dengan 7 bahasa yang dikuasainya, hanya agar sel otak dan memorinya tetap difungsikan di usianya yang lanjut.
Kami membicarakan berbagai hal mulai dari falsafah hidup, pengalamannya di seminari, cara melihat masalah dan memahami kondisi ekonomi, politik juga urusan usaha keluarga sampai membicarakan bagaimana mendampingi adik2 yang belum mandiri saat itu. Sering juga kami hanya duduk diam berdua menikmati semilir angin gunung, tetapi justru saat keheningan itu menumbuhkan kedekatan dan kehangatan diantara kami.Untuk saya inilah previllege sebagai anak sulung, yang tidak dimiliki adik2 saya. Ini adalah saat terbaik bersama bapak dalam seluruh kehidupan saya, yang menguatkan sebagai bekal saya sepeninggalnya bapak.
Hanya ada satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Sulit membayangkan ayat ini saat saya masih memiliki orang tua lengkap. Tetapi sekarang saya memang tidak ada pilihan lain, karena tidak ada lagi orangtua yang mendampingi. Ibu yang selalu menuntunku berdoa, telah berpulang enam tahun lalu. Bapak yang menjadi idola saya menyusul empat tahun kemudian. Tuntutan anak sulung, untuk menjadi panutan dan tumpuan saudara2 lain, membuat saya amat bergantung pada Bapa di surga.
Rasa kehilangan atas bapak-ibu, telah digantikan dengan suatu hubungan yang istimewa dengan Bapa. Saya bergantung lebih dari biasanya, Tuhan tidak lagi jauh tapi sungguh melekat dalam hati. Kalau waktu bapak masih ada,setiap hari harus bertemu, maka sekarang setiap waktu maunya ‘kontak’ terus dengan Bapa di surga. Bahkan untuk saya Yesus bukan hanya Mesias, tapi juga Kakak Sulung yang didambakan dari kecil. Waktu SD saya sering bertanya pada ibu, kenapa Tuhan menjadikan saya anak sulung perempuan, kenapa bukan laki2, kenapa saya tidak diberikan kakak laki2 agar bisa mengatasi 4 adikku laki2 yang nakal2 (waktu itu; sekarang ada 6). Ibu hanya tersenyum menjawab, Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk kamu. Now I know the answer.
Untuk saya Yesus bukan saja Pemimpin, tapi Ahli Manajemen, yang memimpin dalam usaha saya dan dalam setiap organisasi dimana saya terlibat. Ahli Keuangan, Ahli Bangunan, Ahli Moneter juga Ahli Hukum dan Politik tempat saya bertanya. Dan kalau Yesus yang di atas segala-galanya, The Master of Everything, telah merendahkan diri Nya, sengsara, wafat dan bangkit demi kita, maka teladan yang sama lah yang kita ikuti untuk mau merendahkan diri melayani keluarga, karyawan, pelanggan dan supplier bahkan bagi umat serta masyarakat yang Tuhan percayakan bagi kita.

==========================================================

Bacaan: Matius 23: 8-12

Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.