There is no IF

20 11 2007
Biasanya kita  mau menerima orang baru dalam lingkungan kita kalau dia baik, kalau dia kelihatan “selevel”, kalau dia setuju dengan pendapat kita dsb… Sometime what we call as “chemistry” Bahkan kadang kita juga keceplosan bilang ke orang2 yang kita sayangi, “kalau kamu anak mama, kamu pasti lakukan ini dan itu…” atau ” saya bisa memaafkan dia kalau saja dia mau berubah…” Injil hari ini merupakan tamparan bagi saya, Sorry to say , there is no IF…
Saya merenungkan Injil hari ini setelah Misa pagi tadi. Sungguh… Yesus lah yang menemukan kita terlebih dulu, Dia menerima kita persis seperti menerima Zakeus, tanpa syarat tanpa tedeng aling-aling. Baru setelah perjumpaan dengan Yesus, Zakeus mengalami pertobatan, perubahan yang pada akhirnya menyejukkan banyak orang.
Terimalah mereka atau dia atau siapapun apa adanya. Justru dengan demikian kita telah membuka diri kita terlebih dulu atas rahmat Tuhan, Tuhan bisa saja berkarya mengubah kan rekan kita (mungkin mengalami pertobatan) seperti Zakeus, setelah Dia mengubahkan kita terlebih dulu.
Semoga orang-orang yang mengalami perjumpaan dalam hidup kita juga mengalami pertobatan dan perbaikan hidup, asal kita mau menerima mereka dalam kehidupan kita… tanpa kecuali dan tanpa syarat. Sama seperti Dia telah menerima kita tanpa syarat kalau kita mau datang kepada Nya.
=============================================================Bacaan : Luk 19:5-10

Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini aku harus menumpang di rumahmu.” Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.” Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun Anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”




Bersyukur = Tahu berterimakasih

14 11 2007
Sebelum sampai ke kantor pagi ini, saya sempatkan mengantar hosti ke seorang oma setelah mengikuti Misa pagi. Oma yang juga teman ibu dan bude-bude, yang cukup lama  terbaring sakit karena kankernya.
Saat saya datang, sang oma tersenyum lemah ditempat tidurnya, berkata ” maaf ya Nana, tante sudah tidak bisa komuni ke Gereja lagi, jadi merepotkan kamu”.
Ketulusan sang oma meluluhkan hati saya, saat dia mengatakan ” suara mu persis sekali dengan almarhum ibu mu, saya masih inget kalau ibumu berdoa. Dulu ibumu mendoakan saya, sekarang kamu yang antarkan Tuhan untuk saya”. Saya katakan, tante sudah sering mengunjungi Yesus selama ini, dan kini saatnyalah Yesus mengunjungi tante.Suatu kehormatan bagi saya bisa mengantar Yesus untuk tante.
Renungan pagi ini meneguhkan kami berdua juga, kadang saat sakit kita ingat dokter dan bergegas mencari nya, begitu sembuh kita lupa untuk berterima kasih dan kembali pada sang dokter. Ah, kan memang tugas dokter menyembuhkan, demikian dalih kita. We just take it for granted.
Hari ini Yesus mengingatkan kita, justru ungkapan syukur kita lah yang menyelamatkan kehidupan kita. Tidak hanya datang pada Yesus pada saat kita butuh pertolongan saja, bersyukurlah pada Yesus untuk setiap kesempatan, untuk setiap perjumpaan, bahkan dalam sakitnya sang oma yang sudah bertahun-tahun dideritanya.
Karena disaat ada keprihatinan, pasti ada juga rahmat Tuhan disana. Paling tidak untuk saya, yang masih belum sempurna begini kok ya diberi kepercayaan mengantarkan Tubuh Tuhan bagi seorang oma yang  tidak berdaya di hari tuanya.
Marilah kita saling memperhatikan kiri dan kanan kita, mungkin sapaan dan senyuman kita dapat menyejukkan hatinya.
Bacaan
Lukas 17,11-19
Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain daripada orang asing ini?” Lalu ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”