Konflik

13 07 2009

Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.. – Mat 10:34

Ayah saya agak ‘ribut’ mendengar saya mengambil Kursus Kitab Suci. Ditambah dengan kegiatan atau acara rohani yang saya ikuti. “Jangan terlalu rohani-lah! Ikuti komunitas musik, olahraga atau apalah. Jangan melulu seputar gereja dan terlalu berkomitmen. Biasa sajalah!”

Saya bertanya-tanya dalam hati, apa yang salah? Saya merasakan karena melalui kegiatan rohani itu iman dan kepekaan (discernment) saya menjadi lebih terasah. Sungguh menguatkan. Penyeimbang dari aktivitas pekerjaan saya. Kadang saya bertanya-tanya, apakah sikap saya ini salah. Read the rest of this entry »





Pewarta Kabar Baik

12 07 2009

Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju.

Siapa yang tidak kenal Kaka, pemain bola papan atas kelahiran Brasil setingkat Diego Maradona. Dia dikenal suka memakai Christian gear dari dulu: dia sering memakai T-shirt dengan tulisan I Belong to Jesus dalam beberapa pertandingan, seperti saat perayaan kemenangan Brasil di Piala Dunia 2002, dan perayaan Scudetto Milan pada Mei 2004. Dia menggunakan sepatu yang ditambah dengan tulisan “God is faithful” pada lidah sepatu Adidasnya.

Tiap kali ia mencetak gol dia menunjuk dengan jari-jarinya ke langit sebagai tanda terima kasihnya kepada Tuhan dan mungkin ini yang pertama bagi seorang pesepak bola yang di levelnya: Dia bangga bahwa dia masih virgin ketika dia menikah. Anda perlu tahu bahwa tidak seperti kebanyakan pemain bola lainnya, minuman yang disukai Kakà hanyalah air putih dimana kebanyakan pesepak bola lainnya lebih suka menenggak minuman-minuman keras sambil berpesta di bar. Read the rest of this entry »





Seribu Alasan

11 07 2009

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan
mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. – Mat 10:32

Di dalam diri setiap kita pasti ada keinginan untuk mewartakan Injil. Apalagi saat kita merasa Tuhan begitu dekat, rasanya tantangan apa pun sanggup kita hadapi. Tetapi nyatanya, saat saya berhadapan dengan orang, rasanya semua keberanian saya terbang. Setiap saat saya harus bergumul dan berdebat untuk mengatakan pada Tuhan, “Ini bukan saat yang tepat, Tuhan ja-ngan orang ini, kasih saya ketemu orang yang lain saja”, atau “Tuhan, jangan di sini, tempatnya ramai jadi susah omongnya. Tuhan, saya janji lain kali deh.”
Kalau bertemu orang yang tak dikenal, alasannya tidak bisa karena mesti bangun persahabatan dulu (karena kami diajar metode “friendship evangelisation”). Tapi kalau sudah dekat atau dengan teman lama, kita bilang seorang nabi biasanya tidak dite-rima di tempatnya sendiri, jadi mesti orang lain yang lakukan.
Ketika masih di Indonesia, saya merasa takut dengan situasi karena kita minoritas dan saya berpikir kalau di luar negeri yang bebas mungkin akan lebih mudah. Saat punya kesempatan untuk tinggal di luar, saya merasa susah karena orang-orang umumnya cuek dan saya sudah kalah duluan karena merasa minder dengan bahasa Inggris, dan saya jadi berpikir kalau di Indonesia akan lebih mudah bagi saya.
Saya membayangkan Tuhan hanya tersenyum mendengarkan alasan-alasan saya dan berkata, “AnakKu, apakah yang ada di hatimu? Apakah engkau takut menjadi temanKu ataukah engkau malu? Aku tidak takut dan tidak malu memanggul salib demi engkau dan semua manusia.” (Bahasa Kasih – Pt)

Apakah saya sering takut atau ragu mewartakan nama Tuhan Yesus?





Ular dan Merpati

10 07 2009

Kej 46:1-7,28-30
Mzm 37:3-4,18-19,27-28,39-40
Mat 10:16-23

Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.- Mat 10:16

Injil kali ini mengambil ikon “ular” dan “merpati”. Saya bingung kenapa Tuhan mengatakan ular itu cerdik, padahal lebih tepatnya ular terkenal licik. Mulai dari Kitab Kejadian digambarkan kelicikan ular yang menjadi simbol iblis, si penggoda dan penyesat. Dan saya juga agak bingung dengan kata-kata, tulus seperti merpati. Mengapa dikatakan merpati itu tulus? Apakah karena warnanya? Bahkan merpati seringkali digunakan sebagai lambang perdamaian dan kekudusan. Padahal merpati banyak yang berwarna coklat atau abu-abu.

Suatu ketika saya menonton Planet Animal, ternyata ular memiliki indra perasa yang sangat sensitif terhadap perubahan iklim. Dengan sentuhan kulitnya di tanah, dia dapat merasakan getaran apabila ada musuh yang lewat dan dengan segera mencari tempat yang aman. Saya merasa bahwa yang dimaksud Tuhan agar cerdik seperti ular adalah seperti itu. Agar kita mampu dan peka terhadap sesuatu, menghindar segala godaan dan musuh agar tidak terjadi perselisihan.

Lantas bagaimana dengan merpati? Salah satu sifat merpati adalah dia selalu menghafal tempat-tempat yang dilewati sehingga selalu ingat jalan kembali. Itulah sebabnya orang memakai burung merpati sebagai merpati pos. Dengan simbol ini Tuhan ingin mengingatkan kita, saat kita jauh dan tersesat, kita selalu tahu jalan untuk kembali.

Permasalahannya cuma satu, apakah kita mau kembali dengan tulus atau terus berjalan sendiri sehingga semakin tersesat. (Bahasa Kasih – Ch)





Saat Memberi, Saat Menerima

9 07 2009

Saat engkau meneguhkan hati sahabatmu yang berada dalam ketakutan, sebenarnya engkau pun sedang menerima ketakutannya. Saat ketakutannya engkau terima, saat itulah juga, engkau mengganti ketakutannya dengan keberanianmu.

Saat isterimu mengandung anakmu, isterimu memberi makan janin itu lewat tali pusar dalam rahimnya; selama dalam kandungannya itulah, sebagai suami isteri, kalian sebenarnya menerima seorang manusia yang sudah pasrah total untuk diperlakukan apapun juga: mau serius dicintai, dirawat ataupun tidak! Itulah caranya seorang bayi dalam kandungan ibunya mencintai ibu dan ayahnya, bukan dengan memberi tapi menerima apapun perlakuan orang tuanya.

Saat engkau memberikan uang belanja kepada isterimu, saat itu jugalah engkau sebenarnya menerima kerendahan hati isterimu untuk diberi nafkah hidup. Read the rest of this entry »





Integritas

8 07 2009

Yesus memanggil kedua belas muridNya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat”

Roh-roh jahat menggejala dalam berbagai bentuk tindakan amoral seperti “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya”(Gal 5:19-21). Yesus mengutus para rasul untuk mengusir roh-roh jahat tersebut, dan kiranya sebagai umat beriman kita semua juga memiliki tugas pengutusan tersebut di dalam kehidupan dan kerja kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Perilaku amoral tersebut mungkin terjadi di lingkungan hidup dan kerja kita, di dalam keluarga, masyarakat atau tempat kerja, atau mungkin juga sering kita lakukan sendiri secara diam-diam.

“Kerajaan Sorga sudah dekat”, demikian sabda Yesus, yang berarti Allah hidup dan berkarya di sekitar kita, di lingkungan hidup kita. Maka ketika kita bertindak amoral secara diam-diam alias tidak diketahui dan dilihat oleh saudara-saudari kita, Allah tetap melihat apa yang kita lakukan. Kita akan berani mengusir roh jahat yang hidup dan berkarya dalam diri saudara-saudari kita jika kita sendiri telah berhasil mengusir roh jahat yang bercokol di hati kita masing-masing. Read the rest of this entry »